Sekolah
Harus Siaga Banjir
Oleh.
Tukijo
Musim
hujan kini tiba, masyarakat dihadapkan pada persoalan tahunan yang sering
mereka alami. Kini intensitas hujan juga semakin tinggi, termasuk pula di kota
Semarang. Kota Semarang memiliki persoalan-persoalan lingkungan berkait dengan
air, antara lain persoalan rob dan persoalan banjir jika musim hujan tiba.
Kondisi rob dan banjir, telah merusak sarana infrastruktur yang ada dan
mengganggu kenyamanan warga. Melihat persoalan ini, maka pemerintah kota
Semarang tidak tinggal diam. Pemerintah terus melakukan persiapan antisipasi
dan koordinasi seluruh stakeholder
termasuk memfungsikan secara maksimal Satkorlak bencana di Kota Semarang.
Dampak
hujan bisa mengakibatkan bencana banjir yang menyusahkan warga. Terutama di daerah
Semarang utara yang bersinggungan dengan pantai. Pihak yang tak luput dari
banjir tiap tahunnya yaitu sekolah. Sekolah sebagai fasilitas umum sering
dilanda banjir. Bahkan tak jarang banjir melumpuhkan proses pembelajaran. Maka
siswa pula yang menjadi korban banjir. Dengan demikian, bagaimana sebaiknya bentuk
riil penanggulangan bagi pihak dinas pendidikan dalam hal ini sekolah?
Jika
banjir melanda, maka warga dihadapkan kondisi was-was, termasuk para siswa.
Meskipun beberapa sekolah sudah ditinggikan untuk menghindari banjir., namun
banjir tetap saja mengganggu kondisi sekolah. Tak jarang sekolah yang
meliburkan siswanya jika banjir dating. Untuk itu, sekolah perlu melakukan
koordinasi terpadu untuk mengatasi banjir.
Melihat
kondisi sekolah-sekolah yang ada maka potensi terkena banjir cukup besar. Di
sisi lain kondisi geografis Semarang atas(Gunungpati, Tembalang) sudah
mengalami perubahan. Ada alih fungsi lahan untuk perumahan sehingga
memungkinkan bencana lain yang terjadi. Kondisi lain misalnya geografis sekolah
kadang timpang, antara jumlah area yang sudah dipaving dengan kondisi yang
masih murni tanah tidak sebanding. Jumlah area tanah lebih sedikit dibanding
area yang dipasang paving atau aspal. Selain itu, program sekolah untuk hemat
air juga belum maksimal. Sekolah-sekolah minim lubang biopori dan tidak ada
kolam daur ulang air. Sehingga disaat kemarau debit air berkurang. Karena air
yang telah digunakan tidak didaur ulang. Misalnya air wudhu, bisa ditampung
dikolam daur ulang, kemudian diproses untuk dipakai kembali. Hal ini menuntut
kreatifitas dan inovasi sekolah.
Kondisi
lain sekolah enggan menyisakan lahannya untuk ditanami jenis tanaman /pohon
penyeram air. Selain itu, sekolah dihadapkan pada tata kelola lingkungan yang
kompleks, antara lain sampah. Penanganan jenis sampah yang ada belum dilakukan
maksimal. Kendalanya antara lain biaya, tenaga teknis dan peralatan. Untuk itu, pemerintah perlu melakukan
terobosan teknis sehingga sampah tidak menjadi momok. Terobosan itu bisa
dilakukan dengan manajemen pengolahan sampah yang akurat.
Sekolah
memiliki tanggungjawab terhadap lingkungan. Sehingga perlu melakukan terbososan
yang lebih praktis untuk menjaga ekosistem air khususnya. Hal ini mengingat
persoalan bencana air dominan di Kota Semarang. Sekolah harus ikut siaga
antisipasi bencana dengan segenap kemampuan dasar dan teknis yang dimiliki
sekolah. Sekolah memiliki tanggungjawab pula terhadap lingkungannya.
