Agama Jawa itu Langgeng dan Abadi
Dening : Tukijo,S.Pd
Agama bisa dikatakan warisan, turunan leluhur Jawa yang berkembang di masyarakat jawa. Manusia jawa tansah ngugemi paugeran agamanipun. Ada pula orang jawa yang memperoleh kepercayaan itu karena laku, proses pencarian konsep ketuhanan dan keagamaan bagi mereka. Manusia jawa lekat dengan kepercayaaan, agama dan internalisasi nilai. Itulah yang mampu mengatur perilaku dan segala bentuk tindak-tanduk manusia jawa. Maka banyak sekali karya susastra mengatur perjalanan hidup untuk menuju zona Tuhan. Lalu bagaimana sebenarnya esensi dan warna itu meyakinkan konsep agama pada manusia jawa?
Manusia jawa dihadapkan pada paradigma ketuhanan yang hakiki, serta memiliki dimensi social yang tinggi. Kepekaan sosial selalu diasah dalam bentuk tradisi, gotong royong dan peri laku sosial lain, sebagai pengejawentahan agama. Namun ada pula yang keliru, bener tan pener dalam aspek ketauhidannya. Lewat sosok Sekh Siti Jenar kita mengenal manunggaling kawula lan Gusti. Konsepsi pemahaman tersebut berdampak fatal dengan dibunuhnya Sekh Siti Jenar. Manusia jawa memiliki tendensi transedental dan kesejagadan yang penuh warna, antara ruang dan waktu. Jika keyakinannya sudah dirusak maka akan dilawan dengan laku, dijelaskan dalam tembang gedhe pamularsih: Nihan siswa umatur/Marang rising Mahayogi/Sang wipra kadiparan/Karsaning Hyang Hudipati/Yogya saliring warna/Kang gumelar aneng bumi/Mugi ulun tedahna/Tandya sang wiku anjarwi.
Orang jawa meyakini dimensi Ketuhanan dan dimensi sosial kemanusiaan. Hal itu diawali ketika moyang kita melakukan ritual persembahan pada roh halus dan tempat keramat yang ujungnya adalah mencari kehakikian itu. Secara spiritual nilai itu digali lalu dihayati dan dipalikasikan dalam perilaku sosial.
Pamularsih di atas menyiratkan sifat kepasrahan manusia jawa bahwa kodrat, takdir itu mutlak Gusti Sang Akarya Jagad. Kesejagadan Gusti itu menjadi zona suci manusia jawa. Sehingga mereka pun memiliki tempat suci yang hakiki. Tradisi sesajen yang ditempatkan di rumah-rumah orang jawa menggunakan ruang khusus. Di situ lah ada komunikasi vertikal manusia jawa dengan Gustinya. Secara sosilogis keberadaan peran sosial itu ada dalam bentuk perilaku nilai agama lalu diejawentahkan dalam hubungan sosial penuh tepa slira, andhap asor, ngurmati liyan.
Konsep keyakinan dan beragama manusia jawa tidak menafikan alam. Alam merupakan wahana untuk menemukan jati diri keagamannya. Dalam praktik berkarya pun pujangga jawa jamak menulis dalam bentuk kidung, syi’ir, tembang, serat, Suluk dan sebagainya. Ini menunjukkan proses kreatif manusia jawa dalam memahami jati dirinya.
Pencarian Tuhan itu hadir pula melalui tokoh Bima dalam lakon Bima Suci. Tokoh Bima yang dengan susah payah mencari Tuhannya, sehingga ia masuk ke dalam dasar samudera bertemu dengan Bima kecil/Dewa Ruci yang tak lain adalah konsepsi ketuhanan yang ada dalam dirinya. Bima kemudian memahami hakikat itu untuk menuju tarekhat lalu makrifat.
Dalam Kidung Sekh Malaya misalnya orang jawa mencoba memahami dirinya untuk bersikap suci dan mengedepankan aspek spiritualitas dalam menapaki kehidupan. Manusia jawa yakin jika sesudah mati bakal akan kehidupan lain (akhirat). Berangkat dari hal itu, maka dimensi ketuhanan dan dimensi sosial manusia jawa kala itu benar-benar terjalin erat.
Keyakinan dan tradisi jawa terpolarisasi oleh ritualitas sebelumnya yaitu Hindu-Budha. Sehingga kini tidak heran jika generasi muda jawa memiliki bentuk keagamaan yang variasi. Dalam tataran kosmologisnya, spiritualitas menjadi mesin penggerak untuk melangkah ke depan.
Jika ada lagu “Gusti Ora Sare”maka ada pula manusia itu bakal sumare. Konsep sare atau tidur menjadi sifat makhluk. Jika dibandingkan dengan Tuhan, maka makhluk itu memiliki sifat dhoif dan fakir. Jika manusia jawa wis sumare atau sare, artinya mati. Kematian menjadi hal yang sacral, namun pasti dan ini dikenali oleh manusia jawa.
Agama bagi manusia jawa itu bukan symbol saja, melainkan penghayatan dan sarana pencapaian muksa/surga. Jadi, dalam khazanah keimanan itu manusia jawa terbiasa lelangen dan lelumban ing samodraning kaimanan, antara lain dengan nglaras laku utama (amal saleh). Dengan itu, maka manusia akan menemukan kebahagiaan lahir batin. Karena laku utama dengan keselarasan sifat-sifat Tuhannya.
Sementara dalam Suluk Wujil, konsepsi pehaman keagamaan manusia jawa ; Pon nyata ananing Hyang anisih/hening kasucianing Pangeran/ana ngaku kang wruh mangke/ laksananetan atut/raga sastra dengugoni/anglalisi subrata/kag sampun yakti wruh/anangkreti punang raga/paningale denwong-wong rahina wengi/tan pasung agulinga//Hal semacam ini dipahami secara dangkal saja sehingga manusia jawa kadang kurang memahami untuk apa ia beragama. Dalam konteks kejawaan, tidak lahir sekte-sekte agama. Tuhan dan manusia serta makhluk lain di dunia ini, dipahami secara tegas berbeda. Tuhan memiliki keakuan yang mutlak dan absolut, sedangkan makhlukNya bersifat fana. Kefanaan ini tersirat dalam perilaku manusia apa adanya.
Saat ini kejadian yang ada di tanah jawa khususnya, tragedi atas nama agama mencincang keyakinan yang ada. Perjuangan atas nama agama dan sekte tertentu menjadi pengabsahan sehingga diharapkan pelaku mendapatkan dukungan. Padahal peperangan dan terorisme itu pasti di dalamnya ada nafsu, amarah, kebencian dan keangkuhan serta butuh pengakuan. Manusia jawa yang tidak gumuman, tidak kagetan selalu merasa bahwa Tuhan itu ada, mengawasi peri laku kita.
Hanya saja pada tataran kosmologis kita tidak pernah tahu. Pemahaman manusia jawa kadang terhalangi oleh kepentingan sosial, oleh dogma turunan yang bisa saja membelenggu tujuan vertikal ketuhanan. Jadi antara Gusti dengan manusia itu cedhak tanpa senggolan. Lebih lanjut dalam Suluk Suksma Lelana diterangkan : Allah datan kantha warni/ tanpa tarah (arah) tanpa papan /tanpa wangenan yen tebih/seka (cedhak 0dantanpa gepokan/jumeneng lawan pribadhi/angandika sang tenayeng resi/inggih ngong wawartos/sorah kitabHidayat Jatine/mila Pangran datan kantha warni/tetepira yakin/kang wakitheng kalbu/ Sajatine ingkang Maha Suci /Dat mutlak kawartos/ yang ing kadis (kadim) jail abadine/jumeneng jroning nuap (nukat)gaib/sumereh ing ngurip/uripnya puniku /Mila urip kalawan Dat nunggil/witira kacriyos/pinasrahan pangawasa kabeh/…(Ranggawarsita,suluk Suksma Lelana(Naskah Radyapustaka no.14 aksara carik).
Tuhan itu ada dengan Dzat yang kekal dan abadi. Jadi, ketuhanan itu memang diyakini dalam ranah kosmologis, pemahaman jagad gedhe (makrokosmos) dan jagad cilik (mikrokosmos). Dalam jagad gedhe itu manusia memandang dirinya sebagai subunsur yang kecil. Sedangkan dalam jagad cilik (mikrokosmos) manusia menempatkan dalam dunia cilik yang bisa diartikan sebagaia jagad dalam dirinya.
Sedangkan dalam Serat Sastra Gendhing, hubungan sastra dengan gending sebagai dimensi ketiga haruslah mono-dualis.Yang menjadi pokok fundamental pemahaman keagamaan pada serat sastra gending, yaitu: tembung syahadat kalimah/loro iku tegese:adegan loro/kang wus kumpul dadi/siji (loro atunggil)//
Esensinya merupakan ketauhidan(Allah) dan kerasulan Muhamamd SAW. Di sini manusia jawa memahami hakikat keagamaan yang dianutnya, terlepas dari sekte dan aliran yang ada. Karena mereka memahami ada tujuan akhir yaitu jalan sama menuju surga. Ini yang menjadi pokok dasar untuk menyelami kehidupan sosial, sekaligus kesadaran akan azas houdologisnya dunia (Supadjar Damarjati 2001).
Mengamati perilaku beragama manusia jawa, sebenarnya telah memiliki sendi kuat yang bisa berkembang. Jadi jika ada yang mengatakan agama orang jawa itu warisan. Bisa saja hal itu benar, namun yang pener adalah pemahaman dna konsepsi beragama itu menjadi azasi setiap manusia. Tidak bisa dipaksakan hanya bisa dipahamkan dengan contoh dan perilaku yang baik. Sedangkan surga itu tidak cukup diraih dengan teror apa pun. Karena agama itu kedamaian yang dilakukan dalam perilaku baik vertikal maupun horizontal.
Liding dongeng, ke depan tidak akan ada lagi kebencian atas nama agama. Tidak ada lagi teror jika itu untuk meraih surga. Manusia jawa ingin selalu hidup rukun dan hormat. Prinsip itulah yang juga pernah dituliskan oleh Franz Magnez Suseno dalam Etika Jawa. Kerukunan dan penghormatan manusia jawa, menjadi simbol dan bukti bahwa mereka beragama tanpa membedakan dan tanpa memaksakan.
Mohon balas di blog saya.www.paklekman.blogspot.com
BalasHapusinggih sumangga kemawon Pak.Kula saged ngangsu kawruh.
BalasHapus