Senin, 28 November 2011

Revitalisasi Nilai Sumpah Pemuda dalam Ranah Pendidikan

Rapuhnya tembok demokrasi, jebolnya tembok kejujuran merupakan tidak kokohnya pondasi pendidikan karakter dan budaya bangsa serta muatan religiusitas yang diertai praktik sosialnya. Penulis sepakat dengan frase; sumpah pemuda, pendidikan karakter dan kebudayaan. Kebudayaan menjadi nilai penting dan telah dibuktika oleh para guru kita terdahulu. Spirit sumpah pemuda, karakter dan pendidikan kebudayaan menjadi  kekuatan yang kini masih bias diharapkan. Lalu bagaimana sebaiknya ranah pendidikan bersikap?
Semangat dan nilai sumpah pemuda  nyata-nyata juga melahirkan nilai nasinalisme. Nilai yang mengutamakan semangat kebangsaan, namun memangkas aspek kedaerahan yang kuat kala itu. Kini kesadaran untuk bersatu muncul lagi. Pemerintah menggalangkan gerakan pendidikan karakter, terakhir dengan kebijakan perubahan nama kementrian.
Nilai sumpah pemuda menjadi aplikatif ketika dilaksanakan dalam pendidikan karakter di sekolah. Sekolah menjadi miniature masyarakat dan miniature kebangsaan yang kompleks dan sarat nilai. Sudah waktunya sekolah menerapkan nilai-nilai semangat sumpah pemuda dalam aktifitas yang semestinya, bukan sekadar teori belakan.
Jika zaman orba kita mengenal  system penataran P4, yang dengan doktrinnya ampuh membekas dalam ingatan namun rapuh dalam aplikasinya. Kini, semangat nilai sumpah pemuda harus dirintis kembali dalam tindakan nyata. Paradigma pembelajaran di kelas perlu diubah dalam balutan semangat sumpah pemuda. Kepemudaan menjadi ruh yang kuat pendidikan karakter berkebudayaan. Tepat jika kini pemerintah melalui dinas pendidikan, menerapkan Pendidikan Karakter dan Budaya Bangsa (PKPB).
Ruh dari PKPB merupakan kotemplasi pendidikan karakter, kebudayaan dan perlu pula mengambil ruh sumpah pemuda.
Untuk itu, pertama Dinas pendidikan merumuskan kembali arah PKPB sampai ke bentuk pelaporannya kepada orangtua siswa. Dinas perlu mencari format alternative pendidikan karakter dan budaya bangsa melalui pembangkitan atau revitalisasi nilai sumpah pemuda. Di usia ke -83 Sumpah Pemuda sebaiknya bukan lagi sekadar ceremonial belaka, sehingga siswa sekadar tahu kerangka luarnya saja.
Kedua, pada tataran sekolah perlu mengadakan berbagai kegiatan aplikatif untuk mengaplikasikan nilai sumpah pemuda. Misalnya kegiatan lomba, kegiatan kunjungan ke tokoh kebangsaan, mendatangkan pakar dan studi kebudayaan. Di sisi lain, siswa akan merasa memiliki semangat nesionalisme, jika sudah pernah melakukan study kebudayaan. Secara empiris, sekolah perlu melakukan tindakan riil untuk menerapkan semangat sumpah pemuda. Guru menjadi bagian yang penting untuk mengkaji kembali nilai sumpah pemuda kemudian disisipkan dalam pembelajaran dan penilaian peri laku. Ranah psikomotorik, social siswa juga menjadi pertimbangan khusus untuk kenaikan kelas atau kelulusan, jika selama ini tumpuan kelulusan dan kenaikan kelas sekadar nilai angka.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar