Senin, 28 November 2011

Sekolah Harus Siaga Banjir
Oleh. Tukijo

Musim hujan kini tiba, masyarakat dihadapkan pada persoalan tahunan yang sering mereka alami. Kini intensitas hujan juga semakin tinggi, termasuk pula di kota Semarang. Kota Semarang memiliki persoalan-persoalan lingkungan berkait dengan air, antara lain persoalan rob dan persoalan banjir jika musim hujan tiba. Kondisi rob dan banjir, telah merusak sarana infrastruktur yang ada dan mengganggu kenyamanan warga. Melihat persoalan ini, maka pemerintah kota Semarang tidak tinggal diam. Pemerintah terus melakukan persiapan antisipasi dan koordinasi seluruh stakeholder termasuk memfungsikan secara maksimal Satkorlak bencana di Kota Semarang.
Dampak hujan bisa mengakibatkan bencana banjir  yang menyusahkan warga. Terutama di daerah Semarang utara yang bersinggungan dengan pantai. Pihak yang tak luput dari banjir tiap tahunnya yaitu sekolah. Sekolah sebagai fasilitas umum sering dilanda banjir. Bahkan tak jarang banjir melumpuhkan proses pembelajaran. Maka siswa pula yang menjadi korban banjir. Dengan demikian, bagaimana sebaiknya bentuk riil penanggulangan bagi pihak dinas pendidikan dalam hal ini sekolah?
Jika banjir melanda, maka warga dihadapkan kondisi was-was, termasuk para siswa. Meskipun beberapa sekolah sudah ditinggikan untuk menghindari banjir., namun banjir tetap saja mengganggu kondisi sekolah. Tak jarang sekolah yang meliburkan siswanya jika banjir dating. Untuk itu, sekolah perlu melakukan koordinasi terpadu untuk mengatasi banjir.
Melihat kondisi sekolah-sekolah yang ada maka potensi terkena banjir cukup besar. Di sisi lain kondisi geografis Semarang atas(Gunungpati, Tembalang) sudah mengalami perubahan. Ada alih fungsi lahan untuk perumahan sehingga memungkinkan bencana lain yang terjadi. Kondisi lain misalnya geografis sekolah kadang timpang, antara jumlah area yang sudah dipaving dengan kondisi yang masih murni tanah tidak sebanding. Jumlah area tanah lebih sedikit dibanding area yang dipasang paving atau aspal. Selain itu, program sekolah untuk hemat air juga belum maksimal. Sekolah-sekolah minim lubang biopori dan tidak ada kolam daur ulang air. Sehingga disaat kemarau debit air berkurang. Karena air yang telah digunakan tidak didaur ulang. Misalnya air wudhu, bisa ditampung dikolam daur ulang, kemudian diproses untuk dipakai kembali. Hal ini menuntut kreatifitas dan inovasi sekolah.
Kondisi lain sekolah enggan menyisakan lahannya untuk ditanami jenis tanaman /pohon penyeram air. Selain itu, sekolah dihadapkan pada tata kelola lingkungan yang kompleks, antara lain sampah. Penanganan jenis sampah yang ada belum dilakukan maksimal. Kendalanya antara lain biaya, tenaga teknis dan peralatan.  Untuk itu, pemerintah perlu melakukan terobosan teknis sehingga sampah tidak menjadi momok. Terobosan itu bisa dilakukan dengan manajemen pengolahan sampah yang akurat.
Sekolah memiliki tanggungjawab terhadap lingkungan. Sehingga perlu melakukan terbososan yang lebih praktis untuk menjaga ekosistem air khususnya. Hal ini mengingat persoalan bencana air dominan di Kota Semarang. Sekolah harus ikut siaga antisipasi bencana dengan segenap kemampuan dasar dan teknis yang dimiliki sekolah. Sekolah memiliki tanggungjawab pula terhadap lingkungannya.
