Senin, 28 November 2011


Bencana dan Pendidikan Peduli Lingkungan
Oleh. Tukijo

Musim hujan kini telah tiba, semua pihak perlu mengantisipasi datangnya bencana banjir. Banjir tak selamanya disebabkan oleh alam, namun turut pula diakibatkan oleh perilaku manusianya. Sekolah-sekolah di daerah bencana wajib siaga dan bersiap-siap menghadapi bencana. Banjir selama ini turut menghancurkan sarana pendidikan dan terpaksa pembelajaran juga diliburkan. Kondisi pembelajaran di daerah bencana sangat tidak efektif. Untuk itu, bagaimana sebaiknya guru, dan siswa mengantisipasi bencana banjir?
Persoalan klasik banjir sering melumpuhkan pembelajaran di sekolah. Tak jarang ruang belajar siswa tergenang air, sehingga siswa terpaksa diliburkan atau terpaksa belajar di tempat sementara pengungsian. Kendala pembelajaran di daerah bencana sangat tidak kondusif, sehingga siswa lah yang menjadi korban.
Melihat persoalan ini, pendidikan peduli lingkungan perlu ditanamkan sejak dini. Kepedulian menjadi salah satu pilar nilai karakter. Guru perlu memberikan pemahaman hakikat bencana. Pemahaman yang dimaksud siswa dan guru dapat mengaplikasikan indikator karakter yang sudah disepakati. Lingkungan menjadi penting bagi keberadaan sekolah. Sehingga keberlangsungan belajar siswa bisa terjaga.
Untuk itu, sekolah perlu menyisipkan pendidikan peduli bencana. Sisipan itu bisa membekali siswa agar bisa melakukan tindakan preventif bencana banjir.  Kita tahu sekolah-sekolah yang berada di area rawan bencana tetap harus waspada karena bencana sewaktu-waktu bisa terjadi. Siswa perlu mengetahui tata cara evakuasi darurat jika terjadi bencana. Paling tidak kemampuan dasar siswa untuk tanggap bencana bisa menyelamatkan diri mereka sendiri.
Selain itu, guru perlu membimbing siswa untuk melakukan simulasi penyelamatan dini bencana. Teknik ini bisa dilakukan oleh sekolah sendiri maupun kerja sama dengan dinas terkait. Tujuannya siswa akan memiliki bekal  dasar evakuasi bencana. Siswa juga mendapatkan informasi empiris jika akan terjadi bencana banjir khususnya. Di sisi lain di tiap sekolah perlu diberi sarana evakuasi bencana yang memadai. Kelengkapan sarana ini misalnya perahu karet dan peralatan lain.
Sekolah memerlukan tenaga yang handal
Selanjutnya, dinas pendidikan melakukan pemetaan sekolah-sekolah yang rawan bencana. Data ini bisa diperoleh langsung dari satuan pendidikan dan bisa dijadikan sebagai data awal penanganan bencana. Data dari dinas pendidikan bisa diteruskan ke dinas terkait, sehingga meminimalisasi kerusakan infrastruktur sekolah. Melalui pemetaan sekolah, akan dapat dijadikan ilustrasi, sehingga sekolah bisa mengantisipasi jika ada bencana. Begitu pula dinas pendidikan dan dinas lainnya. Dampak bencana selama ini bagi sekolah-sekolah yaitu rusaknya gedung atau ruang kelas. Karena kerusakan sarana sekolah bisa melumpuhkan pembelajaran.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar