Selasa, 29 November 2011

Mari memahami

KUNCI ZUHUD


Bismillahirrahmanirrahim

Aku tahu, rizkiku tak mungkin
diambil orang lain
Karenanya, hatiku tenang

Aku tahu, amal-amalku
Tak mungkin dilakukan orang lain
Maka aku sibukkan diriku untuk beramal

Aku tahu, Allah selalu melihatku
Karenanya, aku malu  bila Allah
mendapatkanku melakukan maksiat

Aku tahu, Kematian menantiku
Maka kupersiapkan bekal untuk
Berjumpa dengan Rabbku


(Hasan Al-Bashri)

ARTIKEL BUDAYA


Agama Jawa itu Langgeng dan Abadi
Dening : Tukijo,S.Pd


Agama bisa dikatakan warisan, turunan leluhur Jawa yang berkembang di masyarakat jawa. Manusia jawa tansah ngugemi paugeran agamanipun. Ada pula orang jawa yang memperoleh kepercayaan itu karena laku, proses pencarian konsep ketuhanan dan keagamaan bagi mereka. Manusia jawa lekat dengan kepercayaaan, agama dan internalisasi nilai. Itulah yang mampu mengatur perilaku dan segala bentuk tindak-tanduk manusia jawa. Maka banyak sekali karya susastra mengatur perjalanan hidup untuk menuju zona Tuhan. Lalu bagaimana sebenarnya esensi dan warna itu meyakinkan konsep agama pada manusia jawa?
Manusia jawa dihadapkan pada paradigma ketuhanan yang hakiki, serta memiliki dimensi social yang tinggi. Kepekaan sosial selalu diasah dalam bentuk tradisi, gotong royong dan peri laku sosial lain, sebagai pengejawentahan agama. Namun ada pula yang keliru, bener tan pener dalam aspek ketauhidannya. Lewat sosok Sekh Siti Jenar kita mengenal manunggaling kawula lan Gusti. Konsepsi pemahaman tersebut berdampak fatal dengan dibunuhnya Sekh Siti Jenar. Manusia jawa memiliki tendensi transedental dan kesejagadan yang penuh warna, antara ruang dan waktu. Jika keyakinannya sudah dirusak maka akan dilawan dengan laku, dijelaskan dalam tembang gedhe pamularsih: Nihan siswa umatur/Marang rising Mahayogi/Sang wipra kadiparan/Karsaning Hyang Hudipati/Yogya saliring warna/Kang gumelar aneng bumi/Mugi ulun tedahna/Tandya sang wiku anjarwi.
Orang jawa meyakini dimensi Ketuhanan dan dimensi sosial kemanusiaan. Hal itu diawali ketika moyang kita melakukan ritual persembahan pada roh halus dan tempat keramat yang ujungnya adalah mencari kehakikian itu. Secara spiritual nilai itu digali lalu dihayati dan dipalikasikan dalam perilaku sosial.
Pamularsih di atas menyiratkan sifat kepasrahan manusia jawa bahwa kodrat, takdir itu mutlak Gusti Sang Akarya Jagad. Kesejagadan Gusti itu menjadi zona suci manusia jawa. Sehingga mereka pun memiliki tempat suci yang hakiki. Tradisi sesajen yang ditempatkan di rumah-rumah orang jawa menggunakan ruang khusus. Di situ lah ada komunikasi vertikal manusia jawa dengan Gustinya. Secara sosilogis keberadaan peran sosial itu ada dalam bentuk perilaku nilai agama lalu diejawentahkan dalam hubungan sosial penuh tepa slira, andhap asor, ngurmati liyan.
Konsep keyakinan dan beragama manusia jawa tidak menafikan alam. Alam merupakan wahana untuk menemukan jati diri keagamannya. Dalam praktik berkarya pun pujangga jawa jamak menulis dalam bentuk kidung, syi’ir, tembang, serat, Suluk dan sebagainya. Ini menunjukkan proses kreatif manusia jawa dalam memahami jati dirinya.
Pencarian Tuhan itu hadir pula melalui tokoh Bima dalam lakon Bima Suci. Tokoh Bima yang dengan susah payah mencari Tuhannya, sehingga ia masuk ke dalam dasar samudera bertemu dengan Bima kecil/Dewa Ruci yang tak lain adalah konsepsi ketuhanan yang ada dalam dirinya. Bima kemudian memahami hakikat itu untuk menuju tarekhat lalu makrifat.
Dalam Kidung Sekh Malaya misalnya orang jawa mencoba memahami dirinya untuk bersikap suci dan mengedepankan aspek spiritualitas dalam menapaki kehidupan. Manusia jawa yakin jika sesudah mati bakal akan kehidupan lain (akhirat). Berangkat dari hal itu, maka dimensi ketuhanan dan dimensi sosial manusia jawa kala itu benar-benar terjalin erat.
Keyakinan dan tradisi jawa terpolarisasi oleh ritualitas sebelumnya yaitu Hindu-Budha. Sehingga kini tidak heran jika generasi muda jawa memiliki bentuk keagamaan yang variasi. Dalam tataran kosmologisnya, spiritualitas menjadi mesin penggerak untuk melangkah ke depan.
Jika ada lagu “Gusti Ora Sare”maka ada pula manusia itu bakal sumare. Konsep sare atau tidur menjadi sifat makhluk. Jika dibandingkan dengan Tuhan, maka makhluk itu memiliki sifat dhoif dan fakir. Jika manusia jawa wis sumare atau sare, artinya mati. Kematian menjadi hal yang sacral, namun pasti dan ini dikenali oleh manusia jawa.