Melihat persoalan banjir yang sering merugikan siswa, maka beberapa langkah perlu dilakukan antara lain pertama dinas pendidikan dan kebudayaan segera mengkoordinasikan sekolah-sekolah untuk merumuskan bentuk tindakan antisipasi banjir, tentu saja harus kerjasama teknis dengan dinas terkait. Misalnya rumusan kebersihan serentak para siswa dan guru.Program ini patut diapresiasi karena membudayakan hidup bersih pada siswa dan kepedulian lingkungan. Lebih lanjut sekolah perlu melaporkan secara cepat ke dinas jika terjadi banjir di lingkungannya. Sekolah perlu pula menjalin kemitraan dengan kelurahan, kecamatan dan satuan tugas di tingkat kelurahan.
Kedua, Sekolah membentuk tim Satgas khusus siswa. Satgas siswa ini perlu dilatih teknis penyelamatan banjir dilengkapi dengan peralatan sederhana. Satgas tanggap bencana sekolah dibentuk berdasarkan kebutuhan lapangan dengan melihat pengalaman empiris selama ini. Sekolah juga perlu menata kembali lingkungan sekolahnya. Misalnya penataan pavingisasi/aspal, penanaman pohon dengan menyisakan area tanah yang ada, melakukan daur ulang air, pembuatan lubang biopori, mengecek insfrastruktur sekolah/gedung dan sebagainya. Tak kalah penting yaitu normalisasi saluran air. Selama ini saluran air di sekitar sekolah sering tersendat karena sampah. Normalisasi awal terhadap sungai sudah dilakukan oleh pemerintah, yaitu Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur. Langkah awal ini harus diikuti oleh sekolah  untuk melakukan normalisasi saluran air yang ada.
Ketiga, sekolah perlu menyisipkan materi tanggap bencana kepada siswa. Sisipan ini diharapkan memberikan deskripsi awal mengenai bencana kepada siswa. Siswa harus mampu mengenali, menganalisa dan melakukan langkah cepat penanggulangan bencana, termasuk bencana banjir. Inti dari dari langkah ini untuk memberikan pemahaman dan langkah awal guna menyadarkan warga sekolah terhadap banjir. Sisipan materi antisipasi bencana bisa diberikan guru yang berkompeten. Melihat kebutuhan dan standar kebijakan sekolah yang berbasis pada sikap peduli lingkungan. Sikap ini menjadi dasar agar budaya siaga bencana menjadi milik siswa.
Keempat, sekolah segera merevitalisasi jenis ekstrakurikuler khususnya pramuka dan PMR. Faktanya kedua ekstra tersebut di daerah bencana, semisal bencana lahar dingin Merapi sangat dibutuhkan. Siswa paling tidak memiliki bekal meskipun masih bersifat sederhana. Langkah yang dilakukan sekolah lebih bersifat preventif dan pertolongan pertama jika bencana melanda. Sekolah-sekolah yang berada di sekitar lokasi bencana, misalnya dekat dengan Sungai, Tebing, Gunung, dan sejenisnya perlu meningkatkan kewaspadaannya.
Dengan adanya satuan tugas kerja penanggulangan bencana yang dibentuk sekolah, disertai aksi ekstrakurikuler pramuka dan PMR, maka bencana banjir bisa diantisipasi. Kita ketahui beberapa sekolah mengalami kehancuran diterjang banjir lahar dingin Merapi. Kondisi ini semakin diperparah jika curah hujan terus tinggi. Untuk itu, bagi sekolah-sekolah segera menyiapkan tenaga dan lokasi relokasi. Sementara tugas rehabilitasi dan rekonstruksi bencana merupakan tanggungjawab pemerintah. Bagi sekolah yang diharapkan yaitu proses pembelajaran tetap berjalan di tengah bencana. Bagi siswa memiliki kemampuan teknik dasar tanggap bencana. Pengalaman ini akan membentuk karakter dan budaya siaga bencana di lingkungannya.
Upaya melibatkan siswa dan guru dalam penanggulangan bencana banjir merupakan bentuk pendidikan peduli lingkungan yang aplikatif. Selain sisipan materi tanggap bencana yang harus diberikan selama pembelajaran. Pemahaman tanggap bencana ini memungkinkan siswa untuk bisa memiliki keterampilan penyelamatan diri ketika bencana banjir melanda. Dengan demikian, ini menjadi konsekuen bersama agar sekolah dan siswa tidak menjadi korban.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar