Revitalisasi
Nilai Sumpah Pemuda dalam Ranah Pendidikan
Rapuhnya tembok demokrasi,
jebolnya tembok kejujuran merupakan tidak kokohnya pondasi pendidikan karakter
dan budaya bangsa serta muatan religiusitas yang diertai praktik sosialnya.
Penulis sepakat dengan frase; sumpah pemuda, pendidikan karakter dan
kebudayaan. Kebudayaan menjadi nilai penting dan telah dibuktika oleh para guru
kita terdahulu. Spirit sumpah pemuda, karakter dan pendidikan kebudayaan
menjadi kekuatan yang kini masih bias
diharapkan. Lalu bagaimana sebaiknya ranah pendidikan bersikap?
Semangat dan nilai sumpah pemuda nyata-nyata juga melahirkan nilai nasinalisme.
Nilai yang mengutamakan semangat kebangsaan, namun memangkas aspek kedaerahan
yang kuat kala itu. Kini kesadaran untuk bersatu muncul lagi. Pemerintah
menggalangkan gerakan pendidikan karakter, terakhir dengan kebijakan perubahan
nama kementrian.
Nilai sumpah pemuda menjadi
aplikatif ketika dilaksanakan dalam pendidikan karakter di sekolah. Sekolah
menjadi miniature masyarakat dan miniature kebangsaan yang kompleks dan sarat
nilai. Sudah waktunya sekolah menerapkan nilai-nilai semangat sumpah pemuda
dalam aktifitas yang semestinya, bukan sekadar teori belakan.
Jika zaman orba kita
mengenal system penataran P4, yang
dengan doktrinnya ampuh membekas dalam ingatan namun rapuh dalam aplikasinya.
Kini, semangat nilai sumpah pemuda harus dirintis kembali dalam tindakan nyata.
Paradigma pembelajaran di kelas perlu diubah dalam balutan semangat sumpah
pemuda. Kepemudaan menjadi ruh yang kuat pendidikan karakter berkebudayaan.
Tepat jika kini pemerintah melalui dinas pendidikan, menerapkan Pendidikan
Karakter dan Budaya Bangsa (PKPB).
Ruh dari PKPB merupakan kotemplasi pendidikan
karakter, kebudayaan dan perlu pula mengambil ruh sumpah pemuda.
Untuk itu, pertama Dinas
pendidikan merumuskan kembali arah PKPB sampai ke bentuk pelaporannya kepada
orangtua siswa. Dinas perlu mencari format alternative pendidikan karakter dan
budaya bangsa melalui pembangkitan atau revitalisasi nilai sumpah pemuda. Di
usia ke -83 Sumpah Pemuda sebaiknya bukan lagi sekadar ceremonial belaka,
sehingga siswa sekadar tahu kerangka luarnya saja.
Kedua, pada tataran sekolah perlu
mengadakan berbagai kegiatan aplikatif untuk mengaplikasikan nilai sumpah
pemuda. Misalnya kegiatan lomba, kegiatan kunjungan ke tokoh kebangsaan,
mendatangkan pakar dan studi kebudayaan. Di sisi lain, siswa akan merasa
memiliki semangat nesionalisme, jika sudah pernah melakukan study kebudayaan.
Secara empiris, sekolah perlu melakukan tindakan riil untuk menerapkan semangat
sumpah pemuda. Guru menjadi bagian yang penting untuk mengkaji kembali nilai
sumpah pemuda kemudian disisipkan dalam pembelajaran dan penilaian peri laku.
Ranah psikomotorik, social siswa juga menjadi pertimbangan khusus untuk
kenaikan kelas atau kelulusan, jika selama ini tumpuan kelulusan dan kenaikan
kelas sekadar nilai angka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar