Rabu, 01 Agustus 2012

ARTIKEL UMUM


Buku (Tidak) Membodohi Siswa lagi
Oleh. Tukijo, S.Pd

Tulisan Mardiyanto, S.Pd dalam rubrik Suara Guru (SM, 4/6) yang bertajuk “Buku yang membodohi Siswa’cukup menukik kita dan patut kita apresiasi. Tulisan itu menggugah korps guru sebagai penjaga gawang pembelajaran di sekolah. Saya kira tulisan Mardiyanto merupakan ilustrasi, kegelisahan sebagai sesama guru. Lebih lanjut, ia ingin menengahi supaya kejadian miris ini bisa dicari solusinya.
Dunia pendidikan tidka bisa dilepaskan dari keberadaan referensi ilmiah seperti buku. Buku menjadi bukti ilmiah yang bisa dijadikan sumber belajar. Beredarnya buku yang berbau porno menjadi indikasi bahwa ada kelemahan dalam sistem penerbitan buku kita. Saya membuat klaster/jenis intervensi nilai negatif pada buku. Pertama muatan pornografi yang siap meracuni siswa. Aspek pornografi itu dalam kaidahbahasa bisa kita runut melalui kelimat-kalimat, frase bahkan kata yang digunakan. Akan lebih vulgar jika kalimat dalam bacaan itu dilengpaki dengan ilustrasi yang vulgar pula. Ini bukan saja membodohi siswa, namun menyesatkan pendidikan kita.
Sebagaimana diketahui sebuah buku pelajaran Biologi berbagi pornografi yang memperkenalkan anatami tubuh manusia beredar di SDN 01 Batang Jawa Tengah, Selasa (15/12). Bukan hanya visual alat reproduksi yang digambarkan vulgar, namun penjelasan nikmatnya berhubungan badan.
Kedua, muatan penyesatan dan penistaan agama. Bentuk ini juga perlu dihapus dari konten buku panduan maupun buku pegangan siswa. Beberapa waktu lalu kita juga dihebohkan dengan munculkya buku kisah nabi yang disisipi gambar Nabi Muhammad Saw. Ini menjadi celah jelek perbukuan kita. Tamparan bagi guru, penerbit, penulis, lebih-lebih kementrian pendidikan dan kebudayaan. Dalam tulisan Mardiyanto menyindir pihak guru yang kurang peka. Ketidakpekaan guru bisa saja tidak sengaja dilakukan. Bisa saja guru sekadar menerima droping buku. Atau bisa pula tidak kuasa serta merta menolak droping buku itu. Namun, untuk mengangkat kasus ini, butuh kekuatan korps dan kekuatan yang lebih banyak.
Ketiga, konten muatan idelogis tertentu, yang secara samar disertakan dalam buku. Guru, pelaku pendidikan serta LSM perlu melakukan razia buku semacam ini. Penyusupan idelogis tertentu yang diindikasikan merongrong pancasila, bisa ditarik kembali. Kita perlu cerdas memilih jenis buku. Kejadian ini terjadi di Sukabumi LKS berbau paham komunis juga beredar. Ini membuktikan bahwa saat ini pendulum pemahaman ideologi melalui buku dan LKS. Paham komunisme adalah paham yang merupakan sebagai bentuk reaksi atas perkembangan masyarakat kapitalis yang merupakan produk masyarakat liberal.
Untuk itu, perlu dilakukan langkah antisipasi pertama pihak penulis perlu menambah kajian keilmuan atau bidang tulisannya. Dengan referensi yang banyak maka tulisan akan berkualitas. Penulis perlu menulis dengan azas keadilan, menempatkan porsi keberpihakan pada konten materi. Tidak menerabas moral, etika dan aturan main. Penulis buku perlu memiliki konsultan bahasa, hukum dan norma. Sehingga sebelum buku diajukan ke penerbit akan lebih bisa ditelaah mendalam. Jadi, titik sentral penulis lebih pada penguasaan materi dan bahasa serta etika. Penulis maupun penerbit perlu membedah draft buku secara publik sebelum dicetak.
Sebenarnya bukan saja pada penulisan jenis buku, muatan negatif itu masuk. Kita perlu melihat pula soal-soal/penyusunan soal ulangan siswa yang dibuat guru maupun MGMP. Tak jarang bahasa yang digunakan juga kurang efektif dan terkesan ada nilai negatif, misalnya pornografi. Kalimat-kalimat yang mengarah ke hal negatif kadang tanpa disadari guru penulis. Baru disadari oleh guru, ketika sudah dicetak dalam bentuk buku atau lembaran soal.
Untuk itu, dalam tingkat sekolah atau MGMP, perlu sekali guru dipandu dan dibentuk tim penelaah soal, editor bahasa laiknya buku yang berkatalog nasional. Meskipun soal ulangan hanya digunakan untuk kalangan sendiri. Apalagi jenis buku yang dibaca publik, perlu esktra hati-hati. Sehingga muatan porno dan penistaan agama serta paham ideologi tertentu bisa dibendung. Jangan sampai tulisan di buku, sama seperti tulisan-tulisan bahasa alay di media online. Sebaiknya, siswa, guru dan orangtua serta dinas perlu sikap kritis. Lebih-lebih keterlibatan LSM  juga bisa menjadi alat kontrol yang tepat guna menyaring buku-buku pelajaran ke depan.
24920_1166541223071_1814154245_311036_329227_n


Oleh. Tukijo, S.Pd
Guru SMP Negeri 17 Semarang, Jawa Tengah










1 komentar: