Minggu, 22 April 2012

UN Hari Pertama Bahasa Indonesia

Ujian Nasional jenjang SMP/MTs dimulai hari ini Senin 23 hingga 26 April 2012. Mata uji hari pertama yaitu Bahasa Indonesia yang berjumlah 50 soal pilihan ganda dengan 5 jenis variasi soal. Dengan waktu yang disediakan 120 menit, dengan asumsi dimulai pukul 08.00 berakhri pukul 10.00 WIB, peserta harus mampu menjawb lalu menjawab pada LJUN yang sudah disediakan. 
Pengawas ruang membawa 1 amplop besar yang berisi 3 amplop berisi soal utama, LJUN dan amplop pengembalian LJUN sebelum dipindai. Daftar hadir dan berita acara terdiri 3 rangkap, serta pakta integritas yang harus diisi pengawas 2 orang.

Rabu, 18 April 2012

Guru Bahasa Jawa, Piye Jal?

Menggunakan bahasa jawa krama kini menjadi momok bagi generasi muda jawa. Bahkan orangtua jawa pun sudah merasa asing dengan bahasa jawa..Ironi pendidikan ketrampilan bahasa jawa kan?Nah,bahasa jawa tiada guna jika selalu diukur dengan materi. Berbicara menggunakan bahasa jawa krama kini menjadi hal yang langka.
Bahasa jawa di sekolah kian terlibas oleh desakkan bahasa asing, bahkan bahasa lain. Ini menjadi keprihatinan bersama. Guru bahasa jawa harus sabar dan sadar bahwa ada ancaman bahasa jawa yang akut. Lalu tanggungjawab siapa ini semua???

Selasa, 17 April 2012

Saatnya Si Cerewet Menangis

Semua butuh kepastian dan kesabaran, jangan asal saja.Coba lah memahami oranglain. Jangan samakan orang lain dengan diri anda. Kata-kata itu karakter, berkata dengan baik itu penting supaya tidak menjadi bara api permusuhan. Mungkin sepintas tidak menjadi penting bagi orang lain. Tapi ingatlah bahwa sense orang per orang tidak sama. Kadang galau tiap kali menghadapi hubungan yang tidak sehat baik dengan anggota keluarga maupun dengan sesama teman.
Paling tidak itulah yang menjadi permasalah yang kita lihat dan alami. Ah, biasa saja dech mecki demikian kadang banyak manusia yang enggan memahami dirinya. Keinginannya agar orang lain selalu takluk di bawa ketiaknya. Bisa saja dibahasakan demikian, karena biasanya kata-kata sarkasme sangat membekas. Coba lah kita biasa santun dalam berkata, menyapa oranglain. Tentu hati nyaman dan hidup tentram...

Rabu, 11 April 2012

Ujian wis meh dilakoni dening para siswa. Siswa SD nganti SMA/SMK wis kudu miwiti priatin amrih kasembadan lulus paripurna anggene nglakoni ujian. Ujian iku lumrah dilakoni, ya mawi ujian kuwi bisa kelakon lan angsal winih kang apik lan"berkualitas".
Ujian iku lumrah, dadi aja ngresula wae. Sing wigati...ayo padha ujian kanthi tenanan, aja nyontho, aja gelem percaya marang tumindak culika, licik lan ora pakra.

OASE ALAM

Bencana kini melanda Aceh dan pulau Sumatra. Di saat usai Pemilukada Aceh, ternyata alam menyapa dan membuat kaget masyarakat Aceh dan sekitarnya. Jika kita baca, dan renungkan alam pun menyapa dan ikut bereaksi, apalagi masyarakat yang nyata berperan dalam kehidupannya. Bencana tak bisa dipungkiri dan tak bisa dibendung, karena kuasa alam yang menggerakkan adalah Allah Swt.
Sebagai masayarkat dan manusia, kita berusaha agar selamat dari bencana. Dengan ikhtiar dan sabar menghadapi ujian berupa bencana, maka semua akan menjadi bagian dari ujian kesabaran kita. Indonesia menjadi bagian yang tak luput dari bencana.
Seakan negara kita langganan bencana yang menjadi keprihatinan dunia. Kondisi pluralisme dan kepulauan, menjadikan negara kita rawan bencana. Kesadaran kita sebagai manusia penghuni bumi ini, sebaiknya menjadikan bencana sebagai ujian dan seleksi kesabaran kita.
Nah, gempa 8,5 SR ini menjadi bukti bahwa kekuatan alam sangat dasyata. Masyarakat dan anak-anak khususnya, tentu saja trauma dan ingin selamat. Keselamatan itu mutlak, dibanding harta benda yang berjibun. Sebaiknya, semua turut memperhatikan perubahan-perubahan alam itu, agar bisa mengantisipasinya.Salam

Satleraman

Srawung iku wigati tumraping manungsa yekt. Sejatine srawung iku menehi ati lerem, ati jembar, kebak pamawas. Akeh manungsa kang ora bisa srawung amarga lingsem, dumeh, sombong lan liyane. Kebak pangarep-arep, menawa isih ana wong kang gelem srawung. Sarjoning srawung kudu gelem tepa slira marang liyan, ora kena dumeh.
Para pejabat ora kena dumeh, sing rakyat papa sudra uga ora kena sambat lan ngresula, apa maneh dumeh lan jumawah. Sing penting saiki, kang ningrat lan kang sudra padha cancut tali wanda, amemangun karyenaktyasing sasami.
Saiki wis dadi lumrahe yen manungsa kudu gelem srawung. Apa maneh "srawun" mring Gusti kang Maha Agung. Wong saiki mung ngegungake watak ugal-ugalan, ora predhuli marang liyan, wusanane ya anane mung padudon, ora predhuli, lan "egois".
Iki kang dadi dhudutane rembug lan sauger amung ngudarasa, maca kahanan saiki kang wus kumitir.

Selasa, 10 April 2012

Bahasa Jawa' " Sekarat"

PErda Bahasa Jawa di Jawa Tengah sedang dogodok anggota dewan sekita 90 persen konon penyelesaiannya. Nah, bahasa jawa akan memiliki payung hukum kuat, namun ada saja pihak yang menganggap biasa-biasa saja, tak ada yang luar biasa dari perda itu.
Keberadaan perda sekadar payung hukum, hanya saja pelaksanaan di lapangan perlu dokontrol. Masih banyak sekolah-sekolah yang mengajarkan bahasa jawa hanya 1 jam perminggu. Ironis kan?
BAhasa jawa kian ditinggalkan generasi muda jawa. Padahal penutur jawa tersebar di seluruh nusantara bahkan banyak yang di luar negeri. Kondisi ini tentu akan menyuburkan bahasa jawa.Hanya saja, kemauan besar itu, dihantam badai globalisasi dan hedonisme, sehingga bahasa jawa sekadar mimpi bila akan tetap eksis.

Rabu, 04 April 2012

ARTIKEL

NASKAH FEATURE

Meraih Berkah dengan Bank Sampah
Oleh. Tukijo

Pengelolaan sampah menjadi persoalan pelik. Bahkan di beberapa daerah kewalahan, sampai-sampai Perda tentang sampah pun tidak mampu lagi menyadarkan masyarkat. Bukan tanpa sebab,inti permasalahan terletak pada kesadaran dan mindset masyarakatnya. Jujur, masyarakat kita masih memandang bahwa sampah itu sesuatu yang kotor, menjijikkan dan tidak berguna sehingga sampah dibuang begitu saja. Pola pikir demikian sangat menghambat pengelolaan sampah di negara kita. Sampah menjadi salah satu sebab munculnya beragam penyakit dan permasalahan lingkungan. Kini saatnya menumbuhkan cleaner technology dengan membangun bank sampah. Lalu menjadikan sampah sebagai kebutuhan, bukan musuh.
Kesadaran masyarakat kita terhadap sampah masih kurang. Anggapan masyarakat bahwa sampah setelah dibuang menjadi tugas pemerintah untuk mengurusnya. Ini yang keliru dari sikap masyarakat kita. Sampah yang kita hasilkan setiap hari menjadi tanggungjawab bersama. Di Jepang sampah menjadi barang mahal dan bernilai ekonomis. Bayangkan saja, Jepang dengan kemajuan teknologinya mampu menyulap sampah menjadi produk baru yang siap dipasarkan. Hal itu, tidak lepas dari regulasi pemerintah Jepang yang tegas dan tumbuhnya kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah.
Sampah yang selama ini kita hasilkan, masih belum bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Tingkat pemahaman baru sebatas reduse( mengurangi), reuce( memakai ulang) dan recycling(daur ulang). Langkah tersebut kini perlu ditambah dengan rethink(memikirkan),dan recovery (memperbaiki). Meskipun saat ini sudah mampu memanfaatkan sampah namun baru jenis organik yang diolah menjadi pupuk organik. Pupuk organik ini bisa dimanfaatkan untuk memupuk tanaman atau bahkan dijual dalam kemasan.
Di Semarang misalnya, permasalahan sampah masih menjadi kendala serius selain permasalahan rob. Meskipun saat ini sudah dibangun TPA Jatibarang namun belum maksimal. Kita ketahui di Semarang setiap hari terkumpul sampah sekitar 4.725 m3, namun dengan 400 truk sampah belum sepenuhnya bisa terangkut, masih ada sekitar 568 m3. Dengan kondisi kota Semarang yang padat penduduknya, bisa saja Semarang kelak akan “terkubur” sampah.
Melihat permasalahan tersebut, pemerintah perlu melakukan langkah-langkah preventif dengan alternatif-alternatif praktis ekonomis sehingga masyarakat memiliki kesadaran mengelola sampah dengan baik. Selama ini pengolahan sampah organik sudah bisa dilakukan masyarakat. Hanya saja jenis sampah anorganik masih belum bisa maksimal. Jika ada, itu pun masih sebatas pemulung yang memungutnya lalu dikumpulkan dan dijual.
Budaya tanggungjawab mengelola sampah belum menjadi karakter masyarakat. Salah satu cara yang bisa diterapkan yaitu dengan mendirikan bank sampah. Bank sampah menjadi salah satu strategi penyadaran masyarakat untuk memanfaatkan sampah, menjadi berkah berlimpah. Siapa sanggup?
Berkah Bank Sampah
Bank sampah yang dimaksud yakni mengelola secara mandiri sampah untuk didaur ulang. Sampah yang dimaksud yaitu sampah plastik, botol, kertas, dan kaleng minuman ringan. Sampah ini akan diubah menjadi barang setengah jadi, yang nantinya akan dijual ke industri. Jadi, layaknya bank nasabah setiap hari bisa menyetorkan sampah. Nasabah mendapatkan rekening bank sampah seperti pada umumnya. Inilah, berkah yang bisa dipetik dari sampah.
Mungkin ada yang berpikiran negatif bahwa dengan bank sampah masyarakat akan menjadi pemulung, namun kita coba hitung ulang. Misalnya saja di Semarang diterapkan di sekolah-sekolah, maka sampah yang saban harinya menggunung bisa berkurang. Adanya bank sampah sekolah, memiliki keunggulan yaitu menjaga kebersihan dan menciptakan pelajar yang berwawasan lingkungan. Kita asumsikan di Semarang ada 42 SMP negeri. Kita ambil contoh di SMP Negeri 17 Semarang saja ada 750 siswa. Jika pada hari Senin setiap siswa diwajibkan membawa 1 plastik bekas minuman, maka akan ada 750 botol dengan berat 1, 261 kg dan harga Rp. 2.500 /kg. Sehingga total pendapatan SMP 17 Semarang pada hari Senin adalah Rp. 2,4 juta. Angka yang luar biasa bukan? Itu baru satu hari, kita coba kalkulasikan per bulannya bisa mendapatkan dana berapa banyak?
Sampah plastik bekas bungkus kopi instan akan dihargai Rp 10 per lembar, plastik mie instan Rp 40 per lembar, sementara untuk koran bekas dihargai Rp. 1.400 per kilogram. Hasil perhitungan harga sampah disetorkan para nasabah dan dicatat di buku tabungan lalu bisa “dicairkan” sewaktu-waktu. Langkah ini, bisa dilakukan siapapun, bukan hanya orangtua namun juga anak-anak.
Bagi nasabah tetap yang rutin menyetorkan sampah yang sudah dipilah, bisa memiliki rekening dengan sistem bagi hasil. Artinya tidak menggunakan sistem bunga karena yang ditabung sampah. Kemudian setelah 2 hingga 3 bulan bisa diuangkan. Dengan demikian, sangat mudah mendapatkan berkah dari sampah. Asalkan kita mau dan ulet mengelolanya.
Sampah yang dianggap kotor, ternyata menyimpan jutaan rupiah yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Bank sampah bisa dikembangkan bukan saja di sekolah-sekolah, namun seluruh warga di Kota Semarang. Paling tidak di tiap-tiap kelurahan ada 1 bank sampah untuk mewadahi sampah. Bank sampah di Semarang yang sedang dirintis antara lain di Kelurahan Krobokan, Kelurahan Gondoriyo Ngaliyan, Gayamsari, Muktiharjo Kidul, Pedurungan lor dan Sampangan.
Kembali pada konsep bank sampah sekolah di Semarang, paling tidak akan membantu mengurangi volume sampah yang harus ditangani Dinas kebersihan setiap harinya. Ujung-ujungnya, lingkungan akan bersih dan sehat. Mengingat slogan “Jagalah kebersihan” dan “Buang sampah pada tempatnya” tidak mampu lagi menyadarkan masyarakat. Masyarakat perlu disadarkan melalui kegiatan ekonomi kreatif dengan sistem bank sampah(anorganik) dan mengolah sampah(organik).
“Pengelolaan sampah itu penting untuk diperhatikan masyarakat, apalagi masalah sampah di Kota Semarang tiap tahunnya naik 10%. Dengan memanfaatkan bank sampah tidak hanya membantu menciptakan lingkungan bersih, tetapi juga meningkatkan pendapatan,”ungkap Ika Yudha selaku Direktur Bank Sampah Recik Becik, Krobokan.
Selanjutnya, pemerintah kota perlu menegaskan dan menyusun regulasi semacam peraturan daerah (perda) pendirian bank-bank sampah. Bahkan yang lebih spesifik, perlunya regulasi agar sekolah-sekolah mendirikan bank sampah. Kita coba mulai dari pribadi, lingkungan keluarga, lalu sekolah kemudian masyarakat. Jika di setiap sekolah ada bank sampah, maka siswa setiap hari bisa membawa sampah dari rumah untuk ditabung.
Sebenarnya bukan pekerjaan berat jika harus mengurus sampah dengan sistem bank sampah. Namun, yang perlu disiapkan yaitu peraturan daerah, koneksitas dengan perusahaan(swasta), lalu tenaga yang menanganinya. Bukan semata pada kekuatan modal(uang) karena dengan bank sampah justru akan menghasilkan uang. Berani coba?
Sampah masih saja dipandang sebelah mata. Kondisi perkotaan sangat memungkinkan produksi sampah cukup banyak, termasuk di Semarang. Sebuah fakta yang tak bisa dielakkan. Maka sekolah sebagai sarana umum menjadi bidikan pertama pendirian bank sampah. Dengan mengambil contoh di sekolah, maka sangat memungkinkan pihak sekolah berperan dalam upaya mengatasi masalah sampah. Karena sekolah disinyalir menjadi salah satu donator penghasil sampah, setelah rumah tangga, pabrik, rumah sakit dan sarana umum lainnya.
Bank sampah di sekolah bisa ditangani siswa melalui OSIS, serta pendampingan guru. Ini menjadi bukti kepedulian warga sekolah terhadap sampah. Di sisi lain, siswa bisa memiliki kepekaan terhadap lingkungan hidup. Misi ini harus dikembangkan pada ranah lain, sehingga sampah akan memberikan manfaat bagi kehidupan serta kelangsungan lingkungan hidup.
Siswa diajarkan memilih dan memilah sampah lalu disetorkan ke bank sampah. Petugas atau teller bank sampah bisa secara bergantian menangani nasabah. Para nasabah dibuatkan kartu rekening tanda bukti setoran sampah setiap minggu atau setiap hari. Mudah kan mengajarkan bank sampah?Cobalah saat ini jangan menunggu esok hari, karena hari esok adalah harapan generasi kita.
Bank sampah menjadi lahan bisnis baru jika ditekuni. Lebih bijak lagi, jika kita mendirikan bank sampah bukan semata untuk mendapatkan uang. Namun, sebenarnya untuk membantu mengatasi sampah yang acap kali memunculkan masalah baru berkaitan dengan lingkungan hidup. Keberadaan sampah di sekitar kita, mustahil dihilangkan. Namun, dengan bank sampah tersebut bisa mengurangi volume sampah dan menumbuhkan karakter hidup bersih demi kelestarian lingkungan. Mari, kita awali dari diri kita sehingga sampah akan menjadi kebutuhan bukan musuh bebuyutan.