Selasa, 06 November 2012
Yuk, Menulis Sekarang
Anda suka menulis?Menulislah sebelum anda ditulis oranglain. Jika anda orang yang kreatif dan ulet, maka menulis menjadi ladang baru bagi pengembangan karir ada. Salurkan hobi anda dalam bentuk menulis. Menulis bisa diawali dengan hal-hal kecil. Hal-hal yang biasa bagi kita, bisa juga luar biasa ketika dibaca orang lain.
Untuk itu, kebiasaan menulis perlu diasah setiap saat. Ibarat pedang, jika kita asah tentu akan semakin tajam. Ketajaman tulisan menjadi gambaran ketajaman pikiran kita, daya kritis kita terhadap fenomena di sekitar kita
Bahasa Daerah yang Terpuruk
Bahasa menjadi lambang, dan bahasa pula menjadi sarana berkomunikasi antarwarga. Dalam konteks lokal, kita temukan bahasa daerah yang sarat nilai. Dari aspek struktur bahasa daerah memiliki tingkat tutur dan komposisi yang ada. Bahasa menjadi bentuk yang lebih luwes ketika dihadapkan pada tataran sosial penutur.
Bahasa jawa mmisalnya, tidak bisa lepas dari fungsi dan peranan bahasa lokal. Bentuk komunikasi efektif yang diharapkan oleh penutur terhadap lawan tutur menjadi nyata.Maka makna tuturan itu bisa dilihat dan dirasakan penutur dan lawan tutur. Bahasa jawa menjadi bentuk bahasa daerah yang menyumbang kosa kata bahasa nasional kita. Bahasa indonesia yang kaya dengan istilah dan kosa kata, tentu disokong oleh keanekaragaman bahasa daerah yang ada.
Minggu, 21 Oktober 2012
SOAL UTS
SMP NEGERI 17 SEMARANG
ULANGAN TENGAH SEMESTER(UTS) GASAL
TAHUN AJARAN 2012/2013
Jl.Gabeng Raya Jangli Tembalang/www.smpn17semarang.sch.id
Mata pelajaran : Bahasa Jawa
Kelas : VIII(Delapan)
Semester : 1(Satu)
Waktu : 2X40 menit
Hari, tanggal : Oktober 2012
A. Cariyos ing ngandhap punika wacanen, banjur wangsulana pitakenanipun!
1. Cariyos kang nyariyosaken dumadine sawijining papan panggenan, diarani …
2. Ana ing endi wae latar crita ing inggil?
3. Cariyos ing inggil ngginakaken alur …
4. Asmanipun bupati Semarang yaiku …
5. Rumiyin Semarang punika kalebet wewengkon …
6. Bupati Pandanaran boten nggatosaken marang …
7. Sarat sepisan kanggo Bupati Pandanaran saka Sunan Kalijogo, yaiku …
8. Sangune mung cengkirman, apa tegese?
9. Geneya diarani Boyolali?
10. Piwulang becik menapa kang kapundhut saking cariyos ing inggil?
B. Kapadosna arane tembung rangkep : Dwi lingga semu, dwilingga wantah, dwilingga salinswara, dwiwasana, menapa dwipura
11. Bocah loro kae bola-bali mrene, ana apa ta?
12. Yen gelem dedonga, Gusti Allah mesti ngijabahi.
13. Karemane Simbah dhahar arem-arem anget.
14. Yen lelungan kudu nyuwun pamit marang wongtuwa.
15. Ora susah grusa-grusu yen nggarap soal.
16. Bocah-bocah yen dikandani sing manut.
C. Babagan cariyos lelabuhane Rama lan Manuk Jatayu!
17. Watake Prabu Dasamuka yaiku …
18. Arane manuk kang ngerteni nalika Sinta dicolong, arane …
19. Garwane Prabu Rama yaiku …
20. Rayinipun Prabu Rama, yaiku …
21. Kang dadi utusane Rama mundhut D.Sinta arane ..
22. Wujude Anoman yaiku ..
23. Prabu Dasamuka iku nata ing …
24. Manuk Jatayu sengkleh swiwine nalika prang karo P Rahwana.
Tembung manuk, dasanamane …
25. Watake P Rahwana kepriye?
26. Kados pundi watake Dewi Sinta?
27. Kados pundi watake Manuk Jatayu?
28. Kang ora kalebu paraga ing crita Lelabuhane Jatayu lan Wadya Kethek, yaiku…
29. gambar wayang sisih kiwa, arane …
30. gambar wayang sisih kiwa, arane …
D. Kapadosna tegesipun tembung-tembung kang mawi panambang ing ngandhap punika
31. Ibu mundhut janganan kacang. Panambang –an ing janganan tegesipun …
32. Saponana kelasmu supaya resik. Panambang-ana ing saponana tegesipun …
33. Kae bukune Ani. Panambang –e ing tembung bukune, tegesipun …
E. Ukara ing ngandhap punika owahana dados basa krama alus!
34. Bu, pira regane pelem iki?
35. Pakdhe teka saka Palembang numpak kapal.
36. Simbah wis suwe larane.
37. Sing mulih mau bengi bapak ta?
38. Pak Guru mulang olahraga ing lapangan.
39. ?Xlbuha[nN jtyu .
40. ? rmzutusH[nomn-.
KUNCI JAWABAMN UTS
1. Legendha
2. Semarang, Salatiga,Boyolali
3. Maju
4. Bupati Pandanaran
5. Demak
6. Kawulane
7. Dilereni jabatane utawa kalungguhane
8. Kencenging piker lan iman
9. Saka tembng baya apa aja lali
10. Dadi menungsa aja kumalungkung/dumeh
11. Dwi lingga salinswara
12. Dwi purwa
13. Dwilingga semu
14. Dwipurwa
15. Dwilingga salin swara
16. Dwilingga wantah
17. Angkara murka
18. Jatayu
19. Dewi sinta
20. Leksmana
21. Anoman
22. Rewanda utawa kethek
23. Alengka
24. peksi
25. angkara murka
26. setya tuhu
27. remen tetulung
28. duryudana
29. Anoman
30. Jatayu
31. Sing dipangan
32. Akon nindakake nyapu
33. Pandarbe/duweke
34. Bu, pinten reginipun pelem punika?
35. Pakdhe rawuh saking Palembang nitih kapal
36. Simbah sampun dangu gerahipun
37. Ingkang kondur wau dali bapak ta?
38. Pak guru mucal olahraga wonten lapangan.
39. Ramayana nata raja
40. Bu guru rawuh.
Sekilas, Ikhlas Menjadi Nyata
Idul Adha 1433H sudah di depan mata. Jum'at 26 oktober 2012 menjadi momentum asah keikhlasan kita. Sebagai manusia, kita sejatinya memiliki hak dan kewajiban. Kewajiban membutuhkan keikhlasan, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ibrahim A.s kepada putranya Ismail A.s. Teladan ini menjadi spirit keikhlasan kita sebagai manusia di dunia.
Jika mampu, maka lakukanlah kurban dengan hewan yang sehat dan memnuhi, lalu bagikan kepada saudara-saudara yang berhak. Pemberian dan sedekah kita akan lebih bermanfaat bagi mereka. Proses mengikhlaskan diri dari nafsu dan sifat riya tidak mudah. Banyak godaan dan hambatan dari dalam diri kita maupun lingkungan. Maka, ikhlaskan semua terjadi karena Allah Swt.
Jika mampu, maka lakukanlah kurban dengan hewan yang sehat dan memnuhi, lalu bagikan kepada saudara-saudara yang berhak. Pemberian dan sedekah kita akan lebih bermanfaat bagi mereka. Proses mengikhlaskan diri dari nafsu dan sifat riya tidak mudah. Banyak godaan dan hambatan dari dalam diri kita maupun lingkungan. Maka, ikhlaskan semua terjadi karena Allah Swt.
Senin, 10 September 2012
Artikel
Nilai UKG Guru Bahasa Indonesia SMP, Jeblok?
Kementrian pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melansir
hasil sementara Uji Kompetensi Guru(UKG). Dari hasil sementara diketahui bahwa
nilai rata-rata UKG maish rendha, yakni hanya 44.55. Angka tersebut tidak berbeda
jauh dari hasil UKA 42,45. Menteri pendidikan dan kebudayaan Mohammad Nuh
menyoroti rendahnya hasil uji sementara bagi guru bahasa Indonesia untuk
jenjang SMP, karena nilai rata-rata hanya mencapati 41,92. Nilai tersbeut
rendah dibandingkan dengan kemampuan rata-rata guru yang mengajar mata
pelajaran IPA, IPS, Matematika, dan PKn.(Suara
Merdeka,6/8)
Dari kutipan di atas, ada hal unik yang patut kita
cermati,dan muncul pertanyaan besar mengapa guru mapel bahasa Indonesia
nilainya paling jeblok?Adakah masalah mendasar yang menyebabkan demikian?Atau
memang secara kualitas guru bahasa Indonesia jenjang SMP kurang bagus?Memang
tidak boleh digeneralisasikan jika angka 42,00 menjadi gambaran data menyeluruh
kualitas guru bahasa Indonesia yang rendah.
Ada ilustrasi yang cukup menarik, antara hasil UKA guru
bahasa Indonesia yang belum sertifikasi dengan guru senior yang mengikuti UKG
dan sudah sertifikasi. Pertanyaan masyarakat kita terjawab tanpa
ditutup-tutupi. Bahkan beberapa tahun lalu, hasil UN bahasa Indonesia pun
paling rendah rata-ratanya. Secara nalar ada korelasi yang miris, antara
kualitas guru bahasa Indonesia dengan capaian tingkat kelulusan mata pelajaran
nasional ini.
Di tengah keterdesakkan bahasa nasional kita, justru kita
disajikan dengan kualitas guru yang rendah. Meskipun dalam UKG hanya diujikan
kompetensi pedagogik dan professional, namun paling tidak kita bisa melihat
secara kasat mata kondisi guru bahasa Indonesia saat ini. Kemampuan mengajar
guru menjadi pertaruhan yang butuh jawaban secara professional pula.
Padahal bahasa Indonesia kita ketahui sebagai panglima
bahasa nasional kita. Bahasa yang menjadi alat pemersatu bangsa. Ironis jika
guru pengajarnya juga belum maksimal kompetensinya. Ini menjadi tugas dan
tanggungjawab insan pendidik bahasa Indonesia dan pemerintah. Dengan UKG dan
UKA pemerintah telah melakukan revolusi guru untuk mendapatkan dan memetakan
guru di negara kita. Kenyataan nilai UKG guru mata pelajaran bahasa Indonesia
yang jauh dari harapan, menjadi bukti bahwa instrument UKG dan UKA bisa menjadi
deskripsi
Jika kita lihat soal-soal UKG bahasa Indonesia sebenarnya
sudah disesuaikan dengan kisi-kisi yang disusun pemerintah. Mengapa terjadi
ironis nilai rendah pada guru bahasa Indonesia?Hal ini jua terjadi pada hasil
UN siswa khusus mata pelajaran bahasa Indonesia. Pertama ada mindset keliru
pada guru dan siswa kita. Mereka mengangap bahwa pelajaran bahasa itu mudah,
gampang dan tidak membutuhkan logika terlalu rumit. Padahal, jika kita pelajari
lebih dalam, soal-soal dan cakupan materi bahasa sangat menguras ppikiran. Ini
terjadi pada soal-soal UN maupun soal UKA dan UKG.
Pikiran yang meganggap mudah pelajaran bahasa nasional kita,
telah memampatkan penalaran bahasa kita. Guru berkutat pada teori kebahasaan
belaka, tanpa mau menganalisis fenomena kebahasaan praktis. Nyaris soal yang
disodorkan pun membuat kalangkabut guru. Misalnya saja untuk soal yang
membutuhkan analisa tajam soal wacana. Wacana yang disajikan sangat panjang dan
dengan ragam bahasa yang kadang jarang didengar guru maupun siswa.
Ragam bahasa yang disajikan pada soal bahasa Indonesia tak
jarang berbentuk wacana dengan ragam jurnalistik dan kaidah-kaidahnya. Ragam
soal demikian membutuhkan penalaran maksimal para guru. Hemat penulis, sejak
kurikulum kita berubah-ubah kesan pengembangan materi ajar minim. Padahal
kurikulum terbaru kita mewajibkan guru untuk lebih kreatif dalam mengembangkan
bahan ajar/ materi ajar.
Apakah dengan hasil UKG yang rendah, bisa diasumsikan
pengajaran bahasa Indonesia gagal total?Atau hanya sebaik saja yang bersifat
kasuistis?Pertanyaan semacam ini semakin menambah rasa penasaran masyarakat kita.
Dengan hasil UKG pada guru bahasa Indonesia yang rendah, akan menjadi blunder
pada pelaksanaan sertifikasi ke depan. Paling tidak publik akan berpikir secara
pragmatis
Bahwa ternyata kualitas
dan kompensasi kesejahteraan yang diberikan pemerintah tidak berbanding lurus
dengan kualitas guru. Untuk itu, guru perlu menjawab pertanyaan besar
masyarakat kita. Pemerintah memang mencoba melaksanakan amanat undang-undang,
namun sebagai sasaran implementasi undang-undang, guru sebaiknya memiliki
kesadaran bahwa kompetensi itu penting.
Kedua
kurangnya
pemahaman guru terhadap soal dan kisi-kisi yang disajikan. Guru cenderung
pasrah dan kurang ulet dalam memecahkan soal analisa. Di dalam mengerjakan soal
yang butuh pemahaman maka guru harus memiliki tingkat penalaran yang smart. Soal-soal yang disajikan bisa
pula menggunakan kalimat yang sangat panjang sehingga mengurangi konsentrasi
guru dalam mengerjakan soal UKA maupun UKG. Paling tidak ada beberapa aspek yang
harus dibenahi pada diri guru bahasa Indonesia. Di tengah keterdesakkan bahasa
nasional kita, ternyata kompetensi gurunya sendiri masih rendah. Ini persoalan
yang tidak bisa dianggap sepele.
Jika kita pahami,
soal-soal kebahasaan justru membutuhkan penalaran dan analisa lebih tajam.
Jangan ada pikiran, hanya bahasa maka disepelekan. Persoalan ini justru akan
membuat guru terperangkap sendiri. Meskipun hasil sementara UKG rendah, namun
bukan menjadi ukuran final, sebab penilaian yang sebenarnya justru penilaian
proses. Penilaian yang dilakukan atasan di satuan pendidikan dan penilaian
sejawat.
Banyak faktor yang
memengaruhi rendahnya hasil UKG guru secara umum, misalnya semakin
kompleksitasnya permasalahan, tugas dan kewajiban guru sebagai profesi. Sesuai
UU Guru dan dosen tahun 2005, bahwa guru memiliki beban mengajar 24 jam
perminggu dan maksimal 40 jam. Kondisi ini belum termasuk menyusun administrasi
mengajar, dan evaluasi pembelajaran. Di sisi lain, guru harus mengembangkan
profesinya dengan menulis karya ilmiah. Untuk melakukan riset/penelitian guru
sangat membutuhkan waktu cukup. Belum lagi jika secara kasuistik ada guru yang
memiliki permasalahan pribadi. Faktor yang tak kalah pentingnya yaitu faktor
usia. Usia yang relatif tua turut memengaruhi tingkat analisa. Termasuk
penguasaan IT yang dibuktikan ketika menjawab soal online.
Permasalahan rasio guru
bahasa Indonesia antardaerah dan rasio guru dengan siswa tidak sebanding.
Bahkan ada beberapa guru yang mengajar lebih dari 24 jam perminggu. Ada yang
mengajar 25 hingga 30 jam perminggu. Ini kondisi yang patut dicermati
pemerintah. Bahkan pemerintah daerah dalam hal ini perlu segera melakukan
redistribusi ulang dan pemetaan guru.
Jika kita amati di TUK
nilai tinggi lebih banyak diraih oleh guru berprestasi atau kepala sekolah
berprestasi. Ini diakui oleh peserta lain bahkan bisa dilihat hasilnya secara
langsung ketika selesai mengerjakan soal UKG. Kemampuan guru bahasa Indonesia
di jenjang SMP menjadi tanda tanya besar. Jika memang materi dan kisi-kisi
bahasa Indonesia dianggap sulit, tentu ini akan berlaku pula pada jenjang SMA
atau mungkin SD. Dengan demikian, nilai rendah pada guru bahasa Indonesia di
SMP menjadi kasuistik yang perlu ditelaah pemerintah. Bahkan tak kalah penting,
guru bahasa Indonesia perlu mawas diri.
Bahasa Indonesia
dipandang sebagai bahasa sendiri, sehingga ada kecenderungan meremehkan di
kalangan siswa bahkan mungkin guru. Guru menganggap pengajaran dan kompetensi
kebahasaan hal yang biasa di jalaninya. Profesi bukan dititik beratkan pada
aspek kebiasaan atau pengalaman saja, tapi ditekankan pada dinamika berpikir,
bertindak dan dinamika kompetensi yang disesuaikan dengan perkembangan peserta
didik dan peradaban.
Tak salah jika guru
bahasa Indonesia membela diri. Mereka beralibi sudah berusaha semaksimal
mungkin dalam mengerjakan soal UKG atau UKA beberapa waktu lalu. Tapi, fakta
bicara lain dan ini menjadi pukulan telak guru dan pemerintah. Jika dibiarkan
kondisi guru bahasa Indonesia saat ini, justru akan menjadi bom waktu.
Pemerintah segera membuat analisa dna langkah untuk meningkatkan kualitas guru
bahasa Indonesia di jenjang SMP. Memang tidak semua guru bahasa Indonesia
nilainya rendah, tentu masih banyak guru yang memiliki kualitas baik.
Hasil UKA dan UKG bisa
menjadi bahan refleksi diri para guru bahasa Indonesia khususnya di SMP. Ada
apa sebenarnya dalam diri mereka, baik sebagai pribadi maupun sebagai profesi. Jangan
justru menutup diri dengan mencari pembenaran. Kondisi guru tentu akan
berpengaruh pada kualitas siswanya. Bahkan hasil evaluasi bahasa Indonesia pada
siswa sudah bicara beberapa tahun terakhir melalui hasil UN. Variabel guru dan
variable siswanya bisa dianalisa, ada permasalahan mendasar apa? Dan perlu
langkah bagaimana untuk merombak mindset
dan meningkatkan kualitas mereka.
Rabu, 01 Agustus 2012
Pesantren
Ramadhan Tumbuhkan Pendidikan Karakter
Oleh.
Tukijo, S.Pd
Bulan ramadhan telah
datang sebagai bulan yang penuh nilai kebaikan. Bahkan penulis mengatakan bahwa
bulan ramadhan merupakan bulan pendidikan(tarbiyah). Bagaimana tidak, di bulan
ramadhan jiwa dan raga akan dididik menjadi manusia yang paripurna. Dalam
konteks dunia pendidikan formal, biasanya di dalam bulan ramadhan diadakan
kegiatan-kegiatan yang bernuansa mendidik. Salah satunya dengan kegiatan
pesantren ramadhan. Lalu bagaimana korelasi pesantren ramadhan dengan
pendidikan karakter yang saat ini sedang digiatkan?
Bulan puasa bagi siswa
menjadi bulan yang penuh nilai pendidikan. Sekolah melakukan kegiatan yang
diwadahi dalam pesantren ramadhan atau akrab disebut pesantren kilat, karena waktunya
tidak terlalu lama. Dengan desain yang variasi, pesantren ramadhan diikuti oleh
siswa yang melaksanakan ibadah puasa. Siswa diberi materi sebagai upaya
peningkatan keimanan dan karakter.
Sekolah sebaiknya
memberikan pemahaman dan aktualisasi diri bagi siswa untuk melaksanakan
kegaitan ramadhan dengan total. Misalnya kegiatan mengaji bersama sebelum
pelajaran, atau menghafal doa’doa harian, lomba khitobah, malam bina iman dan
takwa(mabit), pengumpulan dan penyaluran zakat fitrah, infak, dan sebaginya. Jika
kita merunut pada butir-butir nilai karakter yang ada, maka pesantren ramadhan
menjadi bukti implementasi nilai karakter religi yang menempati urutan pertama.
Kita sadar, bahwa nilai agama(religi) menjadi fundamental pendidikan siswa di
usia muda sebagai dasar pijakan ke depan.
Pesantren ramadhan bisa
dibuat dengan format yang variatif, misalnya semacam mabit. Siswa bisa
melakukan rangkaian kegiatan dengan bermalam di sekolah. Sekolah dibuat
layaknya pondok pesantren sesungguhnya. Guru-guru bisa dilibatkan sebagai
pengasuh pondok atau pemateri. Jika perlu mendatangkan ustadz dari luar sekolah
untuk menambah khazanah keilmuan keagamaan. Sebaran materi yang disajikan bisa
lebih berbobot dan membekali siswa. Nilai religi dalam pendidikan karakter
dijabarkan dalam kegiatan pesantren ramadhan.
Selain itu, kewajiban
puasa bagi siswa perlu ditekankan, meskipun bagi siswa usia dasar puasa menjadi
proses tarbiyah atau pendidikan. Siswa belajar hakikat, niat dan syarat rukun
dan yang membatalkan puasa. Ibadah puasa melatih kejujuran dan kesabaran bagi
siswa. Dengan demikian, nilai yang dapat kita petik dari rangkaian pesantren
ramadhan selama bulan puasa, antara lain nilai kejujuran, religi, toleransi,
gemar membaca(tadarus), nilai kerja sama dan sebagainya. Bahkan bisa kita
katakan hampir seluruh nilai pendidikan karakter yang selama ini kita ajarkan,
ada dalam proses tarbiyah di bulan ramadhan.
Pesantren ramadhan
menjadi wahana penggemblengan mental jujur dan sabar bagi siswa. Bahkan bukan
itu saja, ramadhan menjadi dinamika kehidupan yang dirindukan siswa. Untuk itu,
selama ramadhan, sekolah perlu lebih menekankan ibadah kepada siswa. Bahkan
selama ramadhan siswa bisa diwajibkan berpakaian muslim. Bagi siswa yang
kebetulan tidak berpuasa, maka diberi toleransi karena satu hal alasan yang
dibenarkan. Jadi, pemahaman dan pendidikan syariah seputar ibadah ramadhan bisa
diberikan guru pada saat bulan ramadhan.
Penekanaan kegiatan
ramadhan menurut penulis,pertama pada nilai kejujuran. Jujur menjadi pintu
kedua setelah pemahaman nilai keagamaan di rumah maupun di sekolah. Sifat jujur
sebagaimana menjadi karakter Rasulullah yang antara lain sidiq, tabligh dan
fathonah. Kejujuran bersinergi bahkan sama dengan karakter Rasulullah. Guru dan
ustadz yang memberikan materi perlu memberikan ilustrasi dan deskripsi yang
jelas tentang sifat tersebut.
Siswa dibawa ke alam
pemikiran mengenai oase seputar sifat Rasul dengan dengan bahasa yang nalar. Kejujuran
saat ini menjadi barang langka. Sehingga kita bisa menggali kembali nilai kejujuran
dalam bulan puasa ini. Kedua, pemahaman hak dan kewajiban. Siswa perlu memahami
hak-haknya di sekolah, maupun di rumah sebagai anak. Selain itu, kewajiban
siswa di sekolah dan di rumah juga menjadi nilai yang tak terpisahkan dalam
keseharian.
Pesantren ramadhan
bukan sekadar rutinitas belaka di sekolah. Namun lebih ke bentuk aplikasi di
sekolah. Siswa diberi waktu yang cukup untuk menyelami nilai keagamaan.
Sehingga diakhir kegiatan bahkan pasca kegiatan, ada perubahan sikap dan
karakter yang diharapkan. Perubahan yang diharapkan tentu bisa dikorelasikan
dengan nilai pendidikan karakter yang selama ini diajarkan guru.
Selain itu, pendidikan
yang tepat bisa bersumber dari keteladanan. Siswa diarahkan kembali pada fungsi
keteladanan. Baik dari sifat dan karakter teladan Rasul maupun contoh dari guru
mereka. Kita bersama memahami bahwa akhlak rasulullah adalah al qur’an. Dengan
demikian, siswa dan guru bisa belajar lebih mendalam hakikat nilai dan
keteladanan. Intinya, pendidikan dalam pesantren ramadhan perlu bermuara pada
al qur’an dan hadist. Dari sumber itu, maka akan dapat digali lebih luas
pemahaman dan nilai karakter. Meskipun dalam kegiatan ramadhan bukan
serta-merta akan mengubah karakter siswa secara instan. Ini sekadar ikhtiar sekolah dan guru dalam
mendidikan karakter siswanya. Kurikulum terbesar yang kita jadikan rujukan
dalam pesantren ramadhan, tentu 2(dua) sumber di atas. Selain itu, keteladanan
yang diberikan oleh guru dan orangtuanya.
Metode pengajaran dalam
pesantren ramadhan bisa juga diformat lebih egaliter dan praktik. Pemahaman
terori saja tidak cukup dalam mengubah karakter siswa. Sehingga perlu langkah
kongkret ke aplikasinya. Guru perlu membuka wawasan pemahaman arti ibadah
kepada siswa. Sebab dalam ibadah yang kita lakukan bernilai pahala. Nah,
konteks ini yang perlu dipahamkan kepada siswa. Dalam keseharian pun siswa akan
diberi pahala(reward)jika ia
melakukan kebaikan, oleh guru. Begitu sebaliknya, sehingga nilai karakter itu
tumbuh dan berkembang, bukan saja pada saat pesantren ramadhan tapi juga dalam
keseharian.
Tukijo,
S.Pd
Langganan:
Postingan (Atom)