Rabu, 11 April 2012

Ujian wis meh dilakoni dening para siswa. Siswa SD nganti SMA/SMK wis kudu miwiti priatin amrih kasembadan lulus paripurna anggene nglakoni ujian. Ujian iku lumrah dilakoni, ya mawi ujian kuwi bisa kelakon lan angsal winih kang apik lan"berkualitas".
Ujian iku lumrah, dadi aja ngresula wae. Sing wigati...ayo padha ujian kanthi tenanan, aja nyontho, aja gelem percaya marang tumindak culika, licik lan ora pakra.

OASE ALAM

Bencana kini melanda Aceh dan pulau Sumatra. Di saat usai Pemilukada Aceh, ternyata alam menyapa dan membuat kaget masyarakat Aceh dan sekitarnya. Jika kita baca, dan renungkan alam pun menyapa dan ikut bereaksi, apalagi masyarakat yang nyata berperan dalam kehidupannya. Bencana tak bisa dipungkiri dan tak bisa dibendung, karena kuasa alam yang menggerakkan adalah Allah Swt.
Sebagai masayarkat dan manusia, kita berusaha agar selamat dari bencana. Dengan ikhtiar dan sabar menghadapi ujian berupa bencana, maka semua akan menjadi bagian dari ujian kesabaran kita. Indonesia menjadi bagian yang tak luput dari bencana.
Seakan negara kita langganan bencana yang menjadi keprihatinan dunia. Kondisi pluralisme dan kepulauan, menjadikan negara kita rawan bencana. Kesadaran kita sebagai manusia penghuni bumi ini, sebaiknya menjadikan bencana sebagai ujian dan seleksi kesabaran kita.
Nah, gempa 8,5 SR ini menjadi bukti bahwa kekuatan alam sangat dasyata. Masyarakat dan anak-anak khususnya, tentu saja trauma dan ingin selamat. Keselamatan itu mutlak, dibanding harta benda yang berjibun. Sebaiknya, semua turut memperhatikan perubahan-perubahan alam itu, agar bisa mengantisipasinya.Salam

Satleraman

Srawung iku wigati tumraping manungsa yekt. Sejatine srawung iku menehi ati lerem, ati jembar, kebak pamawas. Akeh manungsa kang ora bisa srawung amarga lingsem, dumeh, sombong lan liyane. Kebak pangarep-arep, menawa isih ana wong kang gelem srawung. Sarjoning srawung kudu gelem tepa slira marang liyan, ora kena dumeh.
Para pejabat ora kena dumeh, sing rakyat papa sudra uga ora kena sambat lan ngresula, apa maneh dumeh lan jumawah. Sing penting saiki, kang ningrat lan kang sudra padha cancut tali wanda, amemangun karyenaktyasing sasami.
Saiki wis dadi lumrahe yen manungsa kudu gelem srawung. Apa maneh "srawun" mring Gusti kang Maha Agung. Wong saiki mung ngegungake watak ugal-ugalan, ora predhuli marang liyan, wusanane ya anane mung padudon, ora predhuli, lan "egois".
Iki kang dadi dhudutane rembug lan sauger amung ngudarasa, maca kahanan saiki kang wus kumitir.

Selasa, 10 April 2012

Bahasa Jawa' " Sekarat"

PErda Bahasa Jawa di Jawa Tengah sedang dogodok anggota dewan sekita 90 persen konon penyelesaiannya. Nah, bahasa jawa akan memiliki payung hukum kuat, namun ada saja pihak yang menganggap biasa-biasa saja, tak ada yang luar biasa dari perda itu.
Keberadaan perda sekadar payung hukum, hanya saja pelaksanaan di lapangan perlu dokontrol. Masih banyak sekolah-sekolah yang mengajarkan bahasa jawa hanya 1 jam perminggu. Ironis kan?
BAhasa jawa kian ditinggalkan generasi muda jawa. Padahal penutur jawa tersebar di seluruh nusantara bahkan banyak yang di luar negeri. Kondisi ini tentu akan menyuburkan bahasa jawa.Hanya saja, kemauan besar itu, dihantam badai globalisasi dan hedonisme, sehingga bahasa jawa sekadar mimpi bila akan tetap eksis.

Rabu, 04 April 2012

ARTIKEL

NASKAH FEATURE

Meraih Berkah dengan Bank Sampah
Oleh. Tukijo

Pengelolaan sampah menjadi persoalan pelik. Bahkan di beberapa daerah kewalahan, sampai-sampai Perda tentang sampah pun tidak mampu lagi menyadarkan masyarkat. Bukan tanpa sebab,inti permasalahan terletak pada kesadaran dan mindset masyarakatnya. Jujur, masyarakat kita masih memandang bahwa sampah itu sesuatu yang kotor, menjijikkan dan tidak berguna sehingga sampah dibuang begitu saja. Pola pikir demikian sangat menghambat pengelolaan sampah di negara kita. Sampah menjadi salah satu sebab munculnya beragam penyakit dan permasalahan lingkungan. Kini saatnya menumbuhkan cleaner technology dengan membangun bank sampah. Lalu menjadikan sampah sebagai kebutuhan, bukan musuh.
Kesadaran masyarakat kita terhadap sampah masih kurang. Anggapan masyarakat bahwa sampah setelah dibuang menjadi tugas pemerintah untuk mengurusnya. Ini yang keliru dari sikap masyarakat kita. Sampah yang kita hasilkan setiap hari menjadi tanggungjawab bersama. Di Jepang sampah menjadi barang mahal dan bernilai ekonomis. Bayangkan saja, Jepang dengan kemajuan teknologinya mampu menyulap sampah menjadi produk baru yang siap dipasarkan. Hal itu, tidak lepas dari regulasi pemerintah Jepang yang tegas dan tumbuhnya kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah.
Sampah yang selama ini kita hasilkan, masih belum bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Tingkat pemahaman baru sebatas reduse( mengurangi), reuce( memakai ulang) dan recycling(daur ulang). Langkah tersebut kini perlu ditambah dengan rethink(memikirkan),dan recovery (memperbaiki). Meskipun saat ini sudah mampu memanfaatkan sampah namun baru jenis organik yang diolah menjadi pupuk organik. Pupuk organik ini bisa dimanfaatkan untuk memupuk tanaman atau bahkan dijual dalam kemasan.
Di Semarang misalnya, permasalahan sampah masih menjadi kendala serius selain permasalahan rob. Meskipun saat ini sudah dibangun TPA Jatibarang namun belum maksimal. Kita ketahui di Semarang setiap hari terkumpul sampah sekitar 4.725 m3, namun dengan 400 truk sampah belum sepenuhnya bisa terangkut, masih ada sekitar 568 m3. Dengan kondisi kota Semarang yang padat penduduknya, bisa saja Semarang kelak akan “terkubur” sampah.
Melihat permasalahan tersebut, pemerintah perlu melakukan langkah-langkah preventif dengan alternatif-alternatif praktis ekonomis sehingga masyarakat memiliki kesadaran mengelola sampah dengan baik. Selama ini pengolahan sampah organik sudah bisa dilakukan masyarakat. Hanya saja jenis sampah anorganik masih belum bisa maksimal. Jika ada, itu pun masih sebatas pemulung yang memungutnya lalu dikumpulkan dan dijual.
Budaya tanggungjawab mengelola sampah belum menjadi karakter masyarakat. Salah satu cara yang bisa diterapkan yaitu dengan mendirikan bank sampah. Bank sampah menjadi salah satu strategi penyadaran masyarakat untuk memanfaatkan sampah, menjadi berkah berlimpah. Siapa sanggup?
Berkah Bank Sampah
Bank sampah yang dimaksud yakni mengelola secara mandiri sampah untuk didaur ulang. Sampah yang dimaksud yaitu sampah plastik, botol, kertas, dan kaleng minuman ringan. Sampah ini akan diubah menjadi barang setengah jadi, yang nantinya akan dijual ke industri. Jadi, layaknya bank nasabah setiap hari bisa menyetorkan sampah. Nasabah mendapatkan rekening bank sampah seperti pada umumnya. Inilah, berkah yang bisa dipetik dari sampah.
Mungkin ada yang berpikiran negatif bahwa dengan bank sampah masyarakat akan menjadi pemulung, namun kita coba hitung ulang. Misalnya saja di Semarang diterapkan di sekolah-sekolah, maka sampah yang saban harinya menggunung bisa berkurang. Adanya bank sampah sekolah, memiliki keunggulan yaitu menjaga kebersihan dan menciptakan pelajar yang berwawasan lingkungan. Kita asumsikan di Semarang ada 42 SMP negeri. Kita ambil contoh di SMP Negeri 17 Semarang saja ada 750 siswa. Jika pada hari Senin setiap siswa diwajibkan membawa 1 plastik bekas minuman, maka akan ada 750 botol dengan berat 1, 261 kg dan harga Rp. 2.500 /kg. Sehingga total pendapatan SMP 17 Semarang pada hari Senin adalah Rp. 2,4 juta. Angka yang luar biasa bukan? Itu baru satu hari, kita coba kalkulasikan per bulannya bisa mendapatkan dana berapa banyak?
Sampah plastik bekas bungkus kopi instan akan dihargai Rp 10 per lembar, plastik mie instan Rp 40 per lembar, sementara untuk koran bekas dihargai Rp. 1.400 per kilogram. Hasil perhitungan harga sampah disetorkan para nasabah dan dicatat di buku tabungan lalu bisa “dicairkan” sewaktu-waktu. Langkah ini, bisa dilakukan siapapun, bukan hanya orangtua namun juga anak-anak.
Bagi nasabah tetap yang rutin menyetorkan sampah yang sudah dipilah, bisa memiliki rekening dengan sistem bagi hasil. Artinya tidak menggunakan sistem bunga karena yang ditabung sampah. Kemudian setelah 2 hingga 3 bulan bisa diuangkan. Dengan demikian, sangat mudah mendapatkan berkah dari sampah. Asalkan kita mau dan ulet mengelolanya.
Sampah yang dianggap kotor, ternyata menyimpan jutaan rupiah yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Bank sampah bisa dikembangkan bukan saja di sekolah-sekolah, namun seluruh warga di Kota Semarang. Paling tidak di tiap-tiap kelurahan ada 1 bank sampah untuk mewadahi sampah. Bank sampah di Semarang yang sedang dirintis antara lain di Kelurahan Krobokan, Kelurahan Gondoriyo Ngaliyan, Gayamsari, Muktiharjo Kidul, Pedurungan lor dan Sampangan.
Kembali pada konsep bank sampah sekolah di Semarang, paling tidak akan membantu mengurangi volume sampah yang harus ditangani Dinas kebersihan setiap harinya. Ujung-ujungnya, lingkungan akan bersih dan sehat. Mengingat slogan “Jagalah kebersihan” dan “Buang sampah pada tempatnya” tidak mampu lagi menyadarkan masyarakat. Masyarakat perlu disadarkan melalui kegiatan ekonomi kreatif dengan sistem bank sampah(anorganik) dan mengolah sampah(organik).
“Pengelolaan sampah itu penting untuk diperhatikan masyarakat, apalagi masalah sampah di Kota Semarang tiap tahunnya naik 10%. Dengan memanfaatkan bank sampah tidak hanya membantu menciptakan lingkungan bersih, tetapi juga meningkatkan pendapatan,”ungkap Ika Yudha selaku Direktur Bank Sampah Recik Becik, Krobokan.
Selanjutnya, pemerintah kota perlu menegaskan dan menyusun regulasi semacam peraturan daerah (perda) pendirian bank-bank sampah. Bahkan yang lebih spesifik, perlunya regulasi agar sekolah-sekolah mendirikan bank sampah. Kita coba mulai dari pribadi, lingkungan keluarga, lalu sekolah kemudian masyarakat. Jika di setiap sekolah ada bank sampah, maka siswa setiap hari bisa membawa sampah dari rumah untuk ditabung.
Sebenarnya bukan pekerjaan berat jika harus mengurus sampah dengan sistem bank sampah. Namun, yang perlu disiapkan yaitu peraturan daerah, koneksitas dengan perusahaan(swasta), lalu tenaga yang menanganinya. Bukan semata pada kekuatan modal(uang) karena dengan bank sampah justru akan menghasilkan uang. Berani coba?
Sampah masih saja dipandang sebelah mata. Kondisi perkotaan sangat memungkinkan produksi sampah cukup banyak, termasuk di Semarang. Sebuah fakta yang tak bisa dielakkan. Maka sekolah sebagai sarana umum menjadi bidikan pertama pendirian bank sampah. Dengan mengambil contoh di sekolah, maka sangat memungkinkan pihak sekolah berperan dalam upaya mengatasi masalah sampah. Karena sekolah disinyalir menjadi salah satu donator penghasil sampah, setelah rumah tangga, pabrik, rumah sakit dan sarana umum lainnya.
Bank sampah di sekolah bisa ditangani siswa melalui OSIS, serta pendampingan guru. Ini menjadi bukti kepedulian warga sekolah terhadap sampah. Di sisi lain, siswa bisa memiliki kepekaan terhadap lingkungan hidup. Misi ini harus dikembangkan pada ranah lain, sehingga sampah akan memberikan manfaat bagi kehidupan serta kelangsungan lingkungan hidup.
Siswa diajarkan memilih dan memilah sampah lalu disetorkan ke bank sampah. Petugas atau teller bank sampah bisa secara bergantian menangani nasabah. Para nasabah dibuatkan kartu rekening tanda bukti setoran sampah setiap minggu atau setiap hari. Mudah kan mengajarkan bank sampah?Cobalah saat ini jangan menunggu esok hari, karena hari esok adalah harapan generasi kita.
Bank sampah menjadi lahan bisnis baru jika ditekuni. Lebih bijak lagi, jika kita mendirikan bank sampah bukan semata untuk mendapatkan uang. Namun, sebenarnya untuk membantu mengatasi sampah yang acap kali memunculkan masalah baru berkaitan dengan lingkungan hidup. Keberadaan sampah di sekitar kita, mustahil dihilangkan. Namun, dengan bank sampah tersebut bisa mengurangi volume sampah dan menumbuhkan karakter hidup bersih demi kelestarian lingkungan. Mari, kita awali dari diri kita sehingga sampah akan menjadi kebutuhan bukan musuh bebuyutan.

Jumat, 16 Maret 2012

ARTIKEL

Mendukung SAR Goes to School

SAR Goes to school?Gebrakan pemerintah kali ini dalam upaya menghadapi berbagai bencana khususnya bencana banjir pantas direspon. Pasalnya, secara empiris, bencana kerap terjadi bahkan ada daerah yang menjadi langganan banjir. Kadang kita sering kecolongan, antara bencana dengan tindakan tidak sinkron. Sehingga, gerakan SAR goes to school yang kali ini didengungkan pemerintah perlu ditindak lanjuti oleh sekolah-sekolah.
Bencana lama kerap mengorbankan saran sekolah, maka siswalah yang menjadi korban. Korban dalam arti sekolah diliburkan otomatis pembelajaran tidak berjalan. Belum lagi jika ruang kelas roboh maka nyaris siswa yang pasti menjadi korban. Idealnya, SAR goes to school menjadi mitra sekolah dalam mengantisipasi bencana. Selain SAR , juga ada tim Tagana yang sewaktu-watu siap membantu evakuasi bencana alam. Hanya saja, jika program SAR goes to school ditindaklanjuti sekolah, maka berarti sekolah memiliki beberapa keuntungan, antara lain pertama sekolah bisa memiliki tim penanggulangan bencana yang anggotanya siswa dibantu tim SAR. SAR goes to school memiliki urgensi yang tepat bagi sekolah untuk memudahkan koordinasi penganggulangan bencana.
Kedua, sekolah secara tidak langsung menanamkan gerakan sadar lingkungan dan tanggap bencana kepada warga sekolah, khususnya para siswa. Siswa menjadi subjek dan objek pendidikan lingkungan yang diasumsikan masih mudah diarahkan dan dibimbing. Adanya SAR goes to school menjadi terobosan dan langkah teknis pemerintah dalam melibatkan satuan pendidikan. Program ini, ditekankan pada partisipasi aktif sekolah pada upaya penanggulangan bencana. Tiap musim hujan, misalnya daerah-daerah tertentu kerap dilanda bencana. Jika kondisi siswa dan warga sekolah tidak siap, maka jika bencana melanda bisa membuat kalang kabut warga, termasuk siswa dan pemerintah. Pemerintah mengalokasikan anggaran tanggap darurat bencana yang besarannya lumayan. Hanya kendala selama ini laporan penggunaannya belum transparan.
Kondisi kemampuan keterampilan manajemen keuangan bencana dan teknis pertolongan evakuasi perlu diberikan kepada siswa sejak dini. Siswa perlu memperoleh wawasan dan teknik tanggap bencana. Maka melalui SAR goes to school diharapkan siswa bisa mendapatkan pengalaman empirik yang tentu bisa mendukung kemampuan mereka dalam menghadapi bencana alam. Siswa bisa melakukan aksi-aksi nyata pertolongan dan proses evakuasi korban bencana.
Program SAR goes to school mungkin program baru, sehingga masyarakat belum memahaminya. Namun, esensi perlu ditangkap sebagai peluang bagi sekolah. Bahkan konsekuensi dari program ini, pemerintah bukan sekadar memberikan pelatihan saja, namun bisa pula membantu dalam dana tanggap darurat khusus sekolah, dan peralatan misalnya mobil evakuasi, makanan, dan peralatan tanggap bencana lainnya. Gerakan SAR goes to school menjadi program nyata pemerintah yang perlu dilaksanakan setiap sekolah, khususnya sekolah yang berada pada zona bencana.
SAR goes to school sebaiknya dilaksanakan pada, pertama komitmen yang dibuktikan melalui MoU antara sekolah, SAR dan Pemerintah. Kerja sama ini dibuktikan dengan keseriusan pelaksanaan latihan rutin tanggap darurat di sekolah. Kedua program kerja yang jelas untuk dijabarkan dan disesuaikan dengan program atau rencana aksi sekolah(RAS). Meskipun bersifat tanggap darurat namun perlu disusun rencana aksi sekolah. Melalui rencana tersebut, arah dan kebijakan serta target tujuan bisa diketahui public. Sekolah menjadi lebih leluasa dan bisa memberikan pertanggungjawaban secara transparan jika berkaitan dengan anggaran.
Sekali lagi, pelaksanaan SAR goes to school menjadi pioneer supaya siswa memiliki kemampuan teknik dasar yang dilakukan untuk menghadapi bencana. Misalnya untuk wilayah yang sering terkena bencana banjir, maka sekolah bisa melakukan pelatihan dengan dibantu tim SAR mengenai teknik penyelamatan korban dan latihan evakuasi korban bencana.
Rencana SAR goes to school menjadi kebijakan yang patut diapresiasi khususnya pihak sekolah. Sekolah bisa memperoleh deskripsi dan pelatihan tanggap bencana. Bukankah selama ini, sekolah sering menjadi korban bencana?Tidak salah jika pemerintah melakukan terobosan ini. Paling tidak bisa menjadi batu loncatan sekolah agar tanggap terhadap bencana. Lebih tepatnya siswa bisa mendapatkan ilmu dan training tanggap bencana. Baik pencegahan (preventif) maupun penanganan darurat bencana.
Program SAR goes to school, bisa dijadikan pilar-pilar penyelamatan bencana. Pilar pertama yaitu edukasi bagi siswa dan guru. Pendidikan yang diberikan bersifat short courses yang bisa diikuti oleh siswa dan guru pembimbing. Pada tataran ini siswa bisa saja melakukan langkah-langkah yang disesuaikan dengan prosedur tetap tanggap bencana. Ini strategi yang bisa diterapkan jika sekolah mengalami bencana atau antisipasi bencana.Pilar kedua, program ini bisa sjaa bersifat komprehensif, yang menyentuh semua stakeholder pendidikan, sampai level sekolah bahkan kelas. Sekolah bisa membentuk community kecil untuk efektifitas training tanggap bencana. Dari segi kemauan, aspek kemampuan fisik dan kejiwaan, serta dukungan orangtua, sangat membantu program SAR goes to school. Jadi, tanggap bencana menjadi tanggungjawab bersama. Tugas guru yaitu memberikan pemahaman arti pentingnya SAR dan pendidikan peduli lingkungan.
Jangan sampai bencana dating, siswa yang menjadi korban. Upaya sigap sekolah dan masyarakat perlu ditingkatkan. Dengan adanya SAR goes to school bisa menjadi pola kemitraan upaya tanggap bencana.Belum lagi jika dibantu oleh tim TAGANA. Selain itu, program ini bisa dikolaborasikan dengan ekstrakurikuler PMR atau pramuka. Peran dari ekstrakurikuler sangat membantu sekolah dalam menghadapi bencana.
Bagi pihak guru, bisa melakukan langkah-langkah cerdas, yaitu memompa semangat berkorban pada anak didiknya. Selain itu juga mendidik jiwa peduli lingkungan. Kita sadari bahwa kondisi bumi kita sudah rapuh. Jika sekolah-sekolah di Indonesia aktif dalam upaya pelestarian lingkungan, bumi bisa diselamatkan.
Sekolah perlu menjalin kemitraan lain, untuk merealisasikan peduli lingkungan, misalnya bergabung dengan community go green yang sedang didengungkan. Penyelamatan bumi dari bencana alam, menjadi tanggungjawab bersama. Sehingga peran sekolah bisa menjadi kantung-kantong tanggap bencana. Tak kalah penting, sekolah membangun pola kemitraan dengan pihak kedua, supaya upaya tanggap bencana bisa dilakukan.
Tak kalah penting, manfaat bagi sekolah yaitu pembelajaran manajerial bagi guru dan siswa. Manajerial system tanggap darurat dan system manajemen informasi.

PIDATO

TEKS PIDATO BAHASA JAWA

Assalamu’alaikum wr.wb.
Nuwun kula nuwun
Mahardikeng tyas ring kamardhikan
Nugraha miwah sih wilasaning Gusti Ingkang Maha Wikan
Muga sanintyasa cumandha ing jiwangga kitha swagotra
Waradin sagunging dumadi
Niskala widodo satuhu

Para dewan juri ingkang satuhu kinurmatan
Dumateng para peserta patembayan ingkang kula tresnani
Sumangga ingkang sepisan kula panjenengan sedaya tansah ngaturaken syukur dumateng Allah SWT Gusti ingkang Maha Kuwaos, dene kula panjenengan sedaya tansah pinaringan kasarasan saha kawilujengan sumrambah sedayanipun.
Ing kalodhangan menika keparenga kula badhe matur babagan upados kangge nyegah wontenipun bena saha rob ing laladan Semarang. Perkawis menika minangka salah satunggaling sapta program pamarentah kitha Semarang samangke ingkang kedah dipunsengkuyung dening warga sakitha Semarang.
Kita sedaya asring miring tembung : Semarang kaline banjir, aja sumelang yen rak dipikir….Tembung saha tembang menika kados-kados jumbuh kaliyan kawontenan kitha Semarang samangke ingkang asring kenging rob saha bena. Rob saged ndadosaken kawontenan sarana umum risak. Kados to margi, peken, rel sepur, lan sanesipun.
Rob ingkang kedadosan wonten kitha Semarang amarga toya seganten. Dene bena menika kedadosan saking toya jawah ing asring sanget wonten Semarang. Semarang menika kawentar laladan ingkang asring kenging rob saha bena.
Jumbuh kaliyan Sapta Program pamarentah kitha Semarang samangke, pamarentah nggadhahi tekad supados angsal piala Adipura malih. Mila, sedaya warga Semarang kedah nyengkuyung wontenipun program menika. Mliginipun ing babagan karesikan, rob saha bena ingkang asring kedadosan.


Para rawuh ingkang kula urmati,
Kangge nyegah kedadosan bena umpaminipun saged dipuntindakaken normalisasi lepen. Ningali lepen-lepen ing laladan Semarang samangke kawontanipun kirang resik. Mila toya jawah boten saged mili kanthi lancer. Mila kedah dipunnormalisasi lepen.
Ing babagan rob, saged mawi nanem bakau kangge nyegah abrasi, margi boten kedah dipunaspal sedaya, nanging saged mawi paving kemawon. Supados toya jawah saged rumesep. Kajawi mekaten, saged ugi para siswa paring pangertosan dumateng warga babagan tata caranipun nyegah rob, bebaya bena lan sanesipun. Kanthi cara-cara mekaten, mugya kitha Semarang boten kenging rob saha bena malih.
Para rawuh,
Toya menika boten namung saged nuwuhake bebaya tumrap kita, nanging toya saged dados aset wisata ing kitha Semarang. Umpaminipun, wontenipun lepen-lepen menika menawi dipunresiki saged kangge sarana transportasi alternative kados ing negari manca. Samangke lepen-lepen ing Semarang taksih katingal reged, kathah larahan ing pundi kemawon.
Rob samangke taksih asring kedadosan ing Semarang, mliginipun ing Semarang ngandhap. Mila menawi dipuntingali, griya-griya ing Semarang ngandhap sansaya inggil. Griya inggil menika supados boten kenging rob ingkang asring kedadosan. Rob saged ngrisak sarana umum sanesipun. Sinaosa, ing Semarang badhe wonten wadhuk Jatibarang, nanging samangke dereng dados. Ancasipun wadhuk menika saged ngirangi toya ing Semarang. Amargi toya rob menika uga ngrisak wewangunan kina (Kawasan Kota Lama) ing Semarang. Gedhung-gedhung kina menika ambruk awit kenging rob. Samangke pamarentah taksih pados tata cara supados rob boten kedadosan malih.
Para rawuh,
Sepisan malih bab rob saha bena menika dados tanggel jawab kita sedaya minangka warga Semarang. Mila mangga nyengkuyung program Semarang bebas rob saha bebas bena menika. Kajawi mekaten, mangga minangka siswa kedah saged paring pangertosan dumateng warga ngengingi bebaya saka rob saja bena. Ugi tansah njagi karesikan lingkungan amrih sedayanipun gilar-gilar. Kangge mujudaken Semarang Setara kaliyan kitha metropolitan sanesipun.
Wusana, mekaten ingkang saged kula aturaken. Menawi kathah lepatipun atur saha kiranging subasita. Kula nyuwun agenging pangaksami.
Wonten tembang menika :….( TEMBANG PRAU LAYAR

Nuwun,
Wassalamu’alaikum wr.wb.
















Para rawuh ingkang kinurmatan,
Mekaten ingkang saged kula aturaken. Mbok menawi kathat lepatipun atur kula saha kiranging suba sita tuwin tata karma, kula nyuwun agenging pangaksami.Nuwun.
Jaya wijayanti,