Agama bagi manusia jawa itu bukan symbol saja, melainkan penghayatan dan sarana pencapaian muksa/surga. Jadi, dalam khazanah keimanan itu manusia jawa terbiasa lelangen dan lelumban ing samodraning kaimanan, antara lain dengan nglaras laku utama (amal saleh). Dengan itu, maka manusia akan menemukan kebahagiaan lahir batin. Karena laku utama dengan keselarasan sifat-sifat Tuhannya.
Sementara dalam Suluk Wujil, konsepsi pehaman keagamaan manusia jawa ; Pon nyata ananing Hyang anisih/hening kasucianing Pangeran/ana ngaku kang wruh mangke/ laksananetan atut/raga sastra dengugoni/anglalisi subrata/kag sampun yakti wruh/anangkreti punang raga/paningale denwong-wong rahina wengi/tan pasung agulinga//Hal semacam ini dipahami secara dangkal saja sehingga manusia jawa kadang kurang memahami untuk apa ia beragama. Dalam konteks kejawaan, tidak lahir sekte-sekte agama. Tuhan dan manusia serta makhluk lain di dunia ini, dipahami secara tegas berbeda. Tuhan memiliki keakuan yang mutlak dan absolut, sedangkan makhlukNya bersifat fana. Kefanaan ini tersirat dalam perilaku manusia apa adanya.
Saat ini kejadian yang ada di tanah jawa khususnya, tragedi atas nama agama mencincang keyakinan yang ada. Perjuangan atas nama agama dan sekte tertentu menjadi pengabsahan sehingga diharapkan pelaku mendapatkan dukungan. Padahal peperangan dan terorisme itu pasti di dalamnya ada nafsu, amarah, kebencian dan keangkuhan serta butuh pengakuan. Manusia jawa yang tidak gumuman, tidak kagetan selalu merasa bahwa Tuhan itu ada, mengawasi peri laku kita.
Hanya saja pada tataran kosmologis kita tidak pernah tahu. Pemahaman manusia jawa kadang terhalangi oleh kepentingan sosial, oleh dogma turunan yang bisa saja membelenggu tujuan vertikal ketuhanan. Jadi antara Gusti dengan manusia itu cedhak tanpa senggolan. Lebih lanjut dalam Suluk Suksma Lelana diterangkan : Allah datan kantha warni/ tanpa tarah (arah) tanpa papan /tanpa wangenan yen tebih/seka (cedhak 0dantanpa gepokan/jumeneng lawan pribadhi/angandika sang tenayeng resi/inggih ngong wawartos/sorah kitabHidayat Jatine/mila Pangran  datan  kantha warni/tetepira yakin/kang wakitheng kalbu/ Sajatine ingkang Maha Suci /Dat mutlak kawartos/ yang ing kadis (kadim) jail abadine/jumeneng jroning nuap (nukat)gaib/sumereh ing ngurip/uripnya puniku /Mila urip kalawan Dat nunggil/witira kacriyos/pinasrahan pangawasa kabeh/…(Ranggawarsita,suluk Suksma Lelana(Naskah Radyapustaka no.14 aksara carik).
Tuhan itu ada dengan Dzat yang kekal dan abadi. Jadi, ketuhanan itu memang diyakini dalam ranah kosmologis, pemahaman jagad gedhe (makrokosmos) dan jagad cilik (mikrokosmos). Dalam jagad gedhe itu manusia memandang dirinya sebagai subunsur yang kecil. Sedangkan dalam jagad cilik (mikrokosmos) manusia menempatkan dalam dunia cilik yang bisa diartikan sebagaia jagad dalam dirinya.
Sedangkan dalam Serat Sastra Gendhing, hubungan sastra dengan gending sebagai dimensi ketiga haruslah mono-dualis.Yang menjadi pokok fundamental pemahaman keagamaan pada serat sastra gending, yaitu: tembung syahadat kalimah/loro iku tegese:adegan loro/kang wus kumpul dadi/siji (loro atunggil)//
Esensinya merupakan ketauhidan(Allah) dan kerasulan Muhamamd SAW. Di sini manusia jawa memahami hakikat keagamaan yang dianutnya, terlepas dari sekte dan aliran yang ada. Karena mereka memahami ada tujuan akhir yaitu jalan sama menuju surga. Ini yang menjadi pokok dasar untuk menyelami kehidupan sosial, sekaligus kesadaran akan azas houdologisnya dunia (Supadjar Damarjati 2001).
Mengamati perilaku beragama manusia jawa, sebenarnya telah memiliki sendi kuat yang bisa berkembang. Jadi jika ada yang mengatakan agama orang jawa itu warisan. Bisa saja hal itu benar, namun yang pener adalah pemahaman dna konsepsi beragama itu menjadi azasi setiap manusia. Tidak bisa dipaksakan hanya bisa dipahamkan dengan contoh dan perilaku yang baik. Sedangkan surga itu tidak cukup diraih dengan teror apa pun. Karena agama itu kedamaian yang dilakukan dalam perilaku baik vertikal maupun horizontal.
Liding dongeng, ke depan tidak akan ada lagi kebencian atas nama agama. Tidak ada lagi teror jika itu untuk meraih surga. Manusia jawa ingin selalu hidup rukun dan hormat. Prinsip itulah yang juga pernah dituliskan oleh Franz Magnez Suseno dalam Etika Jawa. Kerukunan dan penghormatan manusia jawa, menjadi simbol dan bukti bahwa mereka beragama tanpa membedakan dan tanpa memaksakan.







INTROSPEKSI

Guru dalam Pusara Kepentingan

Peradaban terus bergulir seiring dengan regulasi yang terus berkembang menuntt guru untuk lebih profesional. Profesionalitas guru diukur dari lolos tidaknya sertifikasi. Ironis....jika sekadar itu apakah ada jaminan jika yang bersangkutan tidak kapabel?
Ada pihak yang mungkin beranggapan jika guru dininabobokan pemerintah. Naif, jika seorang guru dipertaruhkan nama baiknya dengan sekadar embel-embel sertifikat profesi, sedangkan kinerja nol besar. Alasan umur yang menjadi dasar sertifikasi juga sekadar memunculkan kesan'priorotas tua muda' ini menjadi tidak elok jika diteruskan.
Pemerintah sebaiknya prioritaskan yang muda untuk sertifikasi karena masa kerja dan umur masih panjang. Namun kenyataannya, fakta berkekebalikan. Guru tua lebih diutamakan dengan alasan mendekati pensiun. Lalu apa guna tunjangan sertifikasi tersebut?



BAPAK TUKIJO: ARTIKEL PENDIDIKAN

BAPAK TUKIJO: ARTIKEL PENDIDIKAN: Revitalisasi Fungsi Lembaga Kemahasiswaan kampus? Oleh.Tukijo, S.Pd Gelora kehidupan lembaga kemahasi...

BAPAK TUKIJO: KESUSATERAAN

BAPAK TUKIJO: KESUSATERAAN: ANTOLOGI PUISI KATEGORI SMP/MTs PENULIS TUKIJO,S.Pd NIP.198005042009031005 SMP NEGERI 17 SEMA...

KESUSATERAAN

ANTOLOGI PUISI







KATEGORI SMP/MTs

PENULIS
TUKIJO,S.Pd
NIP.198005042009031005

SMP NEGERI 17 SEMARANG
KOTA SEMARANG
JAWA TENGAH
1. Cerita Musim
Titik hujan membuih bumi, dan semalaman temaran lentera
Hanyut dalam selimut
Air meronta dalam sketsa alam yang pudar,
Riak gelombang membelah –belah
Hujan semalaman ; ada cerita yang terlupakan!
Sebuah negeri yang renta, dilanda bencana

Riuh ramai orang-orang meminta jatah,
Gempita orang-orang meminta upah,
Inikah negeri gemah-ripah?


Kalicari, Januari 2011



2.
Lagu Anak Cucu
Gelegar tawa membahana di belahan katulistiwa,
Berabad-abad kami menengadah, meracik tanah menjadi penghidupan
Sebab kami bukan  peminta-minta pada Tuan.
Tangis merintih menyulam mimpi panjang kaum republic
Yang negerinya meringis
Tapi kami bukan penghamba Tuanku.
Biarlah, otot-otot mereka meregang mengolah bumi pertiwi
Ketika hak kami juga dikhianati

Berabad –abad kami diam di sini.
Nyanyian lagu sendu telah lama tercipta, dari iga-iga kami yang menganga
Sebab; busung lapar, gizi buruk akrab di sini, Tuanku.          
Syair-syair itu telah turun generasi, ketika anak-cucu kami menjadi penghafal,
Ketika kami-kami terpasung dalam ketakberdayaan.
Di mana keadilan?


3. Jejak Sudirman

Gagah perkasa bertajuk Panglima Besar
Tubuh tegap memegang senapan
Sudirman, telah lahir di ujung jaman

Semangat di dada, merajam jaman
Ia telah bangkit melawan kedzhaliman

Panglima besar ada di pundak generasi jaman
Bukan lagi slogan-slogan di antara etalase yang terpasang

Sudirman telah berjejak di jaman yang compang-camping
Di saat orang-orang bertanya arti kemakmuran

Kemakmuran di genggamannya, patriotism menjadi jiwanya
Mengusir kebodohan generasi zaman.



4. Sementara tentang Moral

Deretan alphabet telah dihafal,
Hitungan matematika tanpa logika,
Sedangkan bahasa hanya seperlunya saja,
Nilai moral itu hanya iklan,
Sedangkan kebodohan menjadi jurang curam
Bagi kemiskinan yang merajalela

Alfabet itu lahir dari otak-otak yang berpikir
Kalimat –kalimat masih dihafal pada pintu zaman
Moral sementara disimpan dalam batin yang penuh malu

Moral itu hanya ada di awal-awal
Seterusnya hanya main logika, dibolak-balik bagai pepesan

Ah, itu hanya isapan. Ada moral ada amoral.
Rindu moral? Ah itu hanya gombal.
Sebab negeri ini hanya penjual pasal.


5, Khusyuk

Berdo’a
Di tengah malam kelam,
Do’a dan ayat kupanjatkan
padaMu sang penguasa alam.

Kerinduan ini ada ruang untukMu
Bukan maksud melupakan ayat-ayatMu
Bukan!
Ini aku bersujud

Mengetuk pintuMu
Gelepar dosa membenam jiwa
Jiwa yang kian tunduk
Merunduk lusuh di pusara pertaubatan

Bimbing aku mengeja tanda-tanda
Mengartikan symbol etika dan do’a.





6. Membaca Merapi
Lihatlah!
Gumpalan kelam mendesak sesak
Di sela telaga dan pepohonan
 Dengarlah!
Dentuman peringatan dalam suara itu,
Bukan berlalu dan tak tahu
Linglung nanar dalam tanda.

Sajak bumi
Sajak Merapi
Terpatri di jiwa-jiwa yang mengerti
Lihatlah!
Gumpalan menggulung-gulung
Menerabas tebas dedaunan
Melumat merajam tajam tiap nyawa

Sajak bumi,
Sajak Merapi,
Lahir dari keyakinan bukan ilusi
Menebar tanda penuh makna

Dengarlah!
Itu suara rintihan menghiba
Terpenjara dalam bara
Mari, mari membaca Merapi
Dalam tanda-tanda.

7. Maka Ombak itu
Gemuruh riuh ombak menendang gelombang
Melebur pilu setahun lalu
Sebab banyak cerita indah di ujung tahun

Cerita menggurita diantara kalimat panjang
Mencari makna di anataranya
Sunyiku dipeluk gelombang yang menggelandang
Namun belum kutemukan makna
Di pinggiran pantai geladak kapal terpampang
Legam kulitku terpanggang matahari
Tak dihiraukan mengais ikan.


8. Sajak musim

Diobrak-abrik berantakan,
Lebur hancur berhamburan
Musim tak pelak diterjang banding

Sejam lalu, panas menyengat
Sejam kemudian dingin menyublim beku
dan jiwa-jiwa manusia
Ini raga dibalut kentara pancaroba

Mata ini nanar arah
Musim mencabikku   berkali-kali
Menyambar jiwa jadi hambar

Angin di pusara musim
Menari-nari mengobrak-abrik
Yang ada jadi tiada

Ini musim apa?
Jawab sukar ditebak.
Kebingungan pun merebak






9. Masih petang

Gulita di mata manusia
Cahaya jauh tak tampak
Hanya meraba dan bergumam
Tanya dan terjawab

Hari masih petang,
Tak ada cahaya menerabas
Gulita menghadang

Sedangkan surau kami masih adzan
Melafalkan puji-pujian asma Tuhan
Masih saja petang
10. Halaman 99

Catat kalimat ini!
Ujar guruku lantang
Aku tertegun rapuh ditanya
Mencari jawaban di halaman delapan

Kutemukan halaman sembilan puluh sembilan
Terpampang asmaul husna
Deretan asma lambang keagungan
Direka tak bisa diterka
Dibaca hapuskan dosa

Itu bukan mantra!
Ujar guruku lantang.



11. Ritual
Menjamas pusaka di purnama raya
Ribuan mata menatap tajam
Di kelopak tak berkedip

Ritual yang menjaman di abad-abad kelam
Hadir di sini pada tujuh turunan
Berkisah penjamasan para pendulum dosa

Ritual di bawah musim yang riuh
Menengadah memuja do’a
Dipanjatkan pada kalimat-kalimat Tuhan.
Menuju kemakmuran



12. Petaniku


Dalam langkah kekarmu
Menerabas hari di awal subuh
Cangkul di tangan, sabit di kiri
Demi segenggam nasi

Sisa embun pagi membanjir di bekas tapak kaki
Tatap mata ke depan pada hamparan
Sawah dan lading membentang
Menyimpan harapan

Namun,
Mengapa harga pada sewenang-wenang?



13.
Gerak tegap menantang
Musuh seribu tak gentar
Prajurit maju perang
Melawan musuh tak mundur

Ini barisan prajurit
Rela mati demi pertiwi
Rawe-rawe rantas, malang-malang tuntas

Ini barisan prajurit tegap menantang
Perang di palagan penuh lawan

Maju!
Jangan ragu

jarring laba-laba
Ketika laba-laba itu menyulam membentuk jaring-jaring
Ada asa yang tergambar di sana
Guratan tapak kakinya  menyulam sejuta makna
Tampaklah jejarng makna hidup itu.
Ketika laba-laab itu melangkah
Tepat aku langkahkan kaki menuju sekolah
Menyimpul ilmu kalam Illahi
Jiwa yang rapuh
Terus bertanya hakikat hidup?


SAJAK LAUT
Sajak laut, pantai raya
Gempita anak-anak nelayan
Mengais ikan,menyulam jarring dan jala

Ini cerita negeri kami
Bumi nusantara raya di antara dua benua
Sajak tertoreh di pasir-pasir pantai
Di iga-iga berkulit legam
Bau anyir membuat nyengir

Sajak laut, pantai raya
bahari yang melahirkan kami,
anak-anak berkulit legam
mengais ikan, menantang gelombang
Jangan tutup mata tuan
Di sini anak-anak berkulit legam,
Jangan tutup mata tuan,
Di sini bau anyir ikan
 Ini sajak laut,



Tanya jawab
Apa jawabmu?
Jika malaikat bertanya kesaksianmu

Entahlah??
Sebab itu mampumu.

Malaikat tak segan melaknat
Dalam lingkaran dosa lalu kita
Di kubur bukan cerita

Tanga-tangan menjawab
Dalam sejuta tanya para malaikat

Mulut dibungkam,
Gelap mata gelap hati
Terhimpit tanah nan pengap

Tangan-tangan kita bersaksi
Tuhan mana yang kau cari?
Tuhan mana yang kau imani?


Genderang kentong bertalu-tali
Isyarat banding melanda purba
Di sini pusara air merayap menghantam
Dinding dan tembok merinding