Rabu, 25 September 2013

Mengapa PNS dimasalahkan?

PNS(jangan)Suami Istri Menanggapi ttulisan Sdr. Muhammad Sahlan dari Tuban yang berjudul”PNS jangan Suami Istri”pantas diapresiasi. Jika niat mulianya untuk kemaslahatan umat di Indonesia, saya sependapat. Tapi yang lebih esensi bahwa rezeki(materi) bukan dari PNS saja. Allah Swt memberikan rezeki kepada manusia tidak pernah salah. Maka, jika ada sepasang suami istri kebetulan sama-sama sebagai PNS, menurut saya tidak masalah. Intinya mereka bekerja untuk bangsa juga. Jika ada anggapan bahwa PNS itu difasilitasi Negara mutlak dari gaji, kesejahteraan dan fasilitas lain, itu salah dan keliru. PNS itu dibayar oleh uang rakyat. Negara sekadar memfasilitasi saja. Jadi jika memang ada kemauan dan kemampuan seseorang untuk menjadi PNS, why not? Hidup itu sawang –sinawang terhadap yang lainnya. Maka jika sepasang suami istri sudah PNS harus melepas salah satunya, ini juga merampas hak hidup layak bagi orang lain. Menjadi PNS itu pilihan, menjadi profesi apapun itu pilihan hidup seseorang. Semua bergantung pada rasa syukur masing-masing. Kita tidak boleh “ngilani”rejeki seseorang hanya dari seragam, atau profesi. Saya yakin, masih banyak yang ingin menjadi PNS, terlepas dari suami istri atau bukan. Maka bagi saya, siapapun boleh mencari penghidupan layak, sepanjang proporsional dan bersyukur. Memang sudah ada perusahaan atau sekolah swasta yang memberlakukan peraturan, jika suami istri satu yayasan, maka salah satunya harus keluar. Sekarang muncul pertanyaan, apa goal dari dikeluarkanya salah satu pasangan?Mengeluarkan mereka sama saja merampas rezeki dalam genggaman seseorang. Maka, bagi saya menjadi PNS itu sah-sah saja. Yang penting semangat kerja dan tidak melakukan korupsi. Jika memang ada pangadangan menjadi PNS itu enak, silahkan saja semua berlomba menjadi PNS. Karena profesi apa pun selagi baik, pasti akan diberi kemurahan rezeki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar