Senin, 28 November 2011

Pentingnya Pendidikan Karakter di Sekolah, Mengapa?


Gejala sosial yang diwarnai suasana chaos, anarkhis dan gesekan kepentingan menjadi keprihatinan dunia pendidikan kita. Sempat mengemuka dalam wacana publik dan menyita perhatian publik, dengan adanya kasus bank century dan kini ontran-ontra markus pajak. Kejadian ini menjadi tamparan bangsa Indonesia, lebih-lebih ranah pendidikan kita. Tujuan pendidikan nasional ternyata belum mampu membentuk karakter dan kepribadian yang santun dan jujur. Kejujuran dan kesantunan  pekerti saat ini, seakan sekadar iklan dan carut marut pendidikan kita. Inilah, yang menjadi alasan. Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) mereka-reka dan mencari format pendidikan karakter, sebagimana dimuat dalam Suara Merdeka (SM, 17/4/2010).
Pendidikan saat ini menjadi bagian penting dalam upaya mencetak lulusan yang memiliki lifeskiil dan soft skiil. Upaya Kopertis menjadi upaya yang pantas diapresiasi semua pihak, baik pemerintah, satuan pendidikan, dan masyarakat. Kopertis berpendapat waktu terbanyak anak didik adalah di rumah dan masyarakat. Di masyarakat disuguhkan berbagai aktifitas sosial, baik yang pantas dicontoh maupun yang jauh dari kelayakan untuk dijadikan panutan. Pendidikan karakter dipandang menjadi salah satu alternatif proses pendidikan nasional kita.
Peran media masa cukup memengaruhi alibi dan pembentukkan karakter masyarakat. Ada pihak yang menyalahkan kegagalan pendidikan, sehingga korupsi dan anarkhisme merajalela, lebih-lebih dalam kekuasaan. Siapa pun yang merasa punya kekuasaan (power) selalu ingin menguasai (kooptasi) yang lemah.
Pendidikan karakter jika disetujui dan disusun format yang baik, disesuaikan dengan kearifan lokal, tentu akan sinergis dan menjadi menara emas pendidikan kita. Karakter yang dimaksud harus dapat menumbuhkan sikap pekerti yang luhur, kesantunan, kejujuran, empati dan kedisiplinan. Itu saja barangkali belum cukup, sehingga perilaku Gayus Tambunan Cs misalnya, menjadi suatu gerakan bawah tanah yang membahayakan. Markus pajak dan kasus korupsi pejabat kita, menjadi suatu model yang jauh dari azas kepantasan. Masyarakat bisa melihat dan menyaksikan alur kejadian sosial. Markus pajak menjadi bukti kegagalan pendidikan nasional kita.
Ide Kopertis mengenai pendidikan karakter menjadi isu segar dalam upaya reformasi pendidikan nasional. Karakteristik bisa dikorelasikan dengan nilai budi pekerti luhur yang dibungkus dalam kearifan lokal. Kemmapuan dan nilai lokalitas perlu dijadikan menu pokok dalam pendidikan karakter. Di sisi lain pendidikan agama juga perlu dimasukkan. Sehingga ada nuansa baru dalam muatan kurikulum kita. Apakah perlu kurikulum pendidikan karakter?
Jawaban panjang rencana pendidikan karakter butuh waktu. Sederetan harapan itu menjadi horizon baru bagi bangsa kita. Bangsa yang konon sedang mengalami kebuntuan ide segar untuk sebuah kearifan dan jati diri. Pendidikan selama ini dikembangkan seakan diartikan ada upaya pemiskinan nilai dan pembangunan karakter.
Karakter yang diharapkan mampu mengakomodasi segenap unsur kearifan lokal, agama dan nilai sosial budaya lain. Ramuan dan racikan pendidikan karakter akan menjadi rencana cerdas dunia pendidikan kita, jika para pakar dalam wadah Kopertis mampu merangkul dan menemukan format yang bagus. Kita tidak usah bicara muluk dan idealis mengenai bentuk pendidikan, namun paling tidak mampu menuangkan ide, lebih-lebih ide pembaharuan yang bisa meningkatkan percaya diri bangsa kita.

Bukan Doktrin
Ide pendidikan karakter bukan sebuah doktrin yang akan membawa arah pendidikan kita ke suatu paham tertentu. Bukan pula sebuah warna yang akan merubah secara total wajah pendidikan kita. Latar belakang ide tersebut tentu tidak terlepas dari renungan, rekaman gejala social(anarkhisme), keprihatinan dan harapan emas munculnya kejayaan bangsa. Untuk itu, pendidikan yang berkarakter akan mampu mencetak generasi bangsa yang cedas, bermartabat dan memiliki akhlak kepribadian yang utama.
Pendidikan karakter perlu diterapkan di satuan pendidikan. Hal ini seiring dengan kurikulum satuan pendidikan yang memiliki substansi mengangkat potensi lokal. Namun KTSP belum bias dijadikan pedoman. KTSP masih abu-abu sehingga arah pendidikan dan muatan –muatan nilai pekerti utama belum tampak.
Gagasan pendidikan karakter di satuan pendidikan dan didukung masyarakat perlu mengandeng dan memasukkan unsur lokalitas. Lokalitas yang nilainya terinternalisasikan dalam perilaku (tata laku) masyarakat. Hal ini akan secara cepat diyakini, dipercayai dan dipraktikkan dalam keseharian. Para pakar perlu merangkum tata nilai lokalitas yang berbobot lalu diramu dalam wadah pendidikan karakter. Lalu karakter yang mana yang akan dijadikan kiblat?
Karakter bangsa Indonesia tidak lepas dari multikulturalisme kebudayaan dan agama serta aspek bangsa yang lain. Kesukuan dan perbedaan adat selama ini mampu menyatukan kebinekaan bangsa. Untuk itu, karakter seperti apa yang akan dijadikan kiblat?Sejarah menyebutkan imperialisme dan kolonialisme pada masa lalu, telah turut membentuk karakter bangsa, termasuk dalam pendidikan kita.
Kita perlu menilik falsafa pendidikan yang diajarkan Ki Hajar Dewantara; ing ngarsa asung tuladha (di depan memberi contoh), ing madya mangunkarsa (di tengah membangun kehendak/kemauan) dan tut wuri handayani (di belakang memberi semangat). Ketiga falsafah tersebut sebenarnya memiliki kandungan nilai karakter yang baik. Ketiganya menjadi ruh pendidikan karakter di negara kita.
Di sisi lain, nilai among atau sistem pamong juga baik diterapkan dalam pendidikan karakter. Pendidikan dengan menerapkan sistem among, memiliki makna ngemong (mengasuh). Seorang pendidik diharapkan mampu mendidik, mengajar dan mengasuh (asah, asih dan asuh). Seorang pamong memiliki watak dan karakter mengasuh anak didiknya. Konsep pendidikan karakter  yang menekankan sistem among akan membentuk lulusan yang berkualitas, secara akademik maupun sikap.
Saat ini kurikulum kita menekankan pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi, seakan kering dari karakter lokal. Sebaiknya ini menjadi koreksi bersama. Di sisi lain, pro kontra Seputar pelaksanaan Ujian Nasional (UN) juga menjadi tanda bahwa pendidikan kita “bermasalah”.Sehingga ide pendidikan karakter sangat membantu untuk mencetak lulusan yang memiliki kompetensi di berbagai bidang.
Jika kita bicara arah dan desain pendidikan, maka kita tidak akan lepas dari kurikulum. Jika ide Kopertis disetujui, maka pandidikan karakter akan menjadi bumbu baru dan perlu dimasukkan dalam kurikulum nasional kita. Kurikulum saja tidak cukup, namun aspek guru juga perlu diperhitungkan. Guru memiliki kereta basa digugu dan ditiru. Ini menyiratkan sebutan guru sebagai seseorang yang memiliki kemampuan yang lebih.
Bahkan Rektor Universitas Negeri Medan  di Koran Suara Merdeka (SM, 21/4/2010) menyebutkan bahwa keberhasilan pendidikan karakter sangat bergantung kepada faktor tenaga pengajar. Ia menilai bahwa seorang pendidik yang berkarakter akan mampu mengasuh anak didiknya lebih berkarakter. Jika ada istilah guru kencing berdiri, murid kencing berlari, maka hal itu bisa saja terjadi jika tenaga pendidik kita tidak berkarakter. Mengajar seadanya saja, mengalir tanpa konsep pembangunan karakter yang memiliki nilai akhlak. Jika nilai itu dilaksanakan dalam desain kurikulum kita, maka nilai itu memiliki bisa pada nilai kejujuran, sikap kesantunan, dan tata perilaku yang bertanggungjawab.
Aspek perilaku saat ini turut membentuk karakter peserta didik. Perilaku yang tidak dikontrol dengan tata nilai positif baik nilai budaya maupun agama, akan cenderung melahirkan watak keras. Kondisi ini bertolak belakang dengan adat ketimuran yang sering kita gaungkan. Ketimuran menjadi identitas dan entitas lokalitas yang memiliki nilai utama. Perilaku yang baik akan mencerminkan pikiran yang baik.
Adat ketimuran selama ini diparadokskan dengan istilah barat. Kebiasaan orang barat yang diidentikan dengan kebebasan (liberalisme) berbeda dengan adat ketimuran yang penuh dengan kepatuhan tata nilai budaya, unggah-ungguh dan kearifan lokal. Jadi, pendidikan karakter itu jelas-jelas sebuah hal yang patut didukung. Hanya saja karakter mana yang akan menjadi kiblat, masih perlu didiskusikan. Misalnya karakter jawa dengan segudang nilai kejawaan akan dapat diterapkan di jawa. Namun belum tentu tepat diterapkan di Papua dan setersunya. Ini menjadi rumusan panjang para pakar. Pendidikan karakter memang menjadi salah satu terobosan baru yang masih dikonsep. Masyarakat Jawa menurt Franz Magnes Suseno dalam Etika Jawa, memiliki prinsip hormat dan rukun. Hal ini juga sebenarnya memiliki korelasi nilai postif dengan nilai agama apa pun yang intinya mengajarkan kebaikan sesama. Di sisi lain kehidupan keraton Jawa juga selalu mengajarkan kearifan nilai karakter yang adi luhung. Hanya saja semua itu masih dalam kejawaan, lalu mana yang akan menjadi kiblat pendidikan karakter?
Ini menjadi bagian yang diharapkan bisa menjembatani antara kebutuhan pendidikan karakter dan  pemenuhan kebutuhan sikap luhur pada lulusannya. Para pakar yang tergabung dalam Kopertis masih berjuang dan mencari inspirasi model pendidikan karakter. Untuk itu pakar perlu melihat kearifan lokal dan muatan imtak dalam ranah agama, budaya lokal dan keyakinan yang hidup di masyarakat.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan menjadi miniatur masyarakat yang sarat dengan nilai. Nilai karakter harus diaplikasikan dalam tata nilai kearifan local; asah, asih, asuh, among dan falsafah yang dicetuskan Ki Hajar Dewantara. Hal itu, akan dapat direduksikan sehingga menjadi model pendidikan karakter. Pendidikan yang tidak kehilangan jati diri sehingga mampu menumbuhkan sikap percaya diri dan mentalitas yang baik. Semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar