Buku
(Tidak) Membodohi Siswa lagi
Oleh.
Tukijo, S.Pd
Tulisan Mardiyanto,
S.Pd dalam rubrik Suara Guru (SM, 4/6)
yang bertajuk “Buku yang membodohi Siswa’cukup menukik kita dan patut kita
apresiasi. Tulisan itu menggugah korps guru sebagai penjaga gawang pembelajaran
di sekolah. Saya kira tulisan Mardiyanto merupakan ilustrasi, kegelisahan
sebagai sesama guru. Lebih lanjut, ia ingin menengahi supaya kejadian miris ini
bisa dicari solusinya.
Dunia pendidikan tidka
bisa dilepaskan dari keberadaan referensi ilmiah seperti buku. Buku menjadi
bukti ilmiah yang bisa dijadikan sumber belajar. Beredarnya buku yang berbau
porno menjadi indikasi bahwa ada kelemahan dalam sistem penerbitan buku kita. Saya
membuat klaster/jenis intervensi nilai negatif pada buku. Pertama muatan pornografi yang siap meracuni siswa. Aspek
pornografi itu dalam kaidahbahasa bisa kita runut melalui kelimat-kalimat,
frase bahkan kata yang digunakan. Akan lebih vulgar jika kalimat dalam bacaan
itu dilengpaki dengan ilustrasi yang vulgar pula. Ini bukan saja membodohi
siswa, namun menyesatkan pendidikan kita.
Sebagaimana diketahui sebuah buku pelajaran Biologi
berbagi pornografi yang memperkenalkan anatami tubuh manusia beredar di SDN 01
Batang Jawa Tengah, Selasa (15/12). Bukan hanya visual alat reproduksi yang
digambarkan vulgar, namun penjelasan
nikmatnya berhubungan badan.
Kedua,
muatan penyesatan
dan penistaan agama. Bentuk ini juga perlu dihapus dari konten buku panduan
maupun buku pegangan siswa. Beberapa waktu lalu kita juga dihebohkan dengan
munculkya buku kisah nabi yang disisipi
gambar Nabi Muhammad Saw. Ini menjadi celah jelek perbukuan kita. Tamparan bagi
guru, penerbit, penulis, lebih-lebih kementrian pendidikan dan kebudayaan.
Dalam tulisan Mardiyanto menyindir pihak guru yang kurang peka. Ketidakpekaan
guru bisa saja tidak sengaja dilakukan. Bisa saja guru sekadar menerima droping
buku. Atau bisa pula tidak kuasa serta merta menolak droping buku itu. Namun,
untuk mengangkat kasus ini, butuh kekuatan korps dan kekuatan yang lebih banyak.
Ketiga,
konten muatan idelogis tertentu, yang secara samar disertakan dalam buku. Guru,
pelaku pendidikan serta LSM perlu melakukan razia buku semacam ini. Penyusupan
idelogis tertentu yang diindikasikan merongrong pancasila, bisa ditarik
kembali. Kita perlu cerdas memilih jenis buku. Kejadian ini terjadi di Sukabumi
LKS berbau paham komunis juga beredar. Ini membuktikan bahwa saat ini pendulum
pemahaman ideologi melalui buku dan LKS. Paham komunisme adalah paham yang merupakan sebagai bentuk
reaksi atas perkembangan masyarakat kapitalis yang merupakan produk masyarakat
liberal.
Untuk itu, perlu
dilakukan langkah antisipasi pertama pihak penulis perlu menambah kajian
keilmuan atau bidang tulisannya. Dengan referensi yang banyak maka tulisan akan
berkualitas. Penulis perlu menulis dengan azas keadilan, menempatkan porsi
keberpihakan pada konten materi. Tidak menerabas moral, etika dan aturan main.
Penulis buku perlu memiliki konsultan
bahasa, hukum dan norma. Sehingga sebelum buku diajukan ke penerbit akan lebih
bisa ditelaah mendalam. Jadi, titik sentral penulis lebih pada penguasaan
materi dan bahasa serta etika. Penulis maupun penerbit perlu membedah draft
buku secara publik sebelum dicetak.
Sebenarnya bukan saja
pada penulisan jenis buku, muatan negatif itu masuk. Kita perlu melihat pula soal-soal/penyusunan soal
ulangan siswa yang dibuat guru maupun MGMP. Tak jarang bahasa yang digunakan
juga kurang efektif dan terkesan ada nilai negatif, misalnya pornografi.
Kalimat-kalimat yang mengarah ke hal negatif kadang tanpa disadari guru
penulis. Baru disadari oleh guru, ketika sudah dicetak dalam bentuk buku atau
lembaran soal.
Untuk
itu, dalam tingkat sekolah atau MGMP, perlu sekali guru dipandu dan dibentuk
tim penelaah soal, editor bahasa laiknya buku yang berkatalog nasional.
Meskipun soal ulangan hanya digunakan untuk kalangan sendiri. Apalagi jenis
buku yang dibaca publik, perlu esktra hati-hati. Sehingga muatan porno dan
penistaan agama serta paham ideologi tertentu bisa dibendung. Jangan sampai
tulisan di buku, sama seperti tulisan-tulisan bahasa alay di media online. Sebaiknya,
siswa, guru dan orangtua serta dinas perlu sikap kritis. Lebih-lebih
keterlibatan LSM juga bisa menjadi alat
kontrol yang tepat guna menyaring buku-buku pelajaran ke depan.

Oleh.
Tukijo, S.Pd
Guru
SMP Negeri 17 Semarang, Jawa Tengah
sip setuju
BalasHapus