Bencana
dan Pendidikan Peduli Lingkungan
Oleh.
Tukijo
Musim
hujan kini telah tiba, semua pihak perlu mengantisipasi datangnya bencana
banjir. Banjir tak selamanya disebabkan oleh alam, namun turut pula diakibatkan
oleh perilaku manusianya. Sekolah-sekolah di daerah bencana wajib siaga dan
bersiap-siap menghadapi bencana. Banjir selama ini turut menghancurkan sarana
pendidikan dan terpaksa pembelajaran juga diliburkan. Kondisi pembelajaran di
daerah bencana sangat tidak efektif. Untuk itu, bagaimana sebaiknya guru, dan
siswa mengantisipasi bencana banjir?
Persoalan
klasik banjir sering melumpuhkan pembelajaran di sekolah. Tak jarang ruang
belajar siswa tergenang air, sehingga siswa terpaksa diliburkan atau terpaksa
belajar di tempat sementara pengungsian. Kendala pembelajaran di daerah bencana
sangat tidak kondusif, sehingga siswa lah yang menjadi korban.
Melihat
persoalan ini, pendidikan peduli lingkungan perlu ditanamkan sejak dini.
Kepedulian menjadi salah satu pilar nilai karakter. Guru perlu memberikan
pemahaman hakikat bencana. Pemahaman yang dimaksud siswa dan guru dapat mengaplikasikan
indikator karakter yang sudah disepakati. Lingkungan menjadi penting bagi
keberadaan sekolah. Sehingga keberlangsungan belajar siswa bisa terjaga.
Untuk
itu, sekolah perlu menyisipkan pendidikan peduli bencana. Sisipan itu bisa
membekali siswa agar bisa melakukan tindakan preventif bencana banjir. Kita tahu sekolah-sekolah yang berada di area
rawan bencana tetap harus waspada karena bencana sewaktu-waktu bisa terjadi.
Siswa perlu mengetahui tata cara evakuasi darurat jika terjadi bencana. Paling
tidak kemampuan dasar siswa untuk tanggap bencana bisa menyelamatkan diri
mereka sendiri.
Selain
itu, guru perlu membimbing siswa untuk melakukan simulasi penyelamatan dini
bencana. Teknik ini bisa dilakukan oleh sekolah sendiri maupun kerja sama
dengan dinas terkait. Tujuannya siswa akan memiliki bekal dasar evakuasi bencana. Siswa juga
mendapatkan informasi empiris jika akan terjadi bencana banjir khususnya. Di
sisi lain di tiap sekolah perlu diberi sarana evakuasi bencana yang memadai.
Kelengkapan sarana ini misalnya perahu karet dan peralatan lain.
Sekolah
memerlukan tenaga yang handal
Selanjutnya,
dinas pendidikan melakukan pemetaan sekolah-sekolah yang rawan bencana. Data
ini bisa diperoleh langsung dari satuan pendidikan dan bisa dijadikan sebagai
data awal penanganan bencana. Data dari dinas pendidikan bisa diteruskan ke
dinas terkait, sehingga meminimalisasi kerusakan infrastruktur sekolah. Melalui
pemetaan sekolah, akan dapat dijadikan ilustrasi, sehingga sekolah bisa
mengantisipasi jika ada bencana. Begitu pula dinas pendidikan dan dinas
lainnya. Dampak bencana selama ini bagi sekolah-sekolah yaitu rusaknya gedung
atau ruang kelas. Karena kerusakan sarana sekolah bisa melumpuhkan
pembelajaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar