Selasa, 29 November 2011

ARTIKEL PENDIDIKAN

Perlunya Bimbingan Teknis Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter kini santer terdengar di kalangan pendidikan. Seakan sekolah dan guru lah yang paling bersalah dengan maraknya degradasi moral termasuk korupsi. Disinyalir jamaknya praktik korupsi menjadi kesalah sistemik, termasuk peran sekolah dan guru di dalamnya. Sehingga dipandang perlunya amunisi pendidikan karakter yang diharapkan bisa efektif. Hanya saja, praktiknya di sekolah belum maksimal.
Pemerintah mulai tahun ajaran 2011/2012 memberlakukan pendidikan karakter di tiaptiap jenjang pendidikan. Disepakati sejak awan bahwa pendidikan karakter bukanlah suatu mata pelajaran yang berdiri sendiri, melainkan include dalam mata pelajaran nasional maupun muatan lokal yang ada di sekolah. Tak aya lagi guru pun kini dihadapkan pada upaya efektifitas pendidikan karakter di kelas.
Kita ketahui bahwa nilai karakter yang ada sudah dirumuskan sejumlah 19 nilai. Masing-masing nilai tersebut jika diterapkan secara total bisa saja ampuh. Tahap awal nilai karakter itu disisipkan pada silabus mata pelajaran, lalu lebih rinci lagi dikembangkan di rencana pelaksanaan pembelajaran(RPP).Pada tahap ini guru bisa diasumsikan sudah bisa melakukannya. Persoalan lain muncul, jika guru masih saja samar-samar mengaplikasikannya di dalam kelas.
Fakta di lapangan guru masih kebingungan menerapkan pendidikan karakter. Pasalnya guru merupakan ujung tombak penerapan karakter,jika dilihat dari sudut pandang bahwa sekolah memiliki tanggungjawab penuh.  Jamak kita dengar jika ada masalah-masalah social muncul, maka ujung-ujungnya sekolah/pendidikan yang selalu mesti tanggungjawab. Nilai karakter dijabarkan dalam langkah-langkah pembelajaran tiap mata pelajaran. Bagi guru menyusun rencana semacam itu barangkali bukan suatu pekerjaan yang rumit. Hanya saja, permasalahan terjadi pada ranah aplikasinya.
Untuk itu, sebaiknya dilakukan langkah praktis, antara lain: pertama dinas pendidikan segera melakukan bimbingan teknis ke sekolah dengan membentuk tim pendidikan karakter. Dengan hal itu guru akan mendapatkan bimbingan langsung. Karena pendidikan karakter merupakan keinginan bersama, jadi tidak serta merta dibebankan pada pundak guru. Kedua, sekolah sekolah segera membentuk tim pendidikan karakter pada level terendah adalah guru yang harus menerapkannya. Unsur di dalam tim bisa saja komite sekolah, praktisi pendidikan, tokoh masyarakat, babinsa dan sebagainya.
Langkah ketiga, adanya bimbingan yang bersifat teknis(bintek) dari dinas, maupun perguruan tinggi. Perguruan tinggi yang ada bisa melakukan kerja sama penelitian pendidikan karakter di sekolah, atau melalui program in house training untuk membekali guru. Hal ini dianggap sangat efektif jika dilakukan secara kompak.
Sinergitas pendidikan karakter di sekolah ke depan akan bisa menghasilkan semangat baru, baik bagi siswa maupun guru yang merupakan sumber daya manusia bangsa ini.Bagi guru, pendidikan karakter menjadi pembangunan aspek moral dan budi pekerti. Prinsip ini mendasari agar dalam bekerja/mengajar bukan semata bukan karena uang, namun lebih pada bentuk tanggungjawab moral.






















Tidak ada komentar:

Posting Komentar