Rabu, 01 Agustus 2012

Pesantren Ramadhan Tumbuhkan Pendidikan Karakter
Oleh. Tukijo, S.Pd

Bulan ramadhan telah datang sebagai bulan yang penuh nilai kebaikan. Bahkan penulis mengatakan bahwa bulan ramadhan merupakan bulan pendidikan(tarbiyah). Bagaimana tidak, di bulan ramadhan jiwa dan raga akan dididik menjadi manusia yang paripurna. Dalam konteks dunia pendidikan formal, biasanya di dalam bulan ramadhan diadakan kegiatan-kegiatan yang bernuansa mendidik. Salah satunya dengan kegiatan pesantren ramadhan. Lalu bagaimana korelasi pesantren ramadhan dengan pendidikan karakter yang saat ini sedang digiatkan?
Bulan puasa bagi siswa menjadi bulan yang penuh nilai pendidikan. Sekolah melakukan kegiatan yang diwadahi dalam pesantren ramadhan atau akrab disebut pesantren kilat, karena waktunya tidak terlalu lama. Dengan desain yang variasi, pesantren ramadhan diikuti oleh siswa yang melaksanakan ibadah puasa. Siswa diberi materi sebagai upaya peningkatan keimanan dan karakter.
Sekolah sebaiknya memberikan pemahaman dan aktualisasi diri bagi siswa untuk melaksanakan kegaitan ramadhan dengan total. Misalnya kegiatan mengaji bersama sebelum pelajaran, atau menghafal doa’doa harian, lomba khitobah, malam bina iman dan takwa(mabit), pengumpulan dan penyaluran zakat fitrah, infak, dan sebaginya. Jika kita merunut pada butir-butir nilai karakter yang ada, maka pesantren ramadhan menjadi bukti implementasi nilai karakter religi yang menempati urutan pertama. Kita sadar, bahwa nilai agama(religi) menjadi fundamental pendidikan siswa di usia muda sebagai dasar pijakan ke depan.
Pesantren ramadhan bisa dibuat dengan format yang variatif, misalnya semacam mabit. Siswa bisa melakukan rangkaian kegiatan dengan bermalam di sekolah. Sekolah dibuat layaknya pondok pesantren sesungguhnya. Guru-guru bisa dilibatkan sebagai pengasuh pondok atau pemateri. Jika perlu mendatangkan ustadz dari luar sekolah untuk menambah khazanah keilmuan keagamaan. Sebaran materi yang disajikan bisa lebih berbobot dan membekali siswa. Nilai religi dalam pendidikan karakter dijabarkan dalam kegiatan pesantren ramadhan.
Selain itu, kewajiban puasa bagi siswa perlu ditekankan, meskipun bagi siswa usia dasar puasa menjadi proses tarbiyah atau pendidikan. Siswa belajar hakikat, niat dan syarat rukun dan yang membatalkan puasa. Ibadah puasa melatih kejujuran dan kesabaran bagi siswa. Dengan demikian, nilai yang dapat kita petik dari rangkaian pesantren ramadhan selama bulan puasa, antara lain nilai kejujuran, religi, toleransi, gemar membaca(tadarus), nilai kerja sama dan sebagainya. Bahkan bisa kita katakan hampir seluruh nilai pendidikan karakter yang selama ini kita ajarkan, ada dalam proses tarbiyah di bulan ramadhan.
Pesantren ramadhan menjadi wahana penggemblengan mental jujur dan sabar bagi siswa. Bahkan bukan itu saja, ramadhan menjadi dinamika kehidupan yang dirindukan siswa. Untuk itu, selama ramadhan, sekolah perlu lebih menekankan ibadah kepada siswa. Bahkan selama ramadhan siswa bisa diwajibkan berpakaian muslim. Bagi siswa yang kebetulan tidak berpuasa, maka diberi toleransi karena satu hal alasan yang dibenarkan. Jadi, pemahaman dan pendidikan syariah seputar ibadah ramadhan bisa diberikan guru pada saat bulan ramadhan.
Penekanaan kegiatan ramadhan menurut penulis,pertama pada nilai kejujuran. Jujur menjadi pintu kedua setelah pemahaman nilai keagamaan di rumah maupun di sekolah. Sifat jujur sebagaimana menjadi karakter Rasulullah yang antara lain sidiq, tabligh dan fathonah. Kejujuran bersinergi bahkan sama dengan karakter Rasulullah. Guru dan ustadz yang memberikan materi perlu memberikan ilustrasi dan deskripsi yang jelas tentang sifat tersebut.
Siswa dibawa ke alam pemikiran mengenai oase seputar sifat Rasul dengan dengan bahasa yang nalar. Kejujuran saat ini menjadi barang langka. Sehingga kita bisa menggali kembali nilai kejujuran dalam bulan puasa ini. Kedua, pemahaman hak dan kewajiban. Siswa perlu memahami hak-haknya di sekolah, maupun di rumah sebagai anak. Selain itu, kewajiban siswa di sekolah dan di rumah juga menjadi nilai yang tak terpisahkan dalam keseharian.
Pesantren ramadhan bukan sekadar rutinitas belaka di sekolah. Namun lebih ke bentuk aplikasi di sekolah. Siswa diberi waktu yang cukup untuk menyelami nilai keagamaan. Sehingga diakhir kegiatan bahkan pasca kegiatan, ada perubahan sikap dan karakter yang diharapkan. Perubahan yang diharapkan tentu bisa dikorelasikan dengan nilai pendidikan karakter yang selama ini diajarkan guru.
Selain itu, pendidikan yang tepat bisa bersumber dari keteladanan. Siswa diarahkan kembali pada fungsi keteladanan. Baik dari sifat dan karakter teladan Rasul maupun contoh dari guru mereka. Kita bersama memahami bahwa akhlak rasulullah adalah al qur’an. Dengan demikian, siswa dan guru bisa belajar lebih mendalam hakikat nilai dan keteladanan. Intinya, pendidikan dalam pesantren ramadhan perlu bermuara pada al qur’an dan hadist. Dari sumber itu, maka akan dapat digali lebih luas pemahaman dan nilai karakter. Meskipun dalam kegiatan ramadhan bukan serta-merta akan mengubah karakter siswa secara instan. Ini  sekadar ikhtiar sekolah dan guru dalam mendidikan karakter siswanya. Kurikulum terbesar yang kita jadikan rujukan dalam pesantren ramadhan, tentu 2(dua) sumber di atas. Selain itu, keteladanan yang diberikan oleh guru dan orangtuanya.
Metode pengajaran dalam pesantren ramadhan bisa juga diformat lebih egaliter dan praktik. Pemahaman terori saja tidak cukup dalam mengubah karakter siswa. Sehingga perlu langkah kongkret ke aplikasinya. Guru perlu membuka wawasan pemahaman arti ibadah kepada siswa. Sebab dalam ibadah yang kita lakukan bernilai pahala. Nah, konteks ini yang perlu dipahamkan kepada siswa. Dalam keseharian pun siswa akan diberi pahala(reward)jika ia melakukan kebaikan, oleh guru. Begitu sebaliknya, sehingga nilai karakter itu tumbuh dan berkembang, bukan saja pada saat pesantren ramadhan tapi juga dalam keseharian.

Tukijo, S.Pd




Tidak ada komentar:

Posting Komentar