KATEGORI SMP/MTs
PENULIS
TUKIJO,S.Pd
NIP.198005042009031005
SMP NEGERI 17 SEMARANG
KOTA SEMARANG
JAWA TENGAH
1. Cerita Musim
Titik hujan membuih bumi, dan semalaman temaran lentera
Hanyut dalam selimut
Air meronta dalam sketsa alam yang pudar,
Riak gelombang membelah –belah
Hujan semalaman ; ada cerita yang terlupakan!
Sebuah negeri yang renta, dilanda bencana
Riuh ramai orang-orang meminta jatah,
Gempita orang-orang meminta upah,
Inikah negeri gemah-ripah?
Kalicari, Januari 2011
2.
Lagu Anak Cucu
Gelegar tawa membahana di belahan katulistiwa,
Berabad-abad kami menengadah, meracik tanah menjadi penghidupan
Sebab kami bukan peminta-minta pada Tuan.
Tangis merintih menyulam mimpi panjang kaum republic
Yang negerinya meringis
Tapi kami bukan penghamba Tuanku.
Biarlah, otot-otot mereka meregang mengolah bumi pertiwi
Ketika hak kami juga dikhianati
Berabad –abad kami diam di sini.
Nyanyian lagu sendu telah lama tercipta, dari iga-iga kami yang menganga
Sebab; busung lapar, gizi buruk akrab di sini, Tuanku.
Syair-syair itu telah turun generasi, ketika anak-cucu kami menjadi penghafal,
Ketika kami-kami terpasung dalam ketakberdayaan.
Di mana keadilan?
3. Jejak Sudirman
Gagah perkasa bertajuk Panglima Besar
Tubuh tegap memegang senapan
Sudirman, telah lahir di ujung jaman
Semangat di dada, merajam jaman
Ia telah bangkit melawan kedzhaliman
Panglima besar ada di pundak generasi jaman
Bukan lagi slogan-slogan di antara etalase yang terpasang
Sudirman telah berjejak di jaman yang compang-camping
Di saat orang-orang bertanya arti kemakmuran
Kemakmuran di genggamannya, patriotism menjadi jiwanya
Mengusir kebodohan generasi zaman.
4. Sementara tentang Moral
Deretan alphabet telah dihafal,
Hitungan matematika tanpa logika,
Sedangkan bahasa hanya seperlunya saja,
Nilai moral itu hanya iklan,
Sedangkan kebodohan menjadi jurang curam
Bagi kemiskinan yang merajalela
Alfabet itu lahir dari otak-otak yang berpikir
Kalimat –kalimat masih dihafal pada pintu zaman
Moral sementara disimpan dalam batin yang penuh malu
Moral itu hanya ada di awal-awal
Seterusnya hanya main logika, dibolak-balik bagai pepesan
Ah, itu hanya isapan. Ada moral ada amoral.
Rindu moral? Ah itu hanya gombal.
Sebab negeri ini hanya penjual pasal.
5, Khusyuk
Berdo’a
Di tengah malam kelam,
Do’a dan ayat kupanjatkan
padaMu sang penguasa alam.
Kerinduan ini ada ruang untukMu
Bukan maksud melupakan ayat-ayatMu
Bukan!
Ini aku bersujud
Mengetuk pintuMu
Gelepar dosa membenam jiwa
Jiwa yang kian tunduk
Merunduk lusuh di pusara pertaubatan
Bimbing aku mengeja tanda-tanda
Mengartikan symbol etika dan do’a.
6. Membaca Merapi
Lihatlah!
Gumpalan kelam mendesak sesak
Di sela telaga dan pepohonan
Dengarlah!
Dentuman peringatan dalam suara itu,
Bukan berlalu dan tak tahu
Linglung nanar dalam tanda.
Sajak bumi
Sajak Merapi
Terpatri di jiwa-jiwa yang mengerti
Lihatlah!
Gumpalan menggulung-gulung
Menerabas tebas dedaunan
Melumat merajam tajam tiap nyawa
Sajak bumi,
Sajak Merapi,
Lahir dari keyakinan bukan ilusi
Menebar tanda penuh makna
Dengarlah!
Itu suara rintihan menghiba
Terpenjara dalam bara
Mari, mari membaca Merapi
Dalam tanda-tanda.
7. Maka Ombak itu
Gemuruh riuh ombak menendang gelombang
Melebur pilu setahun lalu
Sebab banyak cerita indah di ujung tahun
Cerita menggurita diantara kalimat panjang
Mencari makna di anataranya
Sunyiku dipeluk gelombang yang menggelandang
Namun belum kutemukan makna
Di pinggiran pantai geladak kapal terpampang
Legam kulitku terpanggang matahari
Tak dihiraukan mengais ikan.
8. Sajak musim
Diobrak-abrik berantakan,
Lebur hancur berhamburan
Musim tak pelak diterjang banding
Sejam lalu, panas menyengat
Sejam kemudian dingin menyublim beku
dan jiwa-jiwa manusia
Ini raga dibalut kentara pancaroba
Mata ini nanar arah
Musim mencabikku berkali-kali
Menyambar jiwa jadi hambar
Angin di pusara musim
Menari-nari mengobrak-abrik
Yang ada jadi tiada
Ini musim apa?
Jawab sukar ditebak.
Kebingungan pun merebak
9. Masih petang
Gulita di mata manusia
Cahaya jauh tak tampak
Hanya meraba dan bergumam
Tanya dan terjawab
Hari masih petang,
Tak ada cahaya menerabas
Gulita menghadang
Sedangkan surau kami masih adzan
Melafalkan puji-pujian asma Tuhan
Masih saja petang
10. Halaman 99
Catat kalimat ini!
Ujar guruku lantang
Aku tertegun rapuh ditanya
Mencari jawaban di halaman delapan
Kutemukan halaman sembilan puluh sembilan
Terpampang asmaul husna
Deretan asma lambang keagungan
Direka tak bisa diterka
Dibaca hapuskan dosa
Itu bukan mantra!
Ujar guruku lantang.
11. Ritual
Menjamas pusaka di purnama raya
Ribuan mata menatap tajam
Di kelopak tak berkedip
Ritual yang menjaman di abad-abad kelam
Hadir di sini pada tujuh turunan
Berkisah penjamasan para pendulum dosa
Ritual di bawah musim yang riuh
Menengadah memuja do’a
Dipanjatkan pada kalimat-kalimat Tuhan.
Menuju kemakmuran
12. Petaniku
Dalam langkah kekarmu
Menerabas hari di awal subuh
Cangkul di tangan, sabit di kiri
Demi segenggam nasi
Sisa embun pagi membanjir di bekas tapak kaki
Tatap mata ke depan pada hamparan
Sawah dan lading membentang
Menyimpan harapan
Namun,
Mengapa harga pada sewenang-wenang?
13.
Gerak tegap menantang
Musuh seribu tak gentar
Prajurit maju perang
Melawan musuh tak mundur
Ini barisan prajurit
Rela mati demi pertiwi
Rawe-rawe rantas, malang-malang tuntas
Ini barisan prajurit tegap menantang
Perang di palagan penuh lawan
Maju!
Jangan ragu
jarring laba-laba
Ketika laba-laba itu menyulam membentuk jaring-jaring
Ada asa yang tergambar di sana
Guratan tapak kakinya menyulam sejuta makna
Tampaklah jejarng makna hidup itu.
Ketika laba-laab itu melangkah
Tepat aku langkahkan kaki menuju sekolah
Menyimpul ilmu kalam Illahi
Jiwa yang rapuh
Terus bertanya hakikat hidup?
SAJAK LAUT
Sajak laut, pantai raya
Gempita anak-anak nelayan
Mengais ikan,menyulam jarring dan jala
Ini cerita negeri kami
Bumi nusantara raya di antara dua benua
Sajak tertoreh di pasir-pasir pantai
Di iga-iga berkulit legam
Bau anyir membuat nyengir
Sajak laut, pantai raya
bahari yang melahirkan kami,
anak-anak berkulit legam
mengais ikan, menantang gelombang
Jangan tutup mata tuan
Di sini anak-anak berkulit legam,
Jangan tutup mata tuan,
Di sini bau anyir ikan
Ini sajak laut,
Tanya jawab
Apa jawabmu?
Jika malaikat bertanya kesaksianmu
Entahlah??
Sebab itu mampumu.
Malaikat tak segan melaknat
Dalam lingkaran dosa lalu kita
Di kubur bukan cerita
Tanga-tangan menjawab
Dalam sejuta tanya para malaikat
Mulut dibungkam,
Gelap mata gelap hati
Terhimpit tanah nan pengap
Tangan-tangan kita bersaksi
Tuhan mana yang kau cari?
Tuhan mana yang kau imani?
Genderang kentong bertalu-tali
Isyarat banding melanda purba
Di sini pusara air merayap menghantam
Dinding dan tembok merinding
Tidak ada komentar:
Posting Komentar