Melihat
persoalan banjir yang sering merugikan siswa, maka beberapa langkah perlu
dilakukan antara lain pertama dinas pendidikan dan kebudayaan segera
mengkoordinasikan sekolah-sekolah untuk merumuskan bentuk tindakan antisipasi
banjir, tentu saja harus kerjasama teknis dengan dinas terkait. Misalnya
rumusan kebersihan serentak para siswa dan guru.Program ini patut diapresiasi
karena membudayakan hidup bersih pada siswa dan kepedulian lingkungan. Lebih
lanjut sekolah perlu melaporkan secara cepat ke dinas jika terjadi banjir di
lingkungannya. Sekolah perlu pula menjalin kemitraan dengan kelurahan,
kecamatan dan satuan tugas di tingkat kelurahan.
Kedua,
Sekolah membentuk tim Satgas khusus siswa. Satgas siswa ini perlu dilatih
teknis penyelamatan banjir dilengkapi dengan peralatan sederhana. Satgas
tanggap bencana sekolah dibentuk berdasarkan kebutuhan lapangan dengan melihat
pengalaman empiris selama ini. Sekolah juga perlu menata kembali lingkungan
sekolahnya. Misalnya penataan pavingisasi/aspal, penanaman pohon dengan
menyisakan area tanah yang ada, melakukan daur ulang air, pembuatan lubang
biopori, mengecek insfrastruktur sekolah/gedung dan sebagainya. Tak kalah
penting yaitu normalisasi saluran air. Selama ini saluran air di sekitar
sekolah sering tersendat karena sampah. Normalisasi awal terhadap sungai sudah
dilakukan oleh pemerintah, yaitu Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur.
Langkah awal ini harus diikuti oleh sekolah
untuk melakukan normalisasi saluran air yang ada.
Ketiga,
sekolah perlu menyisipkan materi tanggap bencana kepada siswa. Sisipan ini
diharapkan memberikan deskripsi awal mengenai bencana kepada siswa. Siswa harus
mampu mengenali, menganalisa dan melakukan langkah cepat penanggulangan
bencana, termasuk bencana banjir. Inti dari dari langkah ini untuk memberikan
pemahaman dan langkah awal guna menyadarkan warga sekolah terhadap banjir.
Sisipan materi antisipasi bencana bisa diberikan guru yang berkompeten. Melihat
kebutuhan dan standar kebijakan sekolah yang berbasis pada sikap peduli lingkungan.
Sikap ini menjadi dasar agar budaya siaga bencana menjadi milik siswa.
Keempat,
sekolah segera merevitalisasi jenis ekstrakurikuler khususnya pramuka dan PMR.
Faktanya kedua ekstra tersebut di daerah bencana, semisal bencana lahar dingin
Merapi sangat dibutuhkan. Siswa paling tidak memiliki bekal meskipun masih
bersifat sederhana. Langkah yang dilakukan sekolah lebih bersifat preventif dan
pertolongan pertama jika bencana melanda. Sekolah-sekolah yang berada di
sekitar lokasi bencana, misalnya dekat dengan Sungai, Tebing, Gunung, dan
sejenisnya perlu meningkatkan kewaspadaannya.
Dengan
adanya satuan tugas kerja penanggulangan bencana yang dibentuk sekolah,
disertai aksi ekstrakurikuler pramuka dan PMR, maka bencana banjir bisa
diantisipasi. Kita ketahui beberapa sekolah mengalami kehancuran diterjang
banjir lahar dingin Merapi. Kondisi ini semakin diperparah jika curah hujan
terus tinggi. Untuk itu, bagi sekolah-sekolah segera menyiapkan tenaga dan
lokasi relokasi. Sementara tugas rehabilitasi dan rekonstruksi bencana
merupakan tanggungjawab pemerintah. Bagi sekolah yang diharapkan yaitu proses
pembelajaran tetap berjalan di tengah bencana. Bagi siswa memiliki kemampuan
teknik dasar tanggap bencana. Pengalaman ini akan membentuk karakter dan budaya
siaga bencana di lingkungannya.
Upaya
melibatkan siswa dan guru dalam penanggulangan bencana banjir merupakan bentuk
pendidikan peduli lingkungan yang aplikatif. Selain sisipan materi tanggap
bencana yang harus diberikan selama pembelajaran. Pemahaman tanggap bencana ini
memungkinkan siswa untuk bisa memiliki keterampilan penyelamatan diri ketika
bencana banjir melanda. Dengan demikian, ini menjadi konsekuen bersama agar
sekolah dan siswa tidak menjadi korban.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar