Pentingnya Pendidikan Karakter di Sekolah,
Mengapa?
Gejala sosial yang diwarnai suasana chaos,
anarkhis dan gesekan kepentingan menjadi keprihatinan dunia pendidikan
kita. Sempat mengemuka dalam wacana publik dan menyita perhatian publik, dengan
adanya kasus bank century dan kini ontran-ontra markus pajak. Kejadian ini menjadi
tamparan bangsa Indonesia,
lebih-lebih ranah pendidikan kita. Tujuan pendidikan nasional ternyata belum
mampu membentuk karakter dan kepribadian yang santun dan jujur. Kejujuran dan
kesantunan pekerti saat ini, seakan
sekadar iklan dan carut marut pendidikan kita. Inilah, yang menjadi alasan. Koordinator
Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) mereka-reka dan mencari format pendidikan
karakter, sebagimana dimuat dalam Suara Merdeka (SM, 17/4/2010).
Pendidikan saat ini menjadi bagian penting dalam upaya mencetak lulusan
yang memiliki lifeskiil dan soft skiil. Upaya Kopertis menjadi upaya
yang pantas diapresiasi semua pihak, baik pemerintah, satuan pendidikan, dan masyarakat.
Kopertis berpendapat waktu terbanyak anak didik adalah di rumah dan masyarakat.
Di masyarakat disuguhkan berbagai aktifitas sosial, baik yang pantas dicontoh
maupun yang jauh dari kelayakan untuk dijadikan panutan. Pendidikan karakter
dipandang menjadi salah satu alternatif proses pendidikan nasional kita.
Peran media masa cukup memengaruhi alibi dan pembentukkan karakter masyarakat.
Ada pihak yang
menyalahkan kegagalan pendidikan, sehingga korupsi dan anarkhisme merajalela,
lebih-lebih dalam kekuasaan. Siapa pun yang merasa punya kekuasaan (power)
selalu ingin menguasai (kooptasi) yang lemah.
Pendidikan karakter jika disetujui dan disusun format yang baik, disesuaikan
dengan kearifan lokal, tentu akan sinergis dan menjadi menara emas pendidikan
kita. Karakter yang dimaksud harus dapat menumbuhkan sikap pekerti yang luhur,
kesantunan, kejujuran, empati dan kedisiplinan. Itu saja barangkali belum
cukup, sehingga perilaku Gayus Tambunan Cs misalnya, menjadi suatu gerakan
bawah tanah yang membahayakan. Markus pajak dan kasus korupsi pejabat kita,
menjadi suatu model yang jauh dari azas kepantasan. Masyarakat bisa melihat dan
menyaksikan alur kejadian sosial. Markus pajak menjadi bukti kegagalan
pendidikan nasional kita.
Ide Kopertis mengenai pendidikan karakter menjadi isu segar dalam upaya
reformasi pendidikan nasional. Karakteristik bisa dikorelasikan dengan nilai
budi pekerti luhur yang dibungkus dalam kearifan lokal. Kemmapuan dan nilai
lokalitas perlu dijadikan menu pokok dalam pendidikan karakter. Di sisi lain
pendidikan agama juga perlu dimasukkan. Sehingga ada nuansa baru dalam muatan
kurikulum kita. Apakah perlu kurikulum pendidikan karakter?
Jawaban panjang rencana pendidikan karakter butuh waktu. Sederetan
harapan itu menjadi horizon baru bagi bangsa kita. Bangsa yang konon sedang
mengalami kebuntuan ide segar untuk sebuah kearifan dan jati diri. Pendidikan
selama ini dikembangkan seakan diartikan ada upaya pemiskinan nilai dan
pembangunan karakter.
Karakter yang diharapkan mampu mengakomodasi segenap unsur kearifan lokal,
agama dan nilai sosial budaya lain. Ramuan dan racikan pendidikan karakter akan
menjadi rencana cerdas dunia pendidikan kita, jika para pakar dalam wadah
Kopertis mampu merangkul dan menemukan format yang bagus. Kita tidak usah
bicara muluk dan idealis mengenai bentuk pendidikan, namun paling tidak mampu
menuangkan ide, lebih-lebih ide pembaharuan yang bisa meningkatkan percaya diri
bangsa kita.
Bukan Doktrin
Ide pendidikan karakter bukan sebuah doktrin yang akan membawa arah pendidikan
kita ke suatu paham tertentu. Bukan pula sebuah warna yang akan merubah secara
total wajah pendidikan kita. Latar belakang ide tersebut tentu tidak terlepas
dari renungan, rekaman gejala social(anarkhisme), keprihatinan dan harapan emas
munculnya kejayaan bangsa. Untuk itu, pendidikan yang berkarakter akan mampu
mencetak generasi bangsa yang cedas, bermartabat dan memiliki akhlak
kepribadian yang utama.
Pendidikan karakter perlu diterapkan di satuan pendidikan. Hal ini seiring
dengan kurikulum satuan pendidikan yang memiliki substansi mengangkat potensi lokal.
Namun KTSP belum bias dijadikan pedoman. KTSP masih abu-abu sehingga arah pendidikan
dan muatan –muatan nilai pekerti utama belum tampak.
Gagasan pendidikan karakter di satuan pendidikan dan didukung masyarakat
perlu mengandeng dan memasukkan unsur lokalitas. Lokalitas yang nilainya terinternalisasikan
dalam perilaku (tata laku) masyarakat. Hal ini akan secara cepat diyakini,
dipercayai dan dipraktikkan dalam keseharian. Para
pakar perlu merangkum tata nilai lokalitas yang berbobot lalu diramu dalam
wadah pendidikan karakter. Lalu karakter yang mana yang akan dijadikan kiblat?
Karakter bangsa Indonesia
tidak lepas dari multikulturalisme kebudayaan dan agama serta aspek bangsa yang
lain. Kesukuan dan perbedaan adat selama ini mampu menyatukan kebinekaan
bangsa. Untuk itu, karakter seperti apa yang akan dijadikan kiblat?Sejarah
menyebutkan imperialisme dan kolonialisme pada masa lalu, telah turut membentuk
karakter bangsa, termasuk dalam pendidikan kita.
Kita perlu menilik falsafa pendidikan yang diajarkan Ki Hajar Dewantara; ing ngarsa asung tuladha (di depan
memberi contoh), ing madya mangunkarsa
(di tengah membangun kehendak/kemauan) dan tut
wuri handayani (di belakang memberi semangat). Ketiga falsafah tersebut sebenarnya
memiliki kandungan nilai karakter yang baik. Ketiganya menjadi ruh pendidikan
karakter di negara kita.
Di sisi lain, nilai among atau sistem pamong juga baik diterapkan dalam
pendidikan karakter. Pendidikan dengan menerapkan sistem among, memiliki makna ngemong (mengasuh). Seorang pendidik
diharapkan mampu mendidik, mengajar dan mengasuh (asah, asih dan asuh). Seorang
pamong memiliki watak dan karakter mengasuh anak didiknya. Konsep pendidikan
karakter yang menekankan sistem among
akan membentuk lulusan yang berkualitas, secara akademik maupun sikap.
Saat ini kurikulum kita menekankan pada penguasaan ilmu pengetahuan dan
teknologi informasi, seakan kering dari karakter lokal. Sebaiknya ini menjadi
koreksi bersama. Di sisi lain, pro kontra Seputar pelaksanaan Ujian Nasional
(UN) juga menjadi tanda bahwa pendidikan kita “bermasalah”.Sehingga ide
pendidikan karakter sangat membantu untuk mencetak lulusan yang memiliki
kompetensi di berbagai bidang.
Jika kita bicara arah dan desain pendidikan, maka kita tidak akan lepas
dari kurikulum. Jika ide Kopertis disetujui, maka pandidikan karakter akan
menjadi bumbu baru dan perlu dimasukkan dalam kurikulum nasional kita.
Kurikulum saja tidak cukup, namun aspek guru juga perlu diperhitungkan. Guru
memiliki kereta basa digugu dan
ditiru. Ini menyiratkan sebutan guru sebagai seseorang yang memiliki kemampuan
yang lebih.
Bahkan Rektor Universitas Negeri Medan di Koran Suara Merdeka (SM, 21/4/2010) menyebutkan bahwa
keberhasilan pendidikan karakter sangat bergantung kepada faktor tenaga
pengajar. Ia menilai bahwa seorang pendidik yang berkarakter akan mampu
mengasuh anak didiknya lebih berkarakter. Jika ada istilah guru kencing
berdiri, murid kencing berlari, maka hal itu bisa saja terjadi jika tenaga
pendidik kita tidak berkarakter. Mengajar seadanya saja, mengalir tanpa konsep
pembangunan karakter yang memiliki nilai akhlak. Jika nilai itu dilaksanakan
dalam desain kurikulum kita, maka nilai itu memiliki bisa pada nilai kejujuran,
sikap kesantunan, dan tata perilaku yang bertanggungjawab.
Aspek perilaku saat ini turut membentuk karakter peserta didik. Perilaku
yang tidak dikontrol dengan tata nilai positif baik nilai budaya maupun agama,
akan cenderung melahirkan watak keras. Kondisi ini bertolak belakang dengan adat
ketimuran yang sering kita gaungkan. Ketimuran menjadi identitas dan entitas
lokalitas yang memiliki nilai utama. Perilaku yang baik akan mencerminkan
pikiran yang baik.
Adat ketimuran selama ini diparadokskan dengan istilah barat. Kebiasaan
orang barat yang diidentikan dengan kebebasan (liberalisme) berbeda dengan adat
ketimuran yang penuh dengan kepatuhan tata nilai budaya, unggah-ungguh dan
kearifan lokal. Jadi, pendidikan karakter itu jelas-jelas sebuah hal yang patut
didukung. Hanya saja karakter mana yang akan menjadi kiblat, masih perlu
didiskusikan. Misalnya karakter jawa dengan segudang nilai kejawaan akan dapat
diterapkan di jawa. Namun belum tentu tepat diterapkan di Papua dan setersunya.
Ini menjadi rumusan panjang para pakar. Pendidikan karakter memang menjadi
salah satu terobosan baru yang masih dikonsep. Masyarakat Jawa menurt Franz Magnes
Suseno dalam Etika Jawa, memiliki prinsip hormat dan rukun. Hal ini juga sebenarnya
memiliki korelasi nilai postif dengan nilai agama apa pun yang intinya mengajarkan
kebaikan sesama. Di sisi lain kehidupan keraton Jawa juga selalu mengajarkan
kearifan nilai karakter yang adi luhung. Hanya saja semua itu masih dalam
kejawaan, lalu mana yang akan menjadi kiblat pendidikan karakter?
Ini menjadi bagian yang diharapkan bisa menjembatani antara kebutuhan
pendidikan karakter dan pemenuhan
kebutuhan sikap luhur pada lulusannya. Para
pakar yang tergabung dalam Kopertis masih berjuang dan mencari inspirasi model
pendidikan karakter. Untuk itu pakar perlu melihat kearifan lokal dan muatan imtak
dalam ranah agama, budaya lokal dan keyakinan yang hidup di masyarakat.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan menjadi miniatur masyarakat yang sarat
dengan nilai. Nilai karakter harus diaplikasikan dalam tata nilai kearifan local;
asah, asih, asuh, among dan falsafah yang dicetuskan Ki Hajar Dewantara. Hal
itu, akan dapat direduksikan sehingga menjadi model pendidikan karakter.
Pendidikan yang tidak kehilangan jati diri sehingga mampu menumbuhkan sikap
percaya diri dan mentalitas yang baik. Semoga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar