Pesantren
Ramadhan Tumbuhkan Pendidikan Karakter
Oleh.
Tukijo, S.Pd
Bulan ramadhan telah
datang sebagai bulan yang penuh nilai kebaikan. Bahkan penulis mengatakan bahwa
bulan ramadhan merupakan bulan pendidikan(tarbiyah). Bagaimana tidak, di bulan
ramadhan jiwa dan raga akan dididik menjadi manusia yang paripurna. Dalam
konteks dunia pendidikan formal, biasanya di dalam bulan ramadhan diadakan
kegiatan-kegiatan yang bernuansa mendidik. Salah satunya dengan kegiatan
pesantren ramadhan. Lalu bagaimana korelasi pesantren ramadhan dengan
pendidikan karakter yang saat ini sedang digiatkan?
Bulan puasa bagi siswa
menjadi bulan yang penuh nilai pendidikan. Sekolah melakukan kegiatan yang
diwadahi dalam pesantren ramadhan atau akrab disebut pesantren kilat, karena waktunya
tidak terlalu lama. Dengan desain yang variasi, pesantren ramadhan diikuti oleh
siswa yang melaksanakan ibadah puasa. Siswa diberi materi sebagai upaya
peningkatan keimanan dan karakter.
Sekolah sebaiknya
memberikan pemahaman dan aktualisasi diri bagi siswa untuk melaksanakan
kegaitan ramadhan dengan total. Misalnya kegiatan mengaji bersama sebelum
pelajaran, atau menghafal doa’doa harian, lomba khitobah, malam bina iman dan
takwa(mabit), pengumpulan dan penyaluran zakat fitrah, infak, dan sebaginya. Jika
kita merunut pada butir-butir nilai karakter yang ada, maka pesantren ramadhan
menjadi bukti implementasi nilai karakter religi yang menempati urutan pertama.
Kita sadar, bahwa nilai agama(religi) menjadi fundamental pendidikan siswa di
usia muda sebagai dasar pijakan ke depan.
Pesantren ramadhan bisa
dibuat dengan format yang variatif, misalnya semacam mabit. Siswa bisa
melakukan rangkaian kegiatan dengan bermalam di sekolah. Sekolah dibuat
layaknya pondok pesantren sesungguhnya. Guru-guru bisa dilibatkan sebagai
pengasuh pondok atau pemateri. Jika perlu mendatangkan ustadz dari luar sekolah
untuk menambah khazanah keilmuan keagamaan. Sebaran materi yang disajikan bisa
lebih berbobot dan membekali siswa. Nilai religi dalam pendidikan karakter
dijabarkan dalam kegiatan pesantren ramadhan.
Selain itu, kewajiban
puasa bagi siswa perlu ditekankan, meskipun bagi siswa usia dasar puasa menjadi
proses tarbiyah atau pendidikan. Siswa belajar hakikat, niat dan syarat rukun
dan yang membatalkan puasa. Ibadah puasa melatih kejujuran dan kesabaran bagi
siswa. Dengan demikian, nilai yang dapat kita petik dari rangkaian pesantren
ramadhan selama bulan puasa, antara lain nilai kejujuran, religi, toleransi,
gemar membaca(tadarus), nilai kerja sama dan sebagainya. Bahkan bisa kita
katakan hampir seluruh nilai pendidikan karakter yang selama ini kita ajarkan,
ada dalam proses tarbiyah di bulan ramadhan.
Pesantren ramadhan
menjadi wahana penggemblengan mental jujur dan sabar bagi siswa. Bahkan bukan
itu saja, ramadhan menjadi dinamika kehidupan yang dirindukan siswa. Untuk itu,
selama ramadhan, sekolah perlu lebih menekankan ibadah kepada siswa. Bahkan
selama ramadhan siswa bisa diwajibkan berpakaian muslim. Bagi siswa yang
kebetulan tidak berpuasa, maka diberi toleransi karena satu hal alasan yang
dibenarkan. Jadi, pemahaman dan pendidikan syariah seputar ibadah ramadhan bisa
diberikan guru pada saat bulan ramadhan.
Penekanaan kegiatan
ramadhan menurut penulis,pertama pada nilai kejujuran. Jujur menjadi pintu
kedua setelah pemahaman nilai keagamaan di rumah maupun di sekolah. Sifat jujur
sebagaimana menjadi karakter Rasulullah yang antara lain sidiq, tabligh dan
fathonah. Kejujuran bersinergi bahkan sama dengan karakter Rasulullah. Guru dan
ustadz yang memberikan materi perlu memberikan ilustrasi dan deskripsi yang
jelas tentang sifat tersebut.
Siswa dibawa ke alam
pemikiran mengenai oase seputar sifat Rasul dengan dengan bahasa yang nalar. Kejujuran
saat ini menjadi barang langka. Sehingga kita bisa menggali kembali nilai kejujuran
dalam bulan puasa ini. Kedua, pemahaman hak dan kewajiban. Siswa perlu memahami
hak-haknya di sekolah, maupun di rumah sebagai anak. Selain itu, kewajiban
siswa di sekolah dan di rumah juga menjadi nilai yang tak terpisahkan dalam
keseharian.
Pesantren ramadhan
bukan sekadar rutinitas belaka di sekolah. Namun lebih ke bentuk aplikasi di
sekolah. Siswa diberi waktu yang cukup untuk menyelami nilai keagamaan.
Sehingga diakhir kegiatan bahkan pasca kegiatan, ada perubahan sikap dan
karakter yang diharapkan. Perubahan yang diharapkan tentu bisa dikorelasikan
dengan nilai pendidikan karakter yang selama ini diajarkan guru.
Selain itu, pendidikan
yang tepat bisa bersumber dari keteladanan. Siswa diarahkan kembali pada fungsi
keteladanan. Baik dari sifat dan karakter teladan Rasul maupun contoh dari guru
mereka. Kita bersama memahami bahwa akhlak rasulullah adalah al qur’an. Dengan
demikian, siswa dan guru bisa belajar lebih mendalam hakikat nilai dan
keteladanan. Intinya, pendidikan dalam pesantren ramadhan perlu bermuara pada
al qur’an dan hadist. Dari sumber itu, maka akan dapat digali lebih luas
pemahaman dan nilai karakter. Meskipun dalam kegiatan ramadhan bukan
serta-merta akan mengubah karakter siswa secara instan. Ini sekadar ikhtiar sekolah dan guru dalam
mendidikan karakter siswanya. Kurikulum terbesar yang kita jadikan rujukan
dalam pesantren ramadhan, tentu 2(dua) sumber di atas. Selain itu, keteladanan
yang diberikan oleh guru dan orangtuanya.
Metode pengajaran dalam
pesantren ramadhan bisa juga diformat lebih egaliter dan praktik. Pemahaman
terori saja tidak cukup dalam mengubah karakter siswa. Sehingga perlu langkah
kongkret ke aplikasinya. Guru perlu membuka wawasan pemahaman arti ibadah
kepada siswa. Sebab dalam ibadah yang kita lakukan bernilai pahala. Nah,
konteks ini yang perlu dipahamkan kepada siswa. Dalam keseharian pun siswa akan
diberi pahala(reward)jika ia
melakukan kebaikan, oleh guru. Begitu sebaliknya, sehingga nilai karakter itu
tumbuh dan berkembang, bukan saja pada saat pesantren ramadhan tapi juga dalam
keseharian.
Tukijo,
S.Pd
