Selasa, 06 November 2012

Yuk, Menulis Sekarang

Anda suka menulis?Menulislah sebelum anda ditulis oranglain. Jika anda orang yang kreatif dan ulet, maka menulis menjadi ladang baru bagi pengembangan karir ada. Salurkan hobi anda dalam bentuk menulis. Menulis bisa diawali dengan hal-hal kecil. Hal-hal yang biasa bagi kita, bisa juga luar biasa ketika dibaca orang lain. Untuk itu, kebiasaan menulis perlu diasah setiap saat. Ibarat pedang, jika kita asah tentu akan semakin tajam. Ketajaman tulisan menjadi gambaran ketajaman pikiran kita, daya kritis kita terhadap fenomena di sekitar kita

Bahasa Daerah yang Terpuruk

Bahasa menjadi lambang, dan bahasa pula menjadi sarana berkomunikasi antarwarga. Dalam konteks lokal, kita temukan bahasa daerah yang sarat nilai. Dari aspek struktur bahasa daerah memiliki tingkat tutur dan komposisi yang ada. Bahasa menjadi bentuk yang lebih luwes ketika dihadapkan pada tataran sosial penutur. Bahasa jawa mmisalnya, tidak bisa lepas dari fungsi dan peranan bahasa lokal. Bentuk komunikasi efektif yang diharapkan oleh penutur terhadap lawan tutur menjadi nyata.Maka makna tuturan itu bisa dilihat dan dirasakan penutur dan lawan tutur. Bahasa jawa menjadi bentuk bahasa daerah yang menyumbang kosa kata bahasa nasional kita. Bahasa indonesia yang kaya dengan istilah dan kosa kata, tentu disokong oleh keanekaragaman bahasa daerah yang ada.

Minggu, 21 Oktober 2012

SOAL UTS

SMP NEGERI 17 SEMARANG ULANGAN TENGAH SEMESTER(UTS) GASAL TAHUN AJARAN 2012/2013 Jl.Gabeng Raya Jangli Tembalang/www.smpn17semarang.sch.id Mata pelajaran : Bahasa Jawa Kelas : VIII(Delapan) Semester : 1(Satu) Waktu : 2X40 menit Hari, tanggal : Oktober 2012 A. Cariyos ing ngandhap punika wacanen, banjur wangsulana pitakenanipun! 1. Cariyos kang nyariyosaken dumadine sawijining papan panggenan, diarani … 2. Ana ing endi wae latar crita ing inggil? 3. Cariyos ing inggil ngginakaken alur … 4. Asmanipun bupati Semarang yaiku … 5. Rumiyin Semarang punika kalebet wewengkon … 6. Bupati Pandanaran boten nggatosaken marang … 7. Sarat sepisan kanggo Bupati Pandanaran saka Sunan Kalijogo, yaiku … 8. Sangune mung cengkirman, apa tegese? 9. Geneya diarani Boyolali? 10. Piwulang becik menapa kang kapundhut saking cariyos ing inggil? B. Kapadosna arane tembung rangkep : Dwi lingga semu, dwilingga wantah, dwilingga salinswara, dwiwasana, menapa dwipura 11. Bocah loro kae bola-bali mrene, ana apa ta? 12. Yen gelem dedonga, Gusti Allah mesti ngijabahi. 13. Karemane Simbah dhahar arem-arem anget. 14. Yen lelungan kudu nyuwun pamit marang wongtuwa. 15. Ora susah grusa-grusu yen nggarap soal. 16. Bocah-bocah yen dikandani sing manut. C. Babagan cariyos lelabuhane Rama lan Manuk Jatayu! 17. Watake Prabu Dasamuka yaiku … 18. Arane manuk kang ngerteni nalika Sinta dicolong, arane … 19. Garwane Prabu Rama yaiku … 20. Rayinipun Prabu Rama, yaiku … 21. Kang dadi utusane Rama mundhut D.Sinta arane .. 22. Wujude Anoman yaiku .. 23. Prabu Dasamuka iku nata ing … 24. Manuk Jatayu sengkleh swiwine nalika prang karo P Rahwana. Tembung manuk, dasanamane … 25. Watake P Rahwana kepriye? 26. Kados pundi watake Dewi Sinta? 27. Kados pundi watake Manuk Jatayu? 28. Kang ora kalebu paraga ing crita Lelabuhane Jatayu lan Wadya Kethek, yaiku… 29. gambar wayang sisih kiwa, arane … 30. gambar wayang sisih kiwa, arane … D. Kapadosna tegesipun tembung-tembung kang mawi panambang ing ngandhap punika 31. Ibu mundhut janganan kacang. Panambang –an ing janganan tegesipun … 32. Saponana kelasmu supaya resik. Panambang-ana ing saponana tegesipun … 33. Kae bukune Ani. Panambang –e ing tembung bukune, tegesipun … E. Ukara ing ngandhap punika owahana dados basa krama alus! 34. Bu, pira regane pelem iki? 35. Pakdhe teka saka Palembang numpak kapal. 36. Simbah wis suwe larane. 37. Sing mulih mau bengi bapak ta? 38. Pak Guru mulang olahraga ing lapangan. 39. ?Xlbuha[nN jtyu . 40. ? rmzutusH[nomn-. KUNCI JAWABAMN UTS 1. Legendha 2. Semarang, Salatiga,Boyolali 3. Maju 4. Bupati Pandanaran 5. Demak 6. Kawulane 7. Dilereni jabatane utawa kalungguhane 8. Kencenging piker lan iman 9. Saka tembng baya apa aja lali 10. Dadi menungsa aja kumalungkung/dumeh 11. Dwi lingga salinswara 12. Dwi purwa 13. Dwilingga semu 14. Dwipurwa 15. Dwilingga salin swara 16. Dwilingga wantah 17. Angkara murka 18. Jatayu 19. Dewi sinta 20. Leksmana 21. Anoman 22. Rewanda utawa kethek 23. Alengka 24. peksi 25. angkara murka 26. setya tuhu 27. remen tetulung 28. duryudana 29. Anoman 30. Jatayu 31. Sing dipangan 32. Akon nindakake nyapu 33. Pandarbe/duweke 34. Bu, pinten reginipun pelem punika? 35. Pakdhe rawuh saking Palembang nitih kapal 36. Simbah sampun dangu gerahipun 37. Ingkang kondur wau dali bapak ta? 38. Pak guru mucal olahraga wonten lapangan. 39. Ramayana nata raja 40. Bu guru rawuh.
;[;xs)

Sekilas, Ikhlas Menjadi Nyata

Idul Adha 1433H sudah di depan mata. Jum'at 26 oktober 2012 menjadi momentum asah keikhlasan kita. Sebagai manusia, kita sejatinya memiliki hak dan kewajiban. Kewajiban membutuhkan keikhlasan, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ibrahim A.s kepada putranya Ismail A.s. Teladan ini menjadi spirit keikhlasan kita sebagai manusia di dunia.
Jika mampu, maka lakukanlah kurban dengan hewan yang sehat dan memnuhi, lalu bagikan kepada saudara-saudara yang berhak. Pemberian dan sedekah kita akan lebih bermanfaat bagi mereka. Proses mengikhlaskan diri dari nafsu dan sifat riya tidak mudah. Banyak godaan dan hambatan dari dalam diri kita maupun lingkungan. Maka, ikhlaskan semua terjadi karena Allah Swt.

Senin, 10 September 2012

Artikel


Nilai UKG Guru Bahasa Indonesia SMP,  Jeblok?

Kementrian pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melansir hasil sementara Uji Kompetensi Guru(UKG). Dari hasil sementara diketahui bahwa nilai rata-rata UKG maish rendha, yakni hanya 44.55. Angka tersebut tidak berbeda jauh dari hasil UKA 42,45. Menteri pendidikan dan kebudayaan Mohammad Nuh menyoroti rendahnya hasil uji sementara bagi guru bahasa Indonesia untuk jenjang SMP, karena nilai rata-rata hanya mencapati 41,92. Nilai tersbeut rendah dibandingkan dengan kemampuan rata-rata guru yang mengajar mata pelajaran IPA, IPS, Matematika, dan PKn.(Suara Merdeka,6/8)
Dari kutipan di atas, ada hal unik yang patut kita cermati,dan muncul pertanyaan besar mengapa guru mapel bahasa Indonesia nilainya paling jeblok?Adakah masalah mendasar yang menyebabkan demikian?Atau memang secara kualitas guru bahasa Indonesia jenjang SMP kurang bagus?Memang tidak boleh digeneralisasikan jika angka 42,00 menjadi gambaran data menyeluruh kualitas guru bahasa Indonesia yang rendah.
Ada ilustrasi yang cukup menarik, antara hasil UKA guru bahasa Indonesia yang belum sertifikasi dengan guru senior yang mengikuti UKG dan sudah sertifikasi. Pertanyaan masyarakat kita terjawab tanpa ditutup-tutupi. Bahkan beberapa tahun lalu, hasil UN bahasa Indonesia pun paling rendah rata-ratanya. Secara nalar ada korelasi yang miris, antara kualitas guru bahasa Indonesia dengan capaian tingkat kelulusan mata pelajaran nasional ini.
Di tengah keterdesakkan bahasa nasional kita, justru kita disajikan dengan kualitas guru yang rendah. Meskipun dalam UKG hanya diujikan kompetensi pedagogik dan professional, namun paling tidak kita bisa melihat secara kasat mata kondisi guru bahasa Indonesia saat ini. Kemampuan mengajar guru menjadi pertaruhan yang butuh jawaban secara professional pula.
Padahal bahasa Indonesia kita ketahui sebagai panglima bahasa nasional kita. Bahasa yang menjadi alat pemersatu bangsa. Ironis jika guru pengajarnya juga belum maksimal kompetensinya. Ini menjadi tugas dan tanggungjawab insan pendidik bahasa Indonesia dan pemerintah. Dengan UKG dan UKA pemerintah telah melakukan revolusi guru untuk mendapatkan dan memetakan guru di negara kita. Kenyataan nilai UKG guru mata pelajaran bahasa Indonesia yang jauh dari harapan, menjadi bukti bahwa instrument UKG dan UKA bisa menjadi deskripsi
Jika kita lihat soal-soal UKG bahasa Indonesia sebenarnya sudah disesuaikan dengan kisi-kisi yang disusun pemerintah. Mengapa terjadi ironis nilai rendah pada guru bahasa Indonesia?Hal ini jua terjadi pada hasil UN siswa khusus mata pelajaran bahasa Indonesia.  Pertama ada mindset keliru pada guru dan siswa kita. Mereka mengangap bahwa pelajaran bahasa itu mudah, gampang dan tidak membutuhkan logika terlalu rumit. Padahal, jika kita pelajari lebih dalam, soal-soal dan cakupan materi bahasa sangat menguras ppikiran. Ini terjadi pada soal-soal UN maupun soal UKA dan UKG.
Pikiran yang meganggap mudah pelajaran bahasa nasional kita, telah memampatkan penalaran bahasa kita. Guru berkutat pada teori kebahasaan belaka, tanpa mau menganalisis fenomena kebahasaan praktis. Nyaris soal yang disodorkan pun membuat kalangkabut guru. Misalnya saja untuk soal yang membutuhkan analisa tajam soal wacana. Wacana yang disajikan sangat panjang dan dengan ragam bahasa yang kadang jarang didengar guru maupun siswa.
Ragam bahasa yang disajikan pada soal bahasa Indonesia tak jarang berbentuk wacana dengan ragam jurnalistik dan kaidah-kaidahnya. Ragam soal demikian membutuhkan penalaran maksimal para guru. Hemat penulis, sejak kurikulum kita berubah-ubah kesan pengembangan materi ajar minim. Padahal kurikulum terbaru kita mewajibkan guru untuk lebih kreatif dalam mengembangkan bahan ajar/ materi ajar.
Apakah dengan hasil UKG yang rendah, bisa diasumsikan pengajaran bahasa Indonesia gagal total?Atau hanya sebaik saja yang bersifat kasuistis?Pertanyaan semacam ini semakin menambah rasa penasaran masyarakat kita. Dengan hasil UKG pada guru bahasa Indonesia yang rendah, akan menjadi blunder pada pelaksanaan sertifikasi ke depan. Paling tidak publik akan berpikir secara pragmatis
Bahwa ternyata kualitas dan kompensasi kesejahteraan yang diberikan pemerintah tidak berbanding lurus dengan kualitas guru. Untuk itu, guru perlu menjawab pertanyaan besar masyarakat kita. Pemerintah memang mencoba melaksanakan amanat undang-undang, namun sebagai sasaran implementasi undang-undang, guru sebaiknya memiliki kesadaran bahwa kompetensi itu penting.
Kedua kurangnya pemahaman guru terhadap soal dan kisi-kisi yang disajikan. Guru cenderung pasrah dan kurang ulet dalam memecahkan soal analisa. Di dalam mengerjakan soal yang butuh pemahaman maka guru harus memiliki tingkat penalaran yang smart. Soal-soal yang disajikan bisa pula menggunakan kalimat yang sangat panjang sehingga mengurangi konsentrasi guru dalam mengerjakan soal UKA maupun UKG. Paling tidak ada beberapa aspek yang harus dibenahi pada diri guru bahasa Indonesia. Di tengah keterdesakkan bahasa nasional kita, ternyata kompetensi gurunya sendiri masih rendah. Ini persoalan yang tidak bisa dianggap sepele.
Jika kita pahami, soal-soal kebahasaan justru membutuhkan penalaran dan analisa lebih tajam. Jangan ada pikiran, hanya bahasa maka disepelekan. Persoalan ini justru akan membuat guru terperangkap sendiri. Meskipun hasil sementara UKG rendah, namun bukan menjadi ukuran final, sebab penilaian yang sebenarnya justru penilaian proses. Penilaian yang dilakukan atasan di satuan pendidikan dan penilaian sejawat.
Banyak faktor yang memengaruhi rendahnya hasil UKG guru secara umum, misalnya semakin kompleksitasnya permasalahan, tugas dan kewajiban guru sebagai profesi. Sesuai UU Guru dan dosen tahun 2005, bahwa guru memiliki beban mengajar 24 jam perminggu dan maksimal 40 jam. Kondisi ini belum termasuk menyusun administrasi mengajar, dan evaluasi pembelajaran. Di sisi lain, guru harus mengembangkan profesinya dengan menulis karya ilmiah. Untuk melakukan riset/penelitian guru sangat membutuhkan waktu cukup. Belum lagi jika secara kasuistik ada guru yang memiliki permasalahan pribadi. Faktor yang tak kalah pentingnya yaitu faktor usia. Usia yang relatif tua turut memengaruhi tingkat analisa. Termasuk penguasaan IT yang dibuktikan ketika menjawab soal online.
Permasalahan rasio guru bahasa Indonesia antardaerah dan rasio guru dengan siswa tidak sebanding. Bahkan ada beberapa guru yang mengajar lebih dari 24 jam perminggu. Ada yang mengajar 25 hingga 30 jam perminggu. Ini kondisi yang patut dicermati pemerintah. Bahkan pemerintah daerah dalam hal ini perlu segera melakukan redistribusi ulang dan pemetaan guru.
Jika kita amati di TUK nilai tinggi lebih banyak diraih oleh guru berprestasi atau kepala sekolah berprestasi. Ini diakui oleh peserta lain bahkan bisa dilihat hasilnya secara langsung ketika selesai mengerjakan soal UKG. Kemampuan guru bahasa Indonesia di jenjang SMP menjadi tanda tanya besar. Jika memang materi dan kisi-kisi bahasa Indonesia dianggap sulit, tentu ini akan berlaku pula pada jenjang SMA atau mungkin SD. Dengan demikian, nilai rendah pada guru bahasa Indonesia di SMP menjadi kasuistik yang perlu ditelaah pemerintah. Bahkan tak kalah penting, guru bahasa Indonesia perlu mawas diri.
Bahasa Indonesia dipandang sebagai bahasa sendiri, sehingga ada kecenderungan meremehkan di kalangan siswa bahkan mungkin guru. Guru menganggap pengajaran dan kompetensi kebahasaan hal yang biasa di jalaninya. Profesi bukan dititik beratkan pada aspek kebiasaan atau pengalaman saja, tapi ditekankan pada dinamika berpikir, bertindak dan dinamika kompetensi yang disesuaikan dengan perkembangan peserta didik dan peradaban.
Tak salah jika guru bahasa Indonesia membela diri. Mereka beralibi sudah berusaha semaksimal mungkin dalam mengerjakan soal UKG atau UKA beberapa waktu lalu. Tapi, fakta bicara lain dan ini menjadi pukulan telak guru dan pemerintah. Jika dibiarkan kondisi guru bahasa Indonesia saat ini, justru akan menjadi bom waktu. Pemerintah segera membuat analisa dna langkah untuk meningkatkan kualitas guru bahasa Indonesia di jenjang SMP. Memang tidak semua guru bahasa Indonesia nilainya rendah, tentu masih banyak guru yang memiliki kualitas baik.
Hasil UKA dan UKG bisa menjadi bahan refleksi diri para guru bahasa Indonesia khususnya di SMP. Ada apa sebenarnya dalam diri mereka, baik sebagai pribadi maupun sebagai profesi. Jangan justru menutup diri dengan mencari pembenaran. Kondisi guru tentu akan berpengaruh pada kualitas siswanya. Bahkan hasil evaluasi bahasa Indonesia pada siswa sudah bicara beberapa tahun terakhir melalui hasil UN. Variabel guru dan variable siswanya bisa dianalisa, ada permasalahan mendasar apa? Dan perlu langkah bagaimana untuk merombak mindset dan meningkatkan kualitas mereka.




Rabu, 01 Agustus 2012

Pesantren Ramadhan Tumbuhkan Pendidikan Karakter
Oleh. Tukijo, S.Pd

Bulan ramadhan telah datang sebagai bulan yang penuh nilai kebaikan. Bahkan penulis mengatakan bahwa bulan ramadhan merupakan bulan pendidikan(tarbiyah). Bagaimana tidak, di bulan ramadhan jiwa dan raga akan dididik menjadi manusia yang paripurna. Dalam konteks dunia pendidikan formal, biasanya di dalam bulan ramadhan diadakan kegiatan-kegiatan yang bernuansa mendidik. Salah satunya dengan kegiatan pesantren ramadhan. Lalu bagaimana korelasi pesantren ramadhan dengan pendidikan karakter yang saat ini sedang digiatkan?
Bulan puasa bagi siswa menjadi bulan yang penuh nilai pendidikan. Sekolah melakukan kegiatan yang diwadahi dalam pesantren ramadhan atau akrab disebut pesantren kilat, karena waktunya tidak terlalu lama. Dengan desain yang variasi, pesantren ramadhan diikuti oleh siswa yang melaksanakan ibadah puasa. Siswa diberi materi sebagai upaya peningkatan keimanan dan karakter.
Sekolah sebaiknya memberikan pemahaman dan aktualisasi diri bagi siswa untuk melaksanakan kegaitan ramadhan dengan total. Misalnya kegiatan mengaji bersama sebelum pelajaran, atau menghafal doa’doa harian, lomba khitobah, malam bina iman dan takwa(mabit), pengumpulan dan penyaluran zakat fitrah, infak, dan sebaginya. Jika kita merunut pada butir-butir nilai karakter yang ada, maka pesantren ramadhan menjadi bukti implementasi nilai karakter religi yang menempati urutan pertama. Kita sadar, bahwa nilai agama(religi) menjadi fundamental pendidikan siswa di usia muda sebagai dasar pijakan ke depan.
Pesantren ramadhan bisa dibuat dengan format yang variatif, misalnya semacam mabit. Siswa bisa melakukan rangkaian kegiatan dengan bermalam di sekolah. Sekolah dibuat layaknya pondok pesantren sesungguhnya. Guru-guru bisa dilibatkan sebagai pengasuh pondok atau pemateri. Jika perlu mendatangkan ustadz dari luar sekolah untuk menambah khazanah keilmuan keagamaan. Sebaran materi yang disajikan bisa lebih berbobot dan membekali siswa. Nilai religi dalam pendidikan karakter dijabarkan dalam kegiatan pesantren ramadhan.
Selain itu, kewajiban puasa bagi siswa perlu ditekankan, meskipun bagi siswa usia dasar puasa menjadi proses tarbiyah atau pendidikan. Siswa belajar hakikat, niat dan syarat rukun dan yang membatalkan puasa. Ibadah puasa melatih kejujuran dan kesabaran bagi siswa. Dengan demikian, nilai yang dapat kita petik dari rangkaian pesantren ramadhan selama bulan puasa, antara lain nilai kejujuran, religi, toleransi, gemar membaca(tadarus), nilai kerja sama dan sebagainya. Bahkan bisa kita katakan hampir seluruh nilai pendidikan karakter yang selama ini kita ajarkan, ada dalam proses tarbiyah di bulan ramadhan.
Pesantren ramadhan menjadi wahana penggemblengan mental jujur dan sabar bagi siswa. Bahkan bukan itu saja, ramadhan menjadi dinamika kehidupan yang dirindukan siswa. Untuk itu, selama ramadhan, sekolah perlu lebih menekankan ibadah kepada siswa. Bahkan selama ramadhan siswa bisa diwajibkan berpakaian muslim. Bagi siswa yang kebetulan tidak berpuasa, maka diberi toleransi karena satu hal alasan yang dibenarkan. Jadi, pemahaman dan pendidikan syariah seputar ibadah ramadhan bisa diberikan guru pada saat bulan ramadhan.
Penekanaan kegiatan ramadhan menurut penulis,pertama pada nilai kejujuran. Jujur menjadi pintu kedua setelah pemahaman nilai keagamaan di rumah maupun di sekolah. Sifat jujur sebagaimana menjadi karakter Rasulullah yang antara lain sidiq, tabligh dan fathonah. Kejujuran bersinergi bahkan sama dengan karakter Rasulullah. Guru dan ustadz yang memberikan materi perlu memberikan ilustrasi dan deskripsi yang jelas tentang sifat tersebut.
Siswa dibawa ke alam pemikiran mengenai oase seputar sifat Rasul dengan dengan bahasa yang nalar. Kejujuran saat ini menjadi barang langka. Sehingga kita bisa menggali kembali nilai kejujuran dalam bulan puasa ini. Kedua, pemahaman hak dan kewajiban. Siswa perlu memahami hak-haknya di sekolah, maupun di rumah sebagai anak. Selain itu, kewajiban siswa di sekolah dan di rumah juga menjadi nilai yang tak terpisahkan dalam keseharian.
Pesantren ramadhan bukan sekadar rutinitas belaka di sekolah. Namun lebih ke bentuk aplikasi di sekolah. Siswa diberi waktu yang cukup untuk menyelami nilai keagamaan. Sehingga diakhir kegiatan bahkan pasca kegiatan, ada perubahan sikap dan karakter yang diharapkan. Perubahan yang diharapkan tentu bisa dikorelasikan dengan nilai pendidikan karakter yang selama ini diajarkan guru.
Selain itu, pendidikan yang tepat bisa bersumber dari keteladanan. Siswa diarahkan kembali pada fungsi keteladanan. Baik dari sifat dan karakter teladan Rasul maupun contoh dari guru mereka. Kita bersama memahami bahwa akhlak rasulullah adalah al qur’an. Dengan demikian, siswa dan guru bisa belajar lebih mendalam hakikat nilai dan keteladanan. Intinya, pendidikan dalam pesantren ramadhan perlu bermuara pada al qur’an dan hadist. Dari sumber itu, maka akan dapat digali lebih luas pemahaman dan nilai karakter. Meskipun dalam kegiatan ramadhan bukan serta-merta akan mengubah karakter siswa secara instan. Ini  sekadar ikhtiar sekolah dan guru dalam mendidikan karakter siswanya. Kurikulum terbesar yang kita jadikan rujukan dalam pesantren ramadhan, tentu 2(dua) sumber di atas. Selain itu, keteladanan yang diberikan oleh guru dan orangtuanya.
Metode pengajaran dalam pesantren ramadhan bisa juga diformat lebih egaliter dan praktik. Pemahaman terori saja tidak cukup dalam mengubah karakter siswa. Sehingga perlu langkah kongkret ke aplikasinya. Guru perlu membuka wawasan pemahaman arti ibadah kepada siswa. Sebab dalam ibadah yang kita lakukan bernilai pahala. Nah, konteks ini yang perlu dipahamkan kepada siswa. Dalam keseharian pun siswa akan diberi pahala(reward)jika ia melakukan kebaikan, oleh guru. Begitu sebaliknya, sehingga nilai karakter itu tumbuh dan berkembang, bukan saja pada saat pesantren ramadhan tapi juga dalam keseharian.

Tukijo, S.Pd