Jumat, 16 Maret 2012

ARTIKEL

Mendukung SAR Goes to School

SAR Goes to school?Gebrakan pemerintah kali ini dalam upaya menghadapi berbagai bencana khususnya bencana banjir pantas direspon. Pasalnya, secara empiris, bencana kerap terjadi bahkan ada daerah yang menjadi langganan banjir. Kadang kita sering kecolongan, antara bencana dengan tindakan tidak sinkron. Sehingga, gerakan SAR goes to school yang kali ini didengungkan pemerintah perlu ditindak lanjuti oleh sekolah-sekolah.
Bencana lama kerap mengorbankan saran sekolah, maka siswalah yang menjadi korban. Korban dalam arti sekolah diliburkan otomatis pembelajaran tidak berjalan. Belum lagi jika ruang kelas roboh maka nyaris siswa yang pasti menjadi korban. Idealnya, SAR goes to school menjadi mitra sekolah dalam mengantisipasi bencana. Selain SAR , juga ada tim Tagana yang sewaktu-watu siap membantu evakuasi bencana alam. Hanya saja, jika program SAR goes to school ditindaklanjuti sekolah, maka berarti sekolah memiliki beberapa keuntungan, antara lain pertama sekolah bisa memiliki tim penanggulangan bencana yang anggotanya siswa dibantu tim SAR. SAR goes to school memiliki urgensi yang tepat bagi sekolah untuk memudahkan koordinasi penganggulangan bencana.
Kedua, sekolah secara tidak langsung menanamkan gerakan sadar lingkungan dan tanggap bencana kepada warga sekolah, khususnya para siswa. Siswa menjadi subjek dan objek pendidikan lingkungan yang diasumsikan masih mudah diarahkan dan dibimbing. Adanya SAR goes to school menjadi terobosan dan langkah teknis pemerintah dalam melibatkan satuan pendidikan. Program ini, ditekankan pada partisipasi aktif sekolah pada upaya penanggulangan bencana. Tiap musim hujan, misalnya daerah-daerah tertentu kerap dilanda bencana. Jika kondisi siswa dan warga sekolah tidak siap, maka jika bencana melanda bisa membuat kalang kabut warga, termasuk siswa dan pemerintah. Pemerintah mengalokasikan anggaran tanggap darurat bencana yang besarannya lumayan. Hanya kendala selama ini laporan penggunaannya belum transparan.
Kondisi kemampuan keterampilan manajemen keuangan bencana dan teknis pertolongan evakuasi perlu diberikan kepada siswa sejak dini. Siswa perlu memperoleh wawasan dan teknik tanggap bencana. Maka melalui SAR goes to school diharapkan siswa bisa mendapatkan pengalaman empirik yang tentu bisa mendukung kemampuan mereka dalam menghadapi bencana alam. Siswa bisa melakukan aksi-aksi nyata pertolongan dan proses evakuasi korban bencana.
Program SAR goes to school mungkin program baru, sehingga masyarakat belum memahaminya. Namun, esensi perlu ditangkap sebagai peluang bagi sekolah. Bahkan konsekuensi dari program ini, pemerintah bukan sekadar memberikan pelatihan saja, namun bisa pula membantu dalam dana tanggap darurat khusus sekolah, dan peralatan misalnya mobil evakuasi, makanan, dan peralatan tanggap bencana lainnya. Gerakan SAR goes to school menjadi program nyata pemerintah yang perlu dilaksanakan setiap sekolah, khususnya sekolah yang berada pada zona bencana.
SAR goes to school sebaiknya dilaksanakan pada, pertama komitmen yang dibuktikan melalui MoU antara sekolah, SAR dan Pemerintah. Kerja sama ini dibuktikan dengan keseriusan pelaksanaan latihan rutin tanggap darurat di sekolah. Kedua program kerja yang jelas untuk dijabarkan dan disesuaikan dengan program atau rencana aksi sekolah(RAS). Meskipun bersifat tanggap darurat namun perlu disusun rencana aksi sekolah. Melalui rencana tersebut, arah dan kebijakan serta target tujuan bisa diketahui public. Sekolah menjadi lebih leluasa dan bisa memberikan pertanggungjawaban secara transparan jika berkaitan dengan anggaran.
Sekali lagi, pelaksanaan SAR goes to school menjadi pioneer supaya siswa memiliki kemampuan teknik dasar yang dilakukan untuk menghadapi bencana. Misalnya untuk wilayah yang sering terkena bencana banjir, maka sekolah bisa melakukan pelatihan dengan dibantu tim SAR mengenai teknik penyelamatan korban dan latihan evakuasi korban bencana.
Rencana SAR goes to school menjadi kebijakan yang patut diapresiasi khususnya pihak sekolah. Sekolah bisa memperoleh deskripsi dan pelatihan tanggap bencana. Bukankah selama ini, sekolah sering menjadi korban bencana?Tidak salah jika pemerintah melakukan terobosan ini. Paling tidak bisa menjadi batu loncatan sekolah agar tanggap terhadap bencana. Lebih tepatnya siswa bisa mendapatkan ilmu dan training tanggap bencana. Baik pencegahan (preventif) maupun penanganan darurat bencana.
Program SAR goes to school, bisa dijadikan pilar-pilar penyelamatan bencana. Pilar pertama yaitu edukasi bagi siswa dan guru. Pendidikan yang diberikan bersifat short courses yang bisa diikuti oleh siswa dan guru pembimbing. Pada tataran ini siswa bisa saja melakukan langkah-langkah yang disesuaikan dengan prosedur tetap tanggap bencana. Ini strategi yang bisa diterapkan jika sekolah mengalami bencana atau antisipasi bencana.Pilar kedua, program ini bisa sjaa bersifat komprehensif, yang menyentuh semua stakeholder pendidikan, sampai level sekolah bahkan kelas. Sekolah bisa membentuk community kecil untuk efektifitas training tanggap bencana. Dari segi kemauan, aspek kemampuan fisik dan kejiwaan, serta dukungan orangtua, sangat membantu program SAR goes to school. Jadi, tanggap bencana menjadi tanggungjawab bersama. Tugas guru yaitu memberikan pemahaman arti pentingnya SAR dan pendidikan peduli lingkungan.
Jangan sampai bencana dating, siswa yang menjadi korban. Upaya sigap sekolah dan masyarakat perlu ditingkatkan. Dengan adanya SAR goes to school bisa menjadi pola kemitraan upaya tanggap bencana.Belum lagi jika dibantu oleh tim TAGANA. Selain itu, program ini bisa dikolaborasikan dengan ekstrakurikuler PMR atau pramuka. Peran dari ekstrakurikuler sangat membantu sekolah dalam menghadapi bencana.
Bagi pihak guru, bisa melakukan langkah-langkah cerdas, yaitu memompa semangat berkorban pada anak didiknya. Selain itu juga mendidik jiwa peduli lingkungan. Kita sadari bahwa kondisi bumi kita sudah rapuh. Jika sekolah-sekolah di Indonesia aktif dalam upaya pelestarian lingkungan, bumi bisa diselamatkan.
Sekolah perlu menjalin kemitraan lain, untuk merealisasikan peduli lingkungan, misalnya bergabung dengan community go green yang sedang didengungkan. Penyelamatan bumi dari bencana alam, menjadi tanggungjawab bersama. Sehingga peran sekolah bisa menjadi kantung-kantong tanggap bencana. Tak kalah penting, sekolah membangun pola kemitraan dengan pihak kedua, supaya upaya tanggap bencana bisa dilakukan.
Tak kalah penting, manfaat bagi sekolah yaitu pembelajaran manajerial bagi guru dan siswa. Manajerial system tanggap darurat dan system manajemen informasